• Selamat Jalan Pak Sudarmadi

              Sore itu aku sedang menyiapkan takjil seperti biasa saat tiba-tiba ada panggilan ke perumdos. Ada jamaah yang meninggal hari ini dan marboth diminta untuk memandikan jenazah beliau. Hmmm, hitung-hitung untuk menambah pengalaman, akhirnya aku mengiyakan permintaan untuk menjadi relawan. Nama beliau Pak Sudarmadi. Aku sendiri tak mengenal beliau sama sekali, pun ini aku masih menerka-nerka siapakah pak Sudarmadi ini dan seperti apa wajahnya. Aku yang sudah cukup lama menjadi marbot di masjid Alhurriyyah memang sudah hapal seperti apa wajah-wajah jamaah rutin, akan tetapi aku tak tahu siapa nama mereka satu persatu.

              Prosesi pemandian dilaksanakan setelah shalat maghrib selesai. Proses pemandian jenazah diawali dengan pengarahan dari Ustadz E Syamsuddin, kami yang baru pertama kali mencoba memandikan jenazah hanya menyimak dengan seksama. Khawatir ada yang terlewat. Hal pertama yang kami lakukan adalah melepas semua perban dan membersihkan kotoran yang melekat di tubuh jenazah, setelah itu jenazah diwudhukan. Kotoran dari perut dibersihkan kemudian jenazah dimandikan seperti biasa.

              Secara teori, ini bukan hal baru bagiku. Namun tentu amat berbeda antara kelas dan kenyataan, dan itulah yang aku rasakan saat ini.

              Aku sebetulnya terkejut saat melihat wajah jenazah untuk pertama kali. Ada sedikit rasa sesal di dada saat menyadari bahwa pak Sudarmadi ini adalah salah satu jamaah yang tidak pernah absen shalat Isya maupun Shubuh di masjid Alhurriyyah. Lebih menyesakkan lagi ketika aku mengetahui bahwa pak Sudarmadi ini adalah mantan dekan Fakultas Peternakan, fakultas tempatku bernaung saat ini.

              Shalat jenazah dilakukan selepas shalat shubuh. Ada rasa iri jika mengingat kondisi pak Sudarmadi ini, beliau wafat di bulan yang penuh berkah dan dishalati serta didoakan oleh orang-orang yang tengah berpuasa. Aku sendiri bertanya-tanya, bisakah aku seperti beliau? Wafat di bulan mulia dan dishalatkan oleh orang-orang yang tengah melakukan ibadah mulia?

              Shalat jenazah berlangsung khidmat, sampai-sampai suara isak terdengar jelas dari shaff jamaah. Suasana kehilangan begitu terasa di sepenjuru masjid.

              Selepas shalat jenazah, dilangsungkan taushiyah oleh Ustadz Abbas Aula. Beliau menceritakan bahwa pak Sudarmadi ini adalah anggota pengajian yang tidak pernah absen dari kajian, padahal usia pak Sudarmadi ini sudah tergolong sepuh. Alangkah berbeda rasanya dengan para pemuda hari ini yang lebih memilih untuk duduk di rumah atau bermalas-malasan di atas tempat tidur daripada menyimak kajian tentang Islam barang sebentar. Lebih tak sopan lagi ketika kita berbicara dengan lantangnya seakan memiliki ilmu yang luas, padahal belajar saja enggan dilakoni. Rasanya tak layak menjadikan beliau sebagai pembanding atas diri yang terlampau penuh cela ini.

              Aku menyesal tidak mengenal beliau dari awal. Sebagai salah satu civitas fapet, pastilah banyak ilmu yang bisa aku timba. Penyesalan yang terlampau telat. Benarlah kata Pa Rektor, IPB kehilangan beliau. Keluarga beliau kehilangan beliau. Pengajian beliau kehilangan anggotanya. Dan kami pun selaku anggota DKM Al Hurriyyah kehilangan jamaah terbaik. Walau aku baru mengetahui nama beliau tadi malam, pagi ini aku merasa kehilangan beliau seperti kehilangan keluarga sendiri

              Selamat jalan Pak! Semoga tenang di alam sana. Terimakasih atas pelajaran yang telah bapak berikan hari ini. (AH/AF)

     

    Post Tagged with

Leave a Reply