• Tanah yang Tak Dirindukan

    Oleh : Faishal Hanin

        Malam ini langit terlihat cerah. Bintang-bintang bertebaran di angkasa, menghiasi langit malam yang gelap gulita. Bulan menampakkan sinar lembutnya menambah keindahan malam. Jarang sekali malam terlihat begitu tenang, tanpa ada suara dentuman bom dan misil yang biasanya hampir setiap menit terdengar. Aku begitu menikmati suasana tenang ini. Ah, kapan suasana tenang ini akan terus berlanjut? Pasti esok pagi sudah terdengar lagi suara bom dan misil yang berseliweran di atas langit.

        “Ahmad segera masuk nak! Hari sudah semakin larut. Udara malam tidak baik bagi kesehatanmu. Kau harus jaga kesehatan untuk besok.” Ujar ummiku mengajak masuk.

        “Ah, iya ummi. Aku segera ke sana”. Ku pandangi lagi langit malam yang indah itu. Terbesit untaian doa dalam diamku, sembari beranjak masuk ke dalam rumah. Ya Allah, pertahankan keadaan damai ini, biarkan kami merasakan kemerdekaan dan terlepas dari penjajahan.

         Pintu reot itu aku buka perlahan, bunyi decit yang agak memekakkan telinga terdengar saat aku membukanya. Dinding-dinding retak seperti hampir roboh terlihat di sana sini. Bekas hiasan dinding terpampang memenuhi sebagian besar dinding. Lantai yang berantakan karena robohan atap di pojok ruangan, sengaja tidak dibersihkan karena terlalu berat untuk dikerjakan sendiri oleh kami. Lampu 15 watt yang terpasang di atap menambah kesan menyedihkannya keadaan rumahku. Hampir semua rumah di seluruh komplek keadaannya sama seperti rumahku; korban dari kekejaman penjajah yang menjadikan daerah sipil sebagai medan perang. Meskipun begitu, kami tak bisa pergi kemana-mana karena tak ada bantuan dari negara lain.

        Sudah sekitar sebulan ini tentara penjajah memasuki negaraku, dan dengan cepat menguasai banyak kota. Persenjataan yang jauh lebih canggih dari negaraku, memberi mereka keuntungan. Banyak yang berusaha melawan dengan senjata seadanya, dan banyak pula yang syahid dalam perlawanan itu. Batu, dan apapun yang ada di sekitar kami, digunakan untuk melawan. Bagiku, bagi kami, melihat darah bercecer, mendengar teriakan pilu ibu-ibu yang kehilangan anak, tangisan anak yang kehilangan ayah, ledakan-ledakan memekakan telinga sudah menjadi suara rutin yang terdengar sehari-hari.

        Kehancuran tampak di sejauh mata memandang. Kantor, sekolah, pabrik, bahkan rumah sakit banyak yang rata dengan tanah. Persediaan makanan kami dihancurkan, dirampas hingga tak bersisa. Kami hidup dalam kelaparan, ketakutan, kehausan, dan kesakitan yang luar biasa. Kami selalu siap mati kapanpun dan dimanapun, karena tak ada yang tau kapan kami akan tetap hidup di bawah naungan bom yang bisa jatuh dimana saja dan kapan saja, dengan daya ledak yang tak bisa diremehkan.

        Meskipun begitu, kami tak pernah berhenti berharap kepada Allah untuk menolong kami. Kami tak pernah berprasangka buruk kepada Allah atas segala penderitaan yang kami alami. Kami yakin Allah begitu mencintai kami. Kami yakin Allah sedang mengukur kadar keimanan kami. Kami yakin Allah tidak akan memberi cobaan yang melampaui batas kami. Kami yakin Allah sedang menguji kami agar menjadi umat yang pantas berada di jannah Nya.

    ***

        Seperti biasa aku melakukan rutinitasku sejak aku putus sekolah karena hancurnya sekolahku akibat penjajahan ini. Aku buka buku tulis lusuhku, dan mulai menulis apapun yang aku rasakan hari. Pahit, manis yang aku alami. Amarah, tawa, tangis, tegang, lega yang aku rasakan. Semua tertuang dalam buku lusuh itu.

        “Hari ini kembali menjadi hari yang menegangkan dalam hidupku. Para penjajah memasuki kota. Mereka menggeledah tiap rumah-rumah disini, menginterogasi setiap laki-laki dewasa apakah mereka tergabung sebagai tentara militan atau tidak. Satu persatu para lelaki ditarik dari rumah, dipukuli dengan popor senjata bagi yang melawan, ditembaki bagi orang yang berusaha kabur, dicambuk bagi orang yang tidak mau mengaku.

        Aku tak tahan melihatnya. Aku ingin membalaskan kekejian mereka, namun ummiku menahannya. Tampak ia menangis melihat ayah juga disiksa di depan seluruh penduduk. Bagi yang mengaku, mereka diseret ke mobil tahanan, yang tak mau mengaku terkapar bersimbah darah dengan lebam di sekujur tubuh. Banyak yang tertembus peluru karena berusaha kabur.

        Setelah 3 jam penyiksaan, mereka mulai kembali ke pos penjajah di kecamatan seberang. Meskipun mereka sudah pulang, tetapi ayah kami, saudara kami, tidak kembali ke rumah. Mereka dibawa bersama mereka, sisanya banyak yang mati bersimbah darah.

        Sejenak aku menghentikan tulisanku, berusaha menahan air mata yang mengalir dari sudut mataku. Istighfar kembali terlantun dari mulutku, berharap hati ini kembali tegar menghadapi cobaan yang tak pernah henti menerpa tanah ini. “Ini bukan pertama kalinya aku melihat banyak korban jiwa, bukan pertama kalinya aku melihat jenazah para syuhada yang rela tewas demi membela rakyat dari kekejaman penjajah yang tak tahuu kemanusiaan. Namun yang berbeda kali ini adalah ayahku menjadi salah satu jenazah para syuhada itu. Begitu berat aku merelakan kepergian ayah yang menjadi inspirasiku dalam hal apapun.

        Semoga penderitaan ini menjadi untaian pahala atas kesabaran kami dalam menjalaninya. Semoga para syuhada berada di sisi Allah. Semoga Allah menolong kami, semoga tentara langit membalaskan apa yang telah mereka lakukan kepada kami. Semoga Allah mendengar doaku ini.

        Tanah ini begitu berharga bukan hanya bagi kami, tapi bagi seluruh manusia. Tanah ini menorehkan sejarah besar Islam dalam masa kejayaannya. Di tanah ini terbangun masjid yang begitu mulia bagi seluruh umat Islam. Tanah yang dahulu menjadi tanah yang selalu dirindukan.

        Namun, kini begitu banyak yang tidak peduli ketika kami berusaha mati-matian melindungi tanah ini. Mereka seakan tidak mau tau apa yang terjadi disini. Mereka terlalu asyik dengan kehidupan mereka sendiri. Mereka acuh ketika satu persatu dari kami mati tertembus peluru demi mempertahankan tanah ini dari penjajah kafir. Mereka seakan tidak lagi merindukan tanah ini.

        Aku ingin mereka membantu kami. Aku ingin mereka berjuang bersama kami. Aku ingin mereka merasakan penderitaan kami, dan berbagi penderitaan ini agar kami tidak memikulnya sendiri. Bukankah muslim satu dengan yang lain itu seperti satu tubuh, ketika satu tersakiti seluruh badan merasakannya. Semoga Allah memberi hidayah kepada umat Islam, keselamatan dunia akhirat bagi kita semua. Semoga tanah ini kembali dirindukan oleh seluruh umat Islam, dimanapun berada.” Tulisku penuh emosi yang kutahan dalam dada.

        Aku tutup bukuku, dan mulai memejamkan mata. Kembali kulantunkan doa-doa kepada Allah, rabb semesta alam, semoga penderitaan ini akan berakhir. Setelah ini tak tahu kapan aku akan mati. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku dalam kondisi mengerikan ini.

        Tertembus peluru kah? Terpukul popor senapan kah? Terkena bom kah? Tertimbun reruntuhan kah? Atau mati karena kelaparan? Semua bisa saja terjadi padaku, apapun itu. Semoga Allah memberikan akhir yang baik bagiku. Semoga Allah tetap membiarkan aku mendekap nikmat iman dan Islam dalam akhir hidupku.

Leave a Reply