• Prasangka Buruk Cao Cao

         Sebuah cerita dikisahkan dari Tiongkok tentang seorang zalim bernama Cao Cao, pendiri negara Wei. Kejahatan Cao Cao menjadi duri kepemimpinan raja-raja bijaksana pada masanya. Cao Cao menjadi tokoh antagonis meski akhirnya ia dan pasukannya hancur secara tragis di Karang Merah, sungai Yang Tze.

         Jauh pada hari-hari sebelum Cao Cao menjadi penguasa licik, ia dan sahabatnya sempat menjadi komandan rendahan. Suatu hari saat keduanya dikejar oleh pemberontak lantas kebingungan mencari tempat persembunyian. Maka bertemulah mereka dengan seorang tua bernama Lu Boshe, sahabat ayah Cao Cao. Karena kebaikan hati Pak Tua, keduanya ditawari untuk menginap dan beristirahat.

         Pak Tua menjamu tamunya layaknya tuan rumah. Ia pun pergi ke pasar untuk membeli keperluan Cao Cao dan sahabatnya. Namun di tengah kepergian Pak Tua, Cao Cao dan sahabatnya mendengar suara asahan pisau yang mendesah di belakang rumah. Cao Cao dan sahabatnya lantas tanpa pikir panjang membunuh delapan orang di halaman belakang. Tak lama setelah itu, keduanya terperanjat kaget saat pergi ke dapur dan melihat seekor babi diikat. Nampaknya delapan orang tersebut sedang menyiapkan hidangan babi untuk disantap Cao Cao dan sahabatnya.

         Menyadari kesalahan besar yang dibuat, keduanya langsung melarikan diri. Di tengah perjalanan, Cao Cao dan sahabatnya bertemu dengan Pak Tua beserta lauk pauk yang baru saja dibeli. Lagi lagi, Cao Cao yang dikuasai kebengisan langsung membunuh Pak Tua.

         Sahabat Cao Cao heran menyaksikan perangai Cao Cao. Cao Cao pun mengungkapkan bahwa ia tak ingin dalam bahaya kelak ketika Pak Tua pulang ke rumah dan menemukan delapan orang di rumahnya terbunuh. Maka lebih baik ia membunuh Pak Tua agar tak terjadi kekacauan.

    ***

         Prasangka buruk menghantarkan seseorang kepada jenis-jenis kebencian bahkan perbuatan jahat lainnya. Cao Cao yang dikuasai prasangka mengambil tindakan pendek dan membunuh ke delapan orang yang sedang mengasah pisau. Padahal dibalik itu semua ada tindakan mulia yang sedang disiapkan delapan orang tersebut untuk menjamu Cao Cao dan sahabatnya. Maka yang awalnya hanya sebuah prasangka dalam hati, berlanjut hingga berulang menjadi kejahatan. Hingga Cao Cao pun memutuskan untuk membunuh Pak Tua yang tak berdosa dan sudah berbaik hati menolongnya.

         Prasangka buruk laksana api yang membakar kebaikan. Prasangka buruk mengantarkan seseorang pada tajassus, yakni berusaha mencari kesalahan-kesalahan atau kejelekan-kejelekan orang lain. Semut di seberang pulau terlihat, namun gajah di pelupuk mata tak terlihat. Benar pula peribahasa yang menjelma menjadi nasehat paling bijak untuk mereka yang dalam hatinya dikuasai ‘hitam’ akibat prasangka buruk, karena sebagian prasangka buruk adalah dosa.

    Allah Ta’ala berfirman.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

    Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain….” [Al-Hujurat : 12]

     

    Penulis: MK
    Sumber:
    almanhaj.or.id
    Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A. Fillah

    Post Tagged with ,

Leave a Reply