• Ibarat Menanam Kacang

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190). Begitulah bunyi dari firman-Nya yang Maha Agung. Sebuah firman yang tidak akan bisa tergantikan oleh apapun, dan akan tetap terjaga sampai matahari terbit dari ufuk barat.

    Allah dengan segala kuasa-Nya, sesungguhnya telah menjadikan bumi ini sebagai media untuk belajar. Bukan hanya belajar di bangku kelas saja, tapi belajar dari bagaimana siklus alam ini bekerja. Mulai dari bagaimana siklus air terjadi, pembetukan embun di pagi hari, hingga arus yang mengalir di titik terdalam samudra. Bagi orang-orang yang berakal, sungguh di dalamnya terdapat pelajaran yang amat berharga.

    Petani adalah salah satu sosok yang jika ditelusuri lebih dalam banyak memberi pelajaran hidup yang luar biasa. Ambilah contoh saat mereka mulai masuk musim menanam kacang. Sadar atau tidak, proses membina itu ibarat seorang petani yang sedang menanam kacang. Seberapa bagus kualitas kacang yang dihasilkan bergantung pada sebesar apakah usaha sang petani untuk merawat kacang-kacang tersebut.

    Bagi para petani pemula yang masih dalam tahap belajar menanam kacang, sungguh prosesnya akan terasa berat. Bagaimana tidak? Mereka harus memilih bibit-bibit terbaik, lalu merendamnya semalaman. Esok harinya, mereka harus sudah siap di sawah untuk sesegera mungkin menanam benih-benihnya. Bukan perkara mudah saat memulai menanam, sebab sebelumnya sang petani harus membuat lubang demi lubang dengan alat mereka yang disebut ‘gejig’ sebagai tempat biji kacang ‘berkepompong’. Selesai? Belum, bahkah setengahnya pun belum selesai.

        Matahari semakin melangit, pertanda para petani harus mempercepat kerjanya jika tidak ingin berlama-lama menantang teriknya sang ‘raja pagi’.  Setelah lubang-lubang selesai dibuat, kini giliran tangan dan mata yang harus berkolaborasi supaya tiap lubang terisi oleh benih kacang. Dengan kata lain tidak boleh ada lubang yang kosong atau terlewatkan. Pada saat inilah ketahanan punggung akan diuji, seberapa lama ia bisa bertahan menopang badan dengan  posisi yang merunduk saat memasukkan biji-biji kacang.

        Hal yang jangan sampai terlupakan saat menanam kacang yakni menutup lubang-lubang tersebut dengan pupuk. Selain sebagai sumber nutrisi bagi biji kacang, pupuk juga berfungsi untuk menjaga biji agar tidak terbawa air dan melindunginya dari serangan ayam-ayam yang ‘nakal’. Jika sampai terlupakan, dalam waktu dua atau tiga hari saja biji kacang tadi bisa habis dimakan ayam.

        Proses menanam telah selesai. Hal ini bukan menjadi tanda berakhirnya perjuangan petani. Karena mereka masih harus bersusah payah merawat biji-biji tadi supaya dapat tumbuh subur. Pengairan yang cukup menjadi syarat utama jika ingin tanaman kacang itu tidak mati. Sementara pemupukan secara berkala akan menambah asupan gizi bagi kacang. Proses pemupukan pun tidak sembarangan, karena harus disesuaikan dengan dosis yang dianjurkan.

        Belum lagi tanaman kacang bukan lah satu-satunya makhluk hidup di sawah. Banyak makhluk hidup lainnya yang hidup berdampingan di sana. Beberapa dari mereka kehadirannya dibutuhkan tanaman kacang, tapi tidak sedikit pula yang menjadi musuh tersendiri baginya. Salah satunya sebut saja pasukan ulat. Binatang merayap itu acap kali memakan dedaunan tanaman kacang. Alhasil, banyak daun-daunnya yang rusak. Pada kondisi seperti itulah, para petani harus sesegera mungkin menyemprotkan obat pembasmi hama, jika tidak ingin tanaman kacangnya semakin rusak.

        Siang berganti malam dan malam pun berganti siang. Begitulah seterusnya hingga akhirnya tanaman kacang siap dipanen.  Kini seni bekerja sang petani sudah bisa dilihat melalui hasil tanamnya yang berbanding lurus dengan usaha yang telah dikerahkan atau justru sebaliknya, tidak sesuai harapan. Namun apabila demikian, disanalah sang petani akan menganalisis dan merancang ulang strategi agar panen di masa tanam selanjutnya lebih baik.

        Nah, seperti itulah proses menanam kacang, yang jika disandingkan dengan proses membina ternyata menemui suatu alur cerita yang cukup mirip. Saat awal membina, para Murabbi (sebutan untuk para pembina) harus mengenal dengan jelas karakter dan latar belakang dari binaannya. Karena boleh jadi mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Beda karakter maka berbeda pula treatment yang akan diberikan pada para binaan. Kemudian barulah sedikit demi sedikit ia mulai memberikan materi sesuai dengan apa yang harus disampaikan.

    Membina merupakan proses yang amat panjang, yang jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka tenaga, waktu, uang, bahkan darah lah yang akan menjadi bayarannya. Jalan yang dilalui di dalamnya tidak selembut kain sutera dan waktu tempuhnya tidak secepat kedipan mata. Sang Murabbi harus berusaha semaksimal mungkin supaya para binaanya tetap istiqomah mengikuti proses pembinaan. Peragaman program pembinaan seperti rihlah, mukhoyyam, dan ifthor jama‘i seringkali menjadi agenda untuk mempererat ukhuwah, walaupun ada sejumlah harta yang harus dikeluarkan dengan jumlah yang tidak sedikit. Disinilah para Murabbi akan diuji kesungguhannya dalam membina.

    Kecermatan dan kecerdikan sang Murabbi dalam melihat kondisi para binaan juga amat penting. Apalagi tatkala badai masalah dan virus-virus futhur iman mulai menyerang para binaannya. Maka, taujih-taujih lah yang menjadi obat dan kedekatan batin lah yang menjadi penguat. Doa kepada Allah pun tak lupa dipanjatkan dengan harapan supaya Sang Khaliq senantiasa menjaga para binaannya.

    Seperti itulah hakikat membina yang digali dari pelajaran hidup seorang petani kacang. Petani kacang dikatakan sukses, jika tanaman kacang yang ia peroleh bisa tumbuh dengan baik, sehingga produksi kacangnya melimpah ruah. Maka begitu pula dengan seorang Murabbi yang sukses membina. Murabbi dikatakan sukses membina tatkala binaannya bisa tumbuh menjadi insan yang berakhlak mulia, mampu melawan hawa nafsu dalam kondisi apapun, dan siap sedia mengikuti jejak Murabbi nya untuk membina.

    Wallahu ‘alam bishowwab.

    Post Tagged with ,

Leave a Reply