• Kenapa Engkau Menangis ?

    Sebagian atau mungkin seluruh umat manusia pernah menangis, paling tidak di masa kecilnya. Namun saudaraku, apakah belakangan ini engkau menangis? Kalau memang pernah, kapan engkau menangis? Kenapa engkau menangis? Karena akhirat kah atau dunia? Karena ditinggal seseorang atau engkau menangis karena kehilangan sesuatu yang berharga?

    Diriwayatkan dari Faidh bin Fadhl al-‘Ajali, ia berkata, “Seorang tetangga Mas’ar bertutur kepadaku, bahwa Mas’ar menangis sehingga ibunya ikut menangis. Maka Mas’ar berkata kepadanya (ibunya),’Wahai ibuku, apa yang membuatmu menangis?’ Maka sang ibu berkata, ‘Wahai anakku, aku melihatmu menangis, sehingga aku pun ikut menangis.’ Mas’ar berkata, ‘Wahai ibuku, untuk siksaan seperti yang kita hadapi besoklah kita menangis lama-lama.’ Kemudian dia berkata, ‘Hari Kiamat dan apa yang ada di dalamnya.’ Kemudian dia tidak kuasa menahan tangis. Lalu ia berdiri, ‘Seandainya bukan karena ibuku, maka aku tidak akan meninggalkan masjid kecuali untuk hal wajib.’ Sesungguhnya Mas’ar jika masuk masjid menangis, jika keluar masjid menangis, jika shalat menangis, dan duduk menangis.’¹

    Lalu untuk apakah kita menangis ?

    Malik bin Dhaigham berkata, “Aku mendengar Bakr bin Mashad berkata, ‘Aku mendengar Abdul Wahid bin Zaid berkata, ‘Wahai saudaraku! Tidakkah kamu menangis karena rindu kepada Allah? Ketahuilah bahwa seseorang yang kepada Tuhannya itu tidak dihalangi untuk melihat-Nya. Wahai saudara-saudaraku, tidakkah kamu menangis karena takut kepada neraka, maka Allah melindunginya dari neraka itu. Wahai saudaraku-saudaraku tidakkah kamu menangis karena takut akan hausnya hari kiamat? Wahai saudaraku, tidakkah kamu menangis? Benar, tangisilah air dingin sewaktu di dunia, semoga Allah memberimu minum air dingin di bawah naungan ‘Arsy bersama orang-orang yang paling baik dalam menyesali, serta sahabat-sahabat para golongan para Nabi, Shidiqqin, Syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.’ Bakr bin Mashad berkata kemudian dia menangis hingga pingsan.”²

    Diriwayatkan dari Abu Ma’syar, ia berkata, “Aku melihat Abu Hazm bertutur di masjid dan menangis sambil mengusap air matanya ke wajahnya. Lalu aku bertanya, wahai Abu Hazm, kamu berbuat demikian? Dia berkata, ‘Aku menerima sebuah kabar bahwa api neraka tidak akan membakar tempat-tempat yang terkena tetesan-tetesan air mata karena takut kepada Allah Ta’ala.’”³

    Wahai saudaraku, itulah alasan para generasi terbaik umat ini menangis. Lalu bagaimanakah dengan kita, kenapa kita menangis dan untuk apa kita menangis?

    Catatan:

    ¹Halaman 41 dalam buku terjemahan Jawahiru-Shifatish- Shafwah cetakkan kedua karya Ahmad Salim Badwailan yang berjudul Mutiara Hati: Meneladani Orang-Orang Pilihan.
    ²Halaman 51 dalam buku terjemahan Jawahiru-Shifatish- Shafwah cetakkan kedua karya Ahmad Salim Badwailan yang berjudul Mutiara Hati: Meneladani Orang-Orang Pilihan.
    ³Halaman 30 dalam buku terjemahan Jawahiru-Shifatish- Shafwah cetakkan kedua karya Ahmad Salim Badwailan yang berjudul Mutiara Hati: Meneladani Orang-Orang Pilihan.
    Post Tagged with ,

Leave a Reply