• SAMAR-SAMAR LAGI MERAGUKAN

    syubhat
    Dalam kehidupan ini Allah telah menciptakan segala sesuatu yang memiliki hukum sendiri-sendiri. Islam sebagai agama yang benar dan diridhai oleh-Nya telah mengatur semua itu. Tidak hanya halal haram yang telah jelas diketahui, namun ada perkara samar-samar lagi meragukan yang disebut syubhat. Syubhat ini sangat berbahaya karena pelakunya tidak mengetahui apakah dirinya benar atau salah, justru menjeremuskan kepada yang haram. Hal tersebut telah Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan dan dinukil dalam salah satu hadits arba’in karya Imam An-Nawawi Rahimahullah,
    “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasukinya, maka lambat laun dia akan memasukinya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa dia adalah hati “. (HR. Bukhari dan Muslim)
    Betapa berbahayanya syubhat di kehidupan ini. Lihatlah salah satu kisah seorang tabi’in yang bernama Muhammad bin Sirin Rahimahullah atau biasa dipanggil Ibnu Sirin. Beliau adalah seorang tabi’in yang terkenal dengan keshalihannya dan berprofesi sebagai pedagang di pasar orang-orang Islam di Irak. Suatu hari, datang seorang pedagang dari kota non-muslim yang menawarkan dagangan berupa keju kepada Ibnu Sirin untuk dijual kembali di pasar tersebut. Satu pasar mengetahui kalau Ibnu Sirin adalah seorang alim ulama sehingga apabila dia membeli suatu barang dagangan, semua orang akan membeli pada Ibnu Sirin karena jelas kualitasnya. Keuntungan yang dapat diraih apabila Ibnu Sirin menjual kembali keju tersebut adalah 40.000 dirham. Jumlah yang banyak tentunya pada saat itu.
    Namun, apa kata Ibnu Sirin?
    “Apakah kau bisa menjamin kejumu ini halal?”
    Lantas pedagang keju menjawab,
    “Ya Ibnu Sirin, ini keju. Susu dikeringkan ditambah garam.  Apa masalahnya?”
    Ibnu Sirin menjawab,
    “Tidak demi Allah. Keju yang diproduksi di wilayah non-muslim mungkin telah dicampur dengan susu hewan-hewan haram. Apabila kamu bisa menjamin kalau ini halal dan bertanggung jawab di hadapan Allah hari kiamat, saya akan beli.”
    Orang tersebut tidak bisa menjaminnya dan gagal lah transaksi tersebut. Seluruh pasar heboh karena Ibnu Sirin menolak keuntungan 40.000 dirham.
    Di kemudian hari, datang seseorang membeli barang di tempat Ibnu Sirin seharga 2 dirham. Karena asyik mengobrol, orang tersebut ingin pergi tetapi belum membayar.
    Maka Ibnu Sirin mencegah dan berkata,
    “Saudaraku, barang yang kau ambil belum dibayar”.
    Orang tersebut membantah, “Saya sudah bayar”.
    “Belum demi Allah, kembalikan barang itu ke tempatnya atau bayar 2 dirham”, kata Ibnu Sirin.
    Karena malu dengan orang-orang pasar yang mulai berkumpul, orang tersebut membayar lalu pergi dari toko Ibnu Sirin. Masyarakat bingung dengan apa yang dilakukan Ibnu Sirin. Kemarin dia meninggalkan keuntungan 40.000 dirham karena syubhat, dan sekarang bersumpah atas nama Allah demi 2 dirham. Tidak masuk di akal sama sekali.
    Kata Ibnu Sirin dengan penuh ketegasan, “Iya demi Allah. Saya akan bersumpah atas nama Allah karena saya tahu dia belum bayar. Dia akan makan sesuatu yang haram dan Allah akan menghukum saya karena membiarkan dia melakukannya.”
    Subhanallah, seorang yang mengenal Tuhannya akan sangat berhati-hati dengan apa yang dilakukan. Tidak penting besarnya suatu keuntungan karena semua rezeki datangnya dari Allah dan hanya Dia lah yang berhak mengaturnya. Syubhat pun ditinggalkan karena takut dengan ancaman Allah. Kita sebagai seorang muslim yang ilmunya jauh dari kalangan sahabat dan tabi’in harus lebih berhati-hati dalam menyikapi perkara-perkara yang meragukan. Apabila kita mendapatinya, sebaiknya menjauhi karena kita tidak tahu dari celah mana keharaman itu ada. Ingatlah bahwa sesuatu yang haram akan menghalangi kita dari terkabulnya doa. Semoga Allah selalu menjauhkan kita dari perkara-perkara syubhat yang senantiasa menyambar-nyambar.

Leave a Reply