• Haruskah Ikhtilath?

    Ikhtilath atau campur baur antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram sangat dilarang dalam agama Islam. Terlalu banyak urusan di dunia ini yang melibatkan laki-laki dan perempuan tanpa ada pembatas bahkan bercampur baur. Campur baur tersebut paling banyak terjadi di kalangan muda tak terkecuali kehidupan kampus. Seandainya kita pergi ke suatu tempat seperti mall, kantin, pantai, pasar atau tempat rekreasi, apa yang kita lihat? Ikhtilath! Ikhtilath dimana-mana. Hal-hal seperti ini seolah remeh di mata kita. Padahal hal-hal yang remeh inilah yang menjurus kepada kemaksiatan yang lebih besar. Kita bahkan telah mengetahui bahwa hal pertama dari zina berasal dari pandangan dan pandangan berasal dari tidak adanya batas antara laki-laki dan perempuan. Lalu ditambah syaitan yang selalu menghiasi setiap pandangan kita dengan anak panahnya. Sekuat apapun hati menahan, godaan akan tetap ada selama pintu masih terbuka.

    Lihatlah bagaimana adab ketika para sahabat Nabi ingin menemui istri Nabi (ummahatul mukminin). Disebutkan dalam ayat,

    “Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al-Ahzab: 53)

    Para sahabat kemudian melakukan seperti yang Allah sebutkan dalam ayat diatas. Bagaimana dengan kita? Setinggi apakah keimanan kita dibandingkan dengan para sahabat -radhiyallahu anhum-? Hal kecil pun mereka hindari sebagaimana Allah larang.

    Kemudian timbul pula persepsi yang salah bahwa memisahkan laki-laki dan perempuan menghambat perkembangan, ribet, dan tidak efisien. Ketahuilah bahwa Nabi -Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam- beserta para sahabatnya berhasil memajukan umat Islam dengan sistem tidak ikhtilath. Tidak ada yang ribet, tidak ada yang aneh. Justru timbul ketenangan jiwa apabila kita mengikuti apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya sampaikan. Berbanggalah menjadi orang yang ‘dianggap’ aneh dan asing, sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

    “Islam pada awalnya asing dan akan kembali asing kelak sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang (dianggap) asing” (HR. Muslim no.145)

    Ikhtilath adalah suatu bencana. Ikhtilath adalah suatu fitnah. Apapun bentuknya hal tersebut adalah suatu kemungkaran yang harus ditinggalkan selama itu bukan sesuatu yang mendesak. Tidak ada salahnya kan? laki-laki dan perempuan terpisah?.  Bersabar untuk menahan pandangan itu lebih mudah daripada bersabar menanggung kepedihan setelahnya. Sebagai muslim kita harus selalu waspada dan menghindari hal-hal syubhat yang banyak terjadi saat ikhtilath. Siapa yang bisa menjamin kita tidak tertarik kepada lawan jenis saat campur baur? Siapa juga yang bisa mengontrol pandangan yang menatap tanpa rasa malu? Sesungguhnya hati ini lemah dan mudah terpengaruh oleh hal-hal buruk. Maka sangat penting untuk selalu meminta perlindungan dari Allah, Dzat yang Maha Membolak-balikan Hati.

    Setiap kejadian berawal dari pandangan,

    dan api yang besar itu berasal dari percikan api yang dianggap kecil
    Berapa banyak pandangan mata itu mencapai ke hati pemiliknya,

    seperti menancapnya anak panah di antara busur dan tali busurnya
    Selama seorang hamba membolak-balikkan pandangannya menatap manusia,
    dia berdiri di atas bahaya
    (Pandangan adalah) kesenangan yang membinasakannya, hujaman yang memu-dharatkan.
    Maka tidak ada ucapan selamat datang terhadap kesenangan yang justru mendatangkan bahaya.
    (Ad-Da’a wad Dawa`, hal. 234)

    Referensi dalil:

    https://muslimafiyah.com/bagaimana-berinteraksi-dengan-lawan-jenis-di-dunia-nyata-maupun-maya.html

    https://muslimah.or.id/2480-kehormatanmu-wahai-saudaraku-4.html

    https://rumaysho.com/14887-dosakah-campur-baur-lawan-jenis-di-pasar-kampus-dan-rumah-sakit.html

Leave a Reply