• 36 Orang Meninggal dalam Waktu 24 Jam

         Apa yang terjadi ketika krisis pangan dan lapar yang menderu itu tak segera tertangani? Ini bicara tentang nyawa, tentang risiko bertahan atau tewas karena lapar. Pagi ini, Rabu (22/2) sekali lagi kelaparan di Somalia membawa kabar duka itu.

         Kurang lebih 36 jam terakhir, 26 warga wilayah Jubaland di Barat Daya Mogadishu, meregang nyawa karena derita kelaparan akut. Malnutrisi menggerogoti fisik sampai tubuh tak kuat lagi untuk bertahan. Asisten Menteri Dalam Negeri Jubaland urusan Komite Kekeringan, Abdirahman Mohamed Hussein menjadi orang pertama yang mewartakan informasi ini.

         Angka kematian ini diperkirakan hanya menjadi prolog dari krisis. Angka kematian yang sangat mungkin untuk terus bertambah seiring bergulirnya panas dan terik tanpa air dan nihil makanan di Jubaland. 26 kematian warga Jubaland terjadi di dua titik yang berbeda di wilayah Middle Juba dan Gedo.

         Ini tentang berpacu dengan waktu, lapar itu tidak bisa dikompromikan lagi jika sudah sampai ke level malnutrisi akut. Apalagi, setiap kondisi malnutrisi tak bisa langsung diberikan asupan makanan berat secara tiba-tiba, karena semua fungsi tubuh termasuk lambung sudah berada dalam kondisi paling lemah.

         Kori Muharomah, seorang Ahli Gizi di Rumah Sakit Tria Dipa Jakarta berkata, kondisi malnutrisi parah hanya bisa diobati dengan perlahan memberikan makanan ringan sarat gizi. Bisa berupa biskuit, bubur, atau susu murni bergizi lengkap. Perlahan, bertahap menyesuaikan kondisi tubuh penderita malnutrisi akut.

         Pertanyaannya kemudian, di tanah gersang, kering, miskin dan rawan konflik seperti Somalia, di mana bisa membeli jenis pangan seperti itu?

         Sebelumnya, di pekan kedua Maret 2017 kemarin, Aksi Cepat Tanggap lewat Tim SOS Somalia sudah mendistribusikan tidak kurang dari 9,9 ton bahan pangan di Desa Kukari, wilayah Administrasi Lower Shabelle. Berlanjut sampai ke wilayah Baidoa, ada 16,5 ton bahan pangan terdistribusi sampai kamp-kamp pengungsian mereka yang kelaparan di Baidoa.

    Sumber : act.id

Leave a Reply