• PRESS RELEASE Dauroh ke-LDK-an

    “All about LDK Al Hurriyyah and FSLDK”

    Hari, tanggal   : Ahad, 11 Februari 2018

    Waktu             : 08.00-11.30 WIB

    Tempat            : Ruang Abu Bakar, Masjid Al Hurriyyah

     

    Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, begitu kata bung Karno, karena di dalam sejarah terdapat banyak hikmah yang dapat dijadikan pelajaran di masa sekarang. Dauroh ke-LDK-an yang merupakan rangkaian dari Upgrading LDK Al Hurriyyah 1439 H dilaksanakan dengan tujuan untuk mengenalkan sejarah terbentuknya LDK Al Hurriyyah dan Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia kepada pengurus LDK Al Hurriyyah 1439 H. Kegiatan yang dihadiri oleh … peserta ikhwan dan … peserta akhwat dibuka pada pukul 08.30 WIB dengan di awali tasmih oleh salah satu peserta bernama Ikhwan Khaerul Umam. Tasmih Surah Ash-shaaf yang dibacakan dengan merdu dan diikuti oleh seluruh peserta dauroh semoga menjadi pintu keberkahan dari acara ini. Setelah dibacakan tasmih, peserta diminta berhadap-hadapan guna saling mengecek hafalan yang ditugaskan.

    Pukul 09.00 WIB, Oktama Forestrian yang merupakan pengurus aktif DKM Al Hurriyyah dan ketua pertama LDK Al Hurriyyah IPB hadir sebagai pembicara pertama yang akan mengupas tuntas mengenai sejarah terbentuknya LDK Al Hurriyyah dan tantangannya saat ini. Beliau memaparkan materi dengan di awali sejarah singkat masjid Al Hurriyyah IPB yang dibagi menjadi tiga versi.

    • Versi pertama, Masjid Al Hurriyyah dibangun tahun 1968 bersama dengan pindahnya Fakultas Kehutanan ke Kampus IPB Dramaga dengan ukuran kecil seperti mushalla. Saat ini bangunan mungil tersebut telah digunakan menjadi rumah dinas ketua DKM Al Hurriyyah.
    • Pada versi kedua, masjid Al Hurriyyah kembali dibangun tahun 1992 dengan ukuran sedikit lebih besar dan memiliki kapasitas sekitar 1000 orang.
    • Karena jumlah civitas IPB yang terus meningkat, maka pada versi ketiga menyebutkan tahun 1997 kembali dibangun masjid Al Hurriyyah yang mampu menampung sekitar lima ribu orang dengan tidak merobohkan bangunan sebelumnya. Lalu, kemana kah bangunan masjid sebelumnya yang mampu menampung 1000 orang tersebut? Bangunan tersebut kini beralih fungsi menjadi Aula yang sering digunakan untuk kegiatan kajian dan lain-lain.

    Jika masjid Al Hurriyyah baru dibangun setelah berpindahnya Fakultas Kehutanan di Dramaga, maka LDK sudah terbentuk sejak IPB masih terletak di Baranangsiang. LDK atau lembaga intra kampus yang bergerak di bidang keislaman saat itu bernama Badan Kerohanian Islam (BKI) dengan pusat kegiatan keislaman di masjid Al Ghiffari. Setelah dibangunnya masjid Al Hurriyyah di kampus Dramaga, maka lembaga yang bergerak di bidang keislaman mahasiswa kembali dibentuk saat itu bernama Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM). Selain terbentuk BKIM, terbentuk pula kepengurusan DKM (Dewan Kemakmuran Masjid)  Alhurriyyah IPB yang berfungsi untuk menghidupkan dan memakmurkan masjid Alhurriyyah. Pengurus DKM Al Hurriyyah tersebut terdiri dari dosen, tenaga kependidikan, dan alumni IPB yang telah disahkan melalui SK Rektor yang kemudian dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh mahasiswa. Mahasiswa yang tergabung dalam DKM Al Hurriyyah diwadahi melalui Badan Pelaksana Program Harian (BP2H) dengan fokus pada ranah syiar dan Badan Pengurus Rumah Tangga (BPRT) yang fokus dalam mengurus fisik masjid. Lalu, kapan mulai terbentuknya LDK Al Hurriyyah?

    Kisah tentang terbentuknya LDK Al Hurriyyah menurut kak Okta berawal dari munculnya FSLDK Nasional di era reformasi pada tahun 2007. Lembaga yang dapat bergabung menjadi anggota FSLDK Nasional adalah lembaga kemahasiswaan, bukan lembaga masjid. Saat itu, satu-satunya lembaga dakwah kemahasiswaan yang diakui oleh FSLDK adalah BKIM IPB yang merupakan UKM di bawah Direktorat Kemahasiswaan IPB.  Mengetahui informasi tersebut, kak Okta dan mahasiswa lain yang tergabung dalam kepengurusan BP2H DKM Al Hurriyyah IPB membentuk Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al Hurriyyah IPB yang mewadahi mahasiswa yang ingin bersama-sama bergerak dalam syiar Islam. Alasan lain yang menjadi latar belakang terbentuknya LDK Al Hurriyyah adalah adanya ambiguitas pada kepengurusan DKM Al Hurriyyah. Meski pengurus DKM Al Hurriyyah banyak, namun seringkali hanya BP2H yang dianggap sebagai pengurus DKM sehingga memunculkan ketidak fokusan dalam menjalankan tugas. Atas dasar hal tersebut, maka dibentuklah LDK Al Hurriyyah agar lebih fokus dalam menjalankan syiar Islam. Setelah terbentuk kepengurusan, selanjutnya LDK Al Hurriyyah bergabung dalam Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Nasional (FSLDKN) agar syiar Islam dapat dilakukan lebih luas ke seluruh Indonesia.

    Kak Okta mengatakan, tak ada sumber tertulis yang mampu dijadikan rujukan untuk mengetahui sejarah masjid Al Hurriyyah dan awal mula terbentuknya organisasi dakwah di IPB. Hal ini menjadi tantangan bagi LDK Al Hurriyyah jika ingin mengetahui sejarahnya secara lengkap. Pun kak Okta menyarankan agar sejarah ini dapat dituliskan dan dibukukan sehingga dapat diwariskan di masa mendatang dan memudahkan para penerus ketika ingin mengetahui sejarah Al Hurriyyah secara lengkap.

    Waktu terus berjalan, dunia terus berkembang, dan perubahan adalah suatu keniscayaan, termasuk dalam dunia Islam dan dakwah. Perubahan zaman telah melahirkan tantangan tersendiri bagi aktivis dakwah untuk berkembang dan kreatif dalam membumikan Islam. Menurut kak Okta selaku pemateri menyebutkan bahwa tantangan bagi LDK sebagai lembaga dakwah adalah sebagai berikut:

    1. leader seed spreader

    Salah satu jalur masuk menjadi mahasiswa IPB yakni jalur undangan yang mencari bibit terbaik dari sekolah-sekolah di setiap daerah, dan nantinya mahasiswa tersebut akan kembali ke daerahnya, maka LDK bertugas untuk mewarnai mereka dengan nuansa Islam sehingga mereka mampu menyebarkannya ketika kembali ke daerahnya. Dengan begitu penyebaran dakwah Islam semakin masif.

    1. Persiapan kebangkitan umat.

    Umat Islam Indonesia saat ini berada pada level lembah. Hal ini perlu  diantisipasi agar kondisi Islam tidak semakin memburuk, meski Allah sudah berjanji bahwa islam akan menang suatu saat nanti. Dalam hal ini LDK berperan untuk menjadi salah satu poros kebangkitan umat Islam yang bertugas:

    • Membangunkan ruhiyah, karena ruhiyah merupakan sumber kekuatan yg hakiki.

    Umat Islam saat ini banyak yang berstatus Islam namun kondisi ruhiyahnya tertidur. Maka tugas LDK sebagai lembaga dakwah keislaman untuk membangunkannya,  membuat mereka yang malas menjadi rajin beribadah seperti shalat berjamaah, tilawah, puasa sunnah, dan ibadah lainnya. Maka untuk mendukung hal tersebut, LDK sebaiknya fokus pada kegiatan yang mampu membangkitkan ruhaniyah Islam seperti training shalat sempurna, buka shaum bersama, latihan memandikan jenazah, dan kegiatan sejenis. Kajian-kajian yang membawa politik dan lainnya biarlah menjadi tugas BEM, karena lembaga dakwah sebaiknya fokus pada pembangkitan ruhiyah.

    • Membangkitkan fikroh, yakni dengan merubah pola pikir.

    Banyak yg berbicara mengenai Islam, namun pemahaman mengenai keislaman kurang komprehensif. Dengan kondisi tersebut, maka tugas LDK untuk senantiasa memberikan gambaran mengenai dunia keislaman secara komprehensif dengan cara kreatif seperti melalui rangkuman ceramah, video Islam, tweet membangun, atau cara kreatif lainnya.

    • berlatih dakwah di masyarakat dengan kondisi yang heterogen.

    karena medan dakwah yang sebenarnya adalah masyarakat dengan pola pikir dan perilaku yang bermacam-macam. Maka untuk menghadapi medan dakwah yang sebenarnya dibutuhkan latihan sejak dini dengan lingkup mahasiswa. Tak perlu takut salah ketika akan melangkah, namun khawatirlah ketika bukan ridho Allah yang dicari. Pun menurut ka Okta, dalam berdakwah LDK tidak harus selalu melakukan kegiatan yang sebelumnya sudah ada, namun lihatlah sesuai dengan kebutuhannya.

     

    Melihat kondisi Islam saat ini dengan adanya tantangan-tantangan di atas, maka kak Okta menyarankan kepada LDK Al Hurriyyah 1439 agar berfokus pada pembenahan bidang-bidang dibawah ini:

    1. Media : manfaatkan semua lini media yang ada saat ini seperti youtube, twitter, line, facebook, whatsapp, dan platform media sosial yang lainnya. Munculkan kreativitas dalam penyebaran syiar Islam agar dapat menyentuh seluruh kalangan. Perlu ada tim khusus dalam melakukan program in.
    2. Peringatan Hari Besar Islam (PHBI). Munculkan kembali kegiatan-kegiatan yang bersifat biasa di masyarakat seperti peringatan tahun baru Islam, Isra Mi’raj, dan hari besar lainnya.
    3. Pendanaan : LDK harus mandiri finansial, meski mendapatkan support dana dari DKM, namun tetap harus memunculkan cara kreatif untuk memperoleh dana sendiri.

    Materi pertama ditutup dengan pertanyaan yang diajukan oleh Fitri Suminar Megantara yang bertanya mengenai kejelasan tupoksi LDK, apakah hanya lembaga eventual  atau bagaimana? Lalu bagaimana pembagian tupoksinya dengan BKIM yang notabene sama-sama lembaga dakwah di IPB? “Adanya LDK,” tutur kak Okta sebagai pembicara, “adalah untuk bisa tergabung dalam FSLDKN supaya dakwah IPB juga berperan dalam mewarnai penyebaran dakwah di tingkat nasional. Selain itu,” lanjut kak Okta, “LDK juga berperan dalam mewarnai dakwah pada civitas IPB yang lebih luas mengenai dunia Islam. Tupoksi antara LDK, LPQ, Birena, dan ISC jelas sangat berbeda. LDK tidak memiliki tupoksi khusus seperti LPQ, Birena, dan ISC, namun LDK turut andil pada bagian yang tidak diambil oleh lembaga lainnya. Jika dikaitkan dengan BKIM, BKIM sudah dikenal masyarakat berafiliasi pada HTI, namun bukan berarti LDK dan BKIM meributkan perbedaan ini. Dakwah ini integral, maka bersatulah demi kemaslahatan umat. Tak perlu ribut dan mempermasalahkan perbedaan.  Adanya perbedaan akan membuat musuh Islam semakin bahagia. Jika ada hal yang sudah dikerjakan BKIM, maka sebaiknya LDK tak perlu mengerjakannya. Namun jika ada hal yang seharusnya dikerjakan namun tak ada yang mengerjakan, bersiaplah LDK yang mengerjakan. Lagi-lagi ditekankan, tak usah berebut dan tak usah dipermasalahkan.

    Mengupas tentang sejarah memang tak pernah singkat kisahnya. Maka untuk menyegarkan pikiran sebelum mengupas perjalanan FSLDK di materi berikutnya, peserta disegarkan dengan ice breaking yang dibawakan oleh MC yakni dengan bergantian pijat memijat punggung saudaranya. Karena sejatinya punggung itulah yang sedang memikul beratnya amanah dakwah hingga nanti.

    Setelah badan dan pikiran terasa segar, Rohmi Rohmanudin selaku ketua FSLDK Priangan Barat sebagai pemateri kedua bersiap menyuguhkan kisah perjalanan FSLDK Indonesia dari dulu hingga saat ini.

    “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang teratur” (QS. As-Saff: 4)

    Bermula dari ayat tersebut, bahwa umat Islam harus berada dalam barisan yang teratur agar menjadi bangunan yang kokoh, maka FSLDK hadir menjadi rumah ukhuwah yang mewadahi silaturrahmi antar lembaga dakwah se Indonesia. Rohmi menuturkan bahwa dakwah kampus adalah “Dakwah ammah wa harakatu dzohiro”  yang artinya dakwah yang umum dan pergerakannya sangatlah nampak dan LDK hadir bukan untuk golongan tertentu tapi untuk semua ummat.

    Perjalanan FSLDK menurut Rohmi dimulai dengan berkumpulnya pemuda-pemuda di masjid hingga kemudian terbentuk LDK. Seiring berjalannya waktu, LDK mulai tumbuh di beberapa kampus. Lain kampus, maka lain pula tantangan dan permasalahannya. Medan dakwah antara kampus yang satu dengan yang lain pun berbeda ditambah dengan melemahnya gerak dakwah secara global, maka di perlukan adanya suatu jalinan koordinasi yang baik di antara lembaga dakwah kampus yang ada demi terciptanya   kekuatan   gerak   dakwah   yang   terpadu,   kokoh, laksana   satu bangunan yang saling menguatkan.

    Hal tersebutlah yang menjadi alasan terbesar lahirnya sebuah koordinasi dakwah yang bernama FSLDK sebagai salah satu bentuk koordinasi dakwah yang berfungsi sebagai sarana bagi terciptanya gerak dakwah yang teratur, terpadu, dan kompak  menuju ummatan wahidah. Forum Silaturrahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) atau yang semula bernama Sarasehan LDK yang diselenggarakan oleh Jama’ah Shalahuddin UGM pada tanggal 14 -15 Ramadhan 1406 atau 24 – 25 Mei 1986 kini berkembang pesat hingga saat ini. Dengan alasan Ukhuwah Islamiyah lah yang menjadi dasar mengapa ikatan ini terus terjalin hingga kini.

    Berdasarkan penuturan Rohmi, berikut adalah perjalanan jejak FSLDK Indonesia

    1. FSLDK I(UGM, 25-26 Mei 1986)
    2. FSLDK II (ITB, 2-4 Januari 1987)
    3. FSLDK III (UNAIR, 13-16 September 1987)
    4. FSLDK IV (UNS, 3-6 September 1988)
    5. FSLDK V (IKIP Malang, 15-19 September 1989)
    6. FSLDK VI (IKOPIN Jatinangor –Bandung, Oktober 1990)
    7. FSLDK VII (UNHAS, Desember 1991)
    8. FSLDK VIII (BAI UNDIP, 6-11 September 1993)
    9. FSLDK IX (UNISBA, 1995)
    10. FSLDK X (UMM, 25-29 Maret 1998)
    11. FSLDK XI (UI, 20-24 Juli 2000)
    12. FSLDK XII (UNAND, 25-29 Juli 2002)
    13. FSLDK XIII(UNMUL, 19-25 Juli 2004)
    14. FSLDK XIV UNILA, Juli 2007)
    15. FSLDK XV (Universitas Pattimura, Maret 2010)
    16. FSLDK XVI/ IMSS (GAMAIS ITB, 2012)
    17. FSLDK XVII (Universitas TanjungPura Pontianak, 22 – 02- 2015
    18. FSLDK XVIII UNRI 2017

     

    Jika pemateri sebelumnya yakni kak Okta telah menyampaikan tantangan bagi LDK sebagai lembaga dakwah masa kini menurut pandangan beliau, maka Rohmi juga menuturkan tantangan bagi umat Islam di Indonesia saat ini dan apa peran LDK di dalamnya. Berikut adalah tantangan umat Islam Indonesia saat ini menurut Rohmi,

    1. Tahun Politik,

    Kontestasi politik di Indonesia akan berlangsung tahun ini dan tahun depan, maka LDK berperan dalam menggiring masyarakat agar memilih pemimpin yang baik.

    1. Solidaritas muslim di tindas

    Telah kita saksikan sejak beberapa tahun silam hingga saat ini, kondisi umat Islam Palestina terus mengalami penindasan. Solidaritas masyarakat Indonesia terhadap rakyat Palestina seringkali dijadikan bahan ejekan. Mengapa kita sibuk mengurus negara lain padahal negara sendiri masih membutuhkan bantuan? Namun Rohmi menjelaskan bahwa Palestina adalah negara pertama setelah mesir yang mengakui kemerdekaan Indonesia dan menyerahkan asetnya untuk membantu Indonesia saat itu. Maka sudah sewajarnya kita selalu membantu Palestina ketika mereka membutuhkan bantuan.

    1. Kriminalisasi aktivis dan ulama
    2. Merebaknya deislamisasi
    3. Pra eksekusi umat
    4. Ekonomi umat

     

    Waktu telah menunjukkan pukul 11.20 WIB. Beberapa penyampaian materi di atas menjadi penutup dari materi mengenai sejarah FSLDK Nasional. Acara dilanjutkan dengan penyampaian beberapa pengumuman oleh Muhammad Fudoli selaku ketua upgrading LDK Alhurriyyah 1439 H. Agar menambah keberkahan dan kebermanfaatan, selanjutnya acara dauroh ke LDK an ditutup dengan doa yang dibawakan oleh Triadi Aulia Rahman selaku ketua LDK Al Hurriyyah 1439H. Panitia berharap, semoga acara dauroh ini dapat menambah asupan fikriyah bagi peserta dan menambah kecintaannya pada lembaga yang sedang dinaunginya, yakni LDK Al Hurriyyah.

    “Dakwah ini berat, jangan sendirian, kamu tak akan kuat. Bersatulah, agar kita kuat melawan musuh-mush Islam” (Bukan Dilan)

     

     

     

     

     

    Bogor, 16 Februari 2018

    Panitia Upgrading LDK Alhurriyyah 1439H

Leave a Reply