• Hikmah Kelemahlembutan

    Sungguh ada begitu banyak kisah yang bertebaran di muka bumi untuk diambil hikmah dan pelajarannya. Salah satu kisah terbaik itu terdapat di sudut kota Madinah pada 627 Masehi.

    Renta dan buta. Ialah seorang lelaki pengemis Yahudi yang senantiasa medudukkan badan tuanya seperti kain usang yang teronggok. Kepalanya terus bergerak-gerak, sedangkan ia melihat menggunakan telinganya. Seperti kemarin, jarang sekali orang menghampirinya dan memberinya receh untuk menyambung hidup. Saat itu, nampaklah ia sedang menunggu seseorang. Seseorang yang setiap pagi menjadi yang pertama menghampirinya. Pengemis tua itu yakin pagi ini pun tidak akan ada yang berubah.

    Dia datang, dia datang. Pengemis itu mengenali langkah seseorang yang selalu datang untuknya setiap pagi. Ia pun bersiap untuk melakukan rutinitasnya, yaitu menyambut orang yang menghampirinya dengan kalimat-kalimat ‘sakti’. “Janganlah engkau mendekati Muhammad karena dia orang gila, pembohong, dan tukang sihir! Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya.”

    Inilah rutinitas yang tak pernah terganti itu, sementara seseorang yang datang padanya menyuapkan makanan lembut kepadanya dengan perlahan dan penuh kehati-hatian. Pengemis renta yang bahkan sudah kesulitan mengunyah itu tak perlu melakukan apapun kecuali mengangakan mulutnya hingga makanan yang halus dan siap telan masuk ke dalam rongga mulutnya. Perlahan, sampai tandas seluruh makanan yang ia bawa.

    “Janganlah engkau mendekati Muhammad.” Si tua mengulang kalimatnya. Seolah ia mendapat layanan ekstra dari orang tak dikenal dihadapannya karena kalimat-kalimat yang ia ucapkan. “Jangan.. karena dia orang gila, pembohong, dan tukang sihir! Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya.”

    Orang tak dikenal itu hanya tersenyum, tak bersuara. Dia bangkit perlahan setelah memastikan pengemis tua selesai dengan makanannya. Lelaki itu pun berderap meninggalkan pengemis. Langkahnya tegap dan terukur. Ritmis dan berpendar wibawa. Lelaki tak dikenal itu, dirimu wahai Muhammad Al-Mustafa.

    Kisah ini begitu kaya akan hikmah, sarat dengan makna, dan penuh dengan nesehat. Alangkah ruginya jika kita tidak dapat mengambil hikmah darinya. Beberapa hikmah dan keteladanan yang bisa kita petik adalah tentang kelemahlembutan. Sungguh Rasulullah SAW adalah manusia yang penuh kasih sayang. Ia telah menunjukkan kepada kita keteladanan yang luar biasa melalui perbuatan mulianya. Ia dengan sangat santun mengajari kita untuk menghormati orang yang lebih tua dari kita siapapun itu. Kita juga dianjurkan untuk menahan amarah dan bersabar sekalipun orang lain merendahkan kita. Selain itu, kita juga diberi contoh untuk bersikap dermawan kepada fakir dan miskin.

    Seringkali nilai kelemahlembutan ini dilupakan atau kurang mendapat perhatian dari kita. Banyak sekali manusia yang cenderung sibuk dengan urusannya masing-masing hingga bersikap acuh tak acuh kepada sekitarnya. Saking merasa sibuknya dengan urusan pribadi, manusia sering bersikap terburu-buru dan lupa untuk saling bersikap lembut satu sama lain. Memberi namun terlihat enggan, menolong tapi setengah hati, dan berbincang tapi jauh dari santun ataupun sikap menghormati.  Mereka cenderung berkata kasar, sinis, ketus, dan marah terhadap lawan bicaranya.

    Terlebih kita yang sesama muslim bersaudara tidak seharusnya bersikap demikian. Rasulullah saja sudah begitu mulianya bersikap kepada pengemis tua Yahudi. Kita pun seharusnya, terutama sesama muslim bersaudara, dapat bersikap lemah lembut dan mengasihi. Bukan kah hal tersebut sudah tergambar jelas dalam Al-Quran surat Al-Fath ayat 29? Yaitu untuk ‘ruhamaa u baynakum’ atau berkasih sayang sesama muslim. Maka semoga kita termasuk orang-orang yang bersikap lembut, membawa rasa aman, nyaman, dan damai bagi lingkungan di sekitar kita, serta menjadi manusia yang mampu meneladani Rasulullah SAW. Aamiin.

    (SFK)     

    Post Tagged with

Leave a Reply