• UDAH, TENANG ADA ALLAH

    yakin-kepada-allah-merupakan-nik

    berdoa jangan putus asa

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Segala puji bagi Allah, yang Maha Kaya, Maha Memberi, dan Maha Mengetahui Isi Hati. Hamba yang baik hanya menuntut segala sesuatunya kepada Allah, bukan kepada makhluk. Banyak dari kita yang menginginkan harapannya terwujud, namun lupa pada sesuatu yang paling penting yaitu berdoa kepada Allah. Dia Allah sesungguhnya tidak bergantung pada sesuatu dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Bahkan seluruh makhluk lah yang butuh kepada-Nya.

    Ada suatu perkataan orang-orang shalih terdahulu yang masyhur.

    “Selalu meminta lah kepada Dzat yang akan marah apabila kamu tidak meminta kepada-Nya.”

    Hal tersebut berbanding terbalik apabila kita meminta kepada manusia. Sebagian dari mereka akan menolak bahkan marah apabila kita meminta sesuatu.

    Kita pun kadang putus asa apabila permintaan kita tidak kunjung terwujud sehingga banyak prasangka buruk yang muncul kepada Allah. Sikap seperti ini seharusnya tidak ada dalam diri seorang muslim.

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

    Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).

    Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus huznuzhon kepada Allah dan memiliki sikap roja‘ (harap) pada-Nya.

    Di lain sisi, Allah ingin melihat kita terus berdoa dan merengek pada-Nya. Mungkin inilah salah satu cara kita untuk dekat dengan-Nya. Tidak ada doa yang tertolak karena semua doa akan kembali. Berbahagialah karena doa yang belum Allah kabulkan akan menjadi bekal pahala seorang hamba pada hari kiamat.

    Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits,

    “Dari Abu Said bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apabila seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung unsur dosa atau pemutusan silaturahmi melainkan Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga hal, yaitu; (1) Allah akan menyegerakan pengabulan doanya, atau (2) Allah menjadikannya sebagai simpanan baginya di akhirat, atau (3) Allah menghilangkan daripadanya keburukan yang semisalnya”. (HR. Ahmad III/18 no.11149. dan hadits ini derajatnya Hasan Shohih sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih At-Targhib wa At-Tarhib II/128 no.1633).

    Kenyataan yang ada sekarang adalah bahwa kebanyakan manusia hanya meminta kepada Allah pada sesuatu yang darurat seperti terkena musibah, atau dalam kondisi yang sulit. Alangkah baiknya apabila kita memohon kepada Allah pada segala kondisi, seperti yang dilakukan oleh para sahabat -radhiyallahu anhum-. Apabila sendal mereka putus pun, mereka mengangkat tangan ke langit seraya memohon pada Allah, “Ya Allah, sendal saya putus, gantikanlah”.

    Begitu dekat dan yakinnya mereka kepada Allah. Tidakkah kita berniat untuk mencontoh mereka? sebab beberapa keinginan tidak terkabul adalah kita tidak seyakin itu kepada Allah. Kita masih meragukan Allah dan terlalu percaya pada kemampuan sendiri. Padahal tidak ada sesuatu yang ada di langit dan di bumi kecuali merupakan kehendak-Nya. Pantaskah kita bersifat angkuh sementara Allah malu untuk menolak permintaan hamba-Nya? Berhentilah terlalu berharap pada makhluk dan mulai curahkan segala permasalahan dan keinginan kita kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu dekat dan senantiasa menunggu permohonan manja dari hamba-Nya.

    Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia. (Ali bin Abi Thalib -Radhiyallahu Anhu-)

Leave a Reply