• Insya Allah, jika Allah Menghendaki

    Suatu hari, Rosulullah Shalallahu ‘alayhi wassalam didatangi oleh beberapa orang. Orang tersebut adalah orang Quraisy. Mereka mendatangi Rosulullah Shalallahu ‘alayhi wassalam karena hendak bertanya tentang suatu hal yakni tentang ruh, kisah Ashabul Kahfi, dan kisah Dzulkarnain. Lalu beliau Shalallahu ‘alayhi wassalam menjawab “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan kepadamu.”

    Keesokkan harinya, orang Quraisy pun mendatangi Rosulullah Shalallahu ‘alayhi wassalam. Namun wahyu belum turun sehingga beliau Shalallahu ‘alayhi wassalam belum dapat menjawab pertanyaan orang-orang Quraisy tersebut. Hari-hari berikutnya pun wahyu belum juga turun

    Kenapa wahyu belum segera turun kepada Rosulullah Shalallahu ‘alayhi wassalam? Ternyata, ketika Rosulullah Shalallahu ‘alayhi wassalam mengiyakan atau menjanjikan akan menjawab pertanyaan pada keesokkan harinya, beliau lupa mengucapkan suatu kalimat. Kalimat apa itu? Benar, kalimat Insya Allah (artinya jika Allah menghendaki). Karena hal tersebut lah maka turun firman Allah Subhanahu wata’ala yang di bawa Jibril ‘Alayhissalam. Firman tersebut adalah Qur’an Surat Al Kahfi ayat 23 dan 24.

    “Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, ‘Aku pasti melakukan itu besok’, kecuali (dengan mengatakan), ‘Insya Allah.’ Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini.’” (Qur’an Surat Al Kahfi: 23-24)

    Ayat tersebut merupakan teguran Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alayhi wassalam karena beliau Shalallahu ‘alayhi wassalam terlupa mengucap kalimat Insya Allah ketika mengiyakan permintaan orang Quraisy pada saat itu.

    Setelah hal tesebut terjadi, maka Rosulullah Shalallahu ‘alayhi wassalam bertaubat dan akhirnya turun wahyu yang merupakan jawaban dari pertanyaan orang-orang Quraisy.

    Nah, sirah di atas merupakan bukti bahwasanya segala sesuatu yang kita janjikan dan kita inginkan akan terjadi apabila Allah Subhanahu wata’ala telah berkehendak. Perkara yang baik maupun yang buruk sekalipun apabila Allah Subhanahu wata’ala belum berkehendak, maka perkara tersebut belum akan terjadi. Contohnya adalah pencurian di sebuah perumahan. Perbuatan tersebut merupakan hal yang sangat tercela lagi dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala dan rosul-Nya. Namun hal tersebut tidak akan terjadi tanpa kehendak Allah Subhanahu wata’ala. Sama halnya apabila kita ingin berbuat baik atau beramal shaleh. Hal tersebut tidak akan terjadi apabila Allah Subhanahu wata’ala belum berkehendak.

    Pandangan kita tentang baik buruknya suatu hal terkadang berbeda dengan pandangan Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana fiman-Nya di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 216. Allah Subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,

    “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qur’an Surat Al Baqarah: 216)

    Begitulah adanya, Allah Subhanahu wata’ala lebih mengetahui tentang apa yang terbaik untuk kita daripada kita sendiri. Hal tersebut karena Allah Subhanahu wata’ala adalah rabbuna warabbukum, Rabb ku dan Rabb mu, penciptaku dan penciptamu.

    Selain itu apabila kita menjanjikan sesuatu kepada orang lain, maka ucapkanlah Insya Allah. Insya Allah, Allah Subhanahu wata’ala akan menghendaki apa yang akan kita lakukan.

    Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply