• Sesama Muslim adalah Saudara

    Sesungguhnya orang-orang  mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

    [QS. AL-Hujuraat : 10]

     

         Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa sesama muslim, sesama mu’min  adalah bersaudara.  Bukan saudara yang diikat dengan nasab keturunan, melainkan persaudaraan dengan iman dan islam sebagai pengingatnya. Persaudaraan yang kekal bahkan hingga akhirat kelak.  Walaupun berbeda nasab, suku bangsa, bahasa maupun warna kulit asalkan orang tersebut adalah orang muslim atau orang yang beriman, maka orang tersebut adalah saudara kita.

         Bukti kuatnya persaudaraan karena iman adalah persaudaraan antara Suku Aus dan Kharaj di Madinah. Meski keduanya bermusuhan bahkan saling berperang selama bertahun-tahun, setelah memeluk Islam keduanya hidup sebagai saudara yang rukun dan damai. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imraan : 103 tentang pentingny menjaga ikatan persaudaraan sebagai berikut : 

         Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang orangy ang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

         Namun, menjaga ikatan persaudaraan tidaklah mudah, syaithan tidak pernah senang melihat kerukunan kaum muslimin, yang hidup tenteram, rukun dan damai. Sehingga syaithan akan senantiasa melakukan segala cara untuk mengacaukan kekuatan persaudaraan muslim. Kekacauan  yang mereka buat di antara sesama muslim adalah saling memperolok-olok, menghina, mengadu domba, tersebarlah berita-berita bohong dan fitnah-memfitnah, pertengkaran, permusuhan, bahkan sampai terjadi peperangan. 

         Dari Jabir, ia berkata : Saya mendengar Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya syaithan telah berutus-asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di Jazirah ‘Arab ini, tetapi syaithan berusaha mengadu domba dan menebarkan permusuhan diantara mereka (kaum muslimin)”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2166]

         Oleh karena itu Allah SWT menuntunkan kepada kita, apabila mendengar kabar atau berita negatif yang menjelek-jelekkan saudara kita sesama muslim, agar mendahulukan prasangka baik terhadap saudara kita dan jangan mudah percaya begitu saja, Allah SWT berfirman : 

         (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (15) Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu, “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” [QS. An-Nuur : 15-16]

         Kemudian kita diperintahkan supaya tabayyun yakni bertanya langsung untuk memastikan kebenaran dari berita yang kita dengar agar tidak terjadi salah paham, Allah SWT berfirman :

         Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu mushibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. [QS. Al-Hujuraat : 6] 

         Allah SWT membenci seseorang yang menyebarkan berita yang sumbernya tidak jelas, hanya sekedar mendengar ‘katanya-katanya’ seperti dalam hadits disebutkan bahwa:

         Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah senang pada kalian tiga hal, dan benci pada kalian tiga hal. 1) Allah senang pada kalian bahwa kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan- Nya dengan sesuatu. 2) Allah senang bahwa kalian semua berpegang teguh kepada tali Allah,dan 3) Allah senang kalian tidak bercerai-berai. Dan Allah benci kepada kalian tiga hal. 1) Allah benci pada kalian “Katanya dan katanya”,
         2) Allah benci kalian banyak bertanya (yang tidak diamalkan), dan 3) Allah benci kalian menyia-nyiakan harta”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1340]

         Allah SWT juga tidak menyukai sese orang yang kesana-kemari menyebarkan fitnah bohong dan berbuat namimah, seperti dalam firmanNya:  

         Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian-kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu yang terkenal kejahatannya. [QS. Al-Qalam : 10-13]  

         Akibat dari permusuhan dan peperangan adalah pertumpahan darah padahala jelas sesama muslim adalah haram darahnya, hartanya dan kehormatannya : 

         Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling bersaing yang tidak sehat, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, janganlah seseorang diantara kalian menawar tawaran orang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Orang Islam itu saudaranya orang Islam yang lain. Tidak boleh berlaku dhalim kepadanya, tidak boleh membiarkannya (dengan tidak mau menolongnya), dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu di sini”. Beliau sambil mengisyaratkan ke dadanya, tiga kali. “Cukuplah seseorang itu berbuat jahat apabila ia merendahkan saudaranya orang Islam. Setiap orang Islam terhadap orang Islam yang lain adalah haram darahnya, harta bendanya dan kehormatannya. [HR. Muslim juz 4, hal. 1986] 

         Jangankan pertumpahan darah, cukuplah seseorang berbuat jahat apabila merendahkan saudaranya sesama muslim seperti firman Allah SWT :

         Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (memperolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang memperolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) fasik (kepada orang-orang yang) sudah beriman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim. [Al-Hujuraat : 11]  

         Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebahagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu mempergunjingkan sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Maka tentulah kamu merasa jijik terhadapnya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [Al-Hujuraat : 12]

    Dan dalam hadits Rasulullah SAW disebutkan :

         Dari Abu Hurairah, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda,“Jauhkanlah diri kalian dari berprasangka (buruk), karena prasangka (buruk) itu adalah sedusta-dusta perkataan (hati), janganlah kalian mendengar-dengarkan (pembicaraan orang lain) dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kalian bersaing yang tidak sehat, janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling membenci dan janganlah saling membelakangi. Dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1985] 

         Dari Salim dari ayahnya, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Orang Islam itu saudaranya orang Islam yang lain, maka tidak boleh ia menganiayanya dan tidak boleh membiarkannya (dengan tidak mau menolongnya). Barangsiapa yang menolong kebutuhan saudaranya, maka Allah akan menolong kebutuhannya. Dan barangsiapa yang meringankan satu kesusahan orang muslim, Allah akan meringankan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahannya pada hari qiyamat. Dan barangsiapa yang menutup aib (cela) orang Islam, maka Allah akan menutup aib (cela)nya besok pada hari qiyamat”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1996]

         Syaithan bukanlah satu-satunya yang menjadi penghancur persaudaraan sesama muslim, kita sebagai seorang muslim bisa juga menjadi penyebab kehancuran itu jika kita lah yang mengikuti langkah-langkah syaithan. Telah jelas larangan Allah SWT :

         Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaithan, maka sesungguhnya syaithan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. An-Nuur : 21]

          Lalu bagaimana cara seorang muslim untuk menghindari langkah-langkah syaithan? Seorang muslim yang baik ialah yang menghormati yang tua dan menyayangi yang lebih mua, dengan selalu menerapkannya maka persaudaraan muslim akan tetap selalu terjaga. Maka, sudah tentu apa yang disabdakan Nabi SAW akan terwujud :

          Dari Abu Musa, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin dengan mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan yang sebagiannya dengan bagian yang lain saling menguatkan” [HR. Muslim juz 4, hal. 1999]

          Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang, cinta-mencintai, serta memadu kasih ibarat satu tubuh, apabila ada anggota badan yang sakit maka seluruh tubuh akan ikut merasa sakit, dengan tidak bisa tidur dan demam”. [HR. Muslim juz 4, hal. 1999]

     

    By.Nasiba

    Post Tagged with ,

Leave a Reply