• Mbah Untung

    Namanya Mbah Untung. Nama mungkin saja harapan. Harapan agar kelak menjadi kenyataan, meski tak selalu demikian. Jangan tebak-tebak bagaimana jalan hidupnya atau seberapa sering keberuntungan yang ia dapatkan. Kalian hanya perlu tahu nama kakek yang tinggal dalam gubuk reot itu, Mbah Untung.

    Mbah Untung dikaruniai seorang cucu perempuan. Namanya Lastri. Lastri yang malang, meski telah menginjak kelas 6 SD badannya terlihat seperti anak kelas 2 SD. Kurus kering dan pendek. Mungkin karena ia jarang makan daging. Hanya sekali dalam setahun ketika idul Adha. Maka ketika hari itu hampir datang, mereka seumpama rakyat yang menjemput raja. Mempersiapkan diri sebaik mungkin.

    Dipecahnya celengan Lastri dan dikumpulkan koin demi koin. Menyusun dan menghitung. Ia berlari kencang ke pasar mengenggam kantung uang. Membeli tusuk sate dan arang. Lastri mencium keduanya bak aroma daging yang dibakar. Lantas ia menunjuk aneka bumbu. Membungkus semuanya dan membawa pulang dengan hati riang. Melewati matahari yang kasar menyengat. Juga debu jalan yang terbang pertanda gersang. Lastri tak peduli. Ia dipenuhi pikirannya sendiri bahwa sebentar lagi ia akan tumbuh tinggi dan gemuk setelah memakan daging.

    Setelah sholat Ied, Mbah Untung merapihkan arang di atas tungku. Lastri meracik bumbu dan kecap. Bayang-bayang aroma daging semakin kuat. Mereka hanya perlu menunggu siang. Menyambut seseorang mengetuk pintu gubuk mereka dan menyerahkan sekantong warna hitam berisi daging sapi atau kambing. Sapi atau kambing, keduanya tak masalah bagi Lastri dan Mbah Untung.

    Matahari telah melewati garis lurus ubun-ubun. Arang telah menyala merah garang. Daging tak kunjung datang.

    Matahari tergelincir ke barat. Agaknya Mbah Untung dan Lastri mulai khawatir. Arang mulai menjadi abu. Kecap dan bumbu dikerumuni semut dapur.

    Malam mencekik. Kecewa mulai mengoyak perut. Menimbulkan gemuruh lapar dan harapan yang pupus.

    Sepertinya Mbah Untung dan  Lastri lupa. Ini musim paceklik. Rumput tumbuh kering. Tanah retak-retak haus air. Kambing dan sapi sulit diternak. Hanya masjid-masjid besar di kota yang menyembelih kambing dan sapi. Sementara desa mereka sepi.

    Mbah Untung dan Lastri juga lupa, ia berharap kepada siapa. Bukan kepada Allah, Tuhannya. Hanya kepada manusia. Manusia yang membawa segenggam kantong berisi daging sapi atau kambing. Maka jika manusia disandarkan oleh harapan, bersiap-siaplah untuk kecewa.

    Sudah ku bilang, nama tak selalu sesuai kenyataan. Tapi kali ini Mbah Untung sedikit beruntung. Ia hanya mengharapkan daging, manusia di luar sana berharap lebih besar dari sekadar daging. Mereka berharap kekayaan pada gunung, kecantikan pada mata air, kenaikan jabatan pada dukun, jodoh pada paranormal. Naudzubillah.  (Mega)

    Post Tagged with , ,

Leave a Reply