• Surah Al-‘Asr: Meniti Empat Langkah Menuju Keberhasilan

    KUNCISejarah telah mengukirkan secara gamblang bagaimana peradaban Islam pernah menerangi seluruh aspek kehidupan manusia di sepenjuru dunia. Di masa-masa itu, Islam tumbuh menjadi sebuah peradaban yang sangat besar, bahkan di masa-masa itu Romawi dan Persia yang sebelumnya menguasai hampir seluruh penjuru dunia mengaku tunduk dan dapat dikalahkan dalam pertempuran demi pertempuran. Sejarah juga mengatakan bahwa banyak sekali diantara tokoh-tokoh muslim yang dari karyanya ia mampu menginspirasi banyak manusia dan membawa perubahan pada dunia. Sebut saja Salahuddin Al-Ayyubi dengan penaklukan konstantinopelnya yang begitu gemilang, Thariq ibn Ziyad yang dari penaklukannya terhadap Andalusia berhasil membawa Eropa keluar dari zaman kegelapannya, Ibnu Batutah yang dari perjalanannya bagian-bagian bumi dipetakan, dan masih banyak lagi.

    Jika kita memerhatikan sejarah Islam dengan cermat dari mulai munculnya Islam di tengah-tengah masyarakat Makkah, pembentukan komunitas masyarakat muslim di Madinah, hingga zaman-zaman dimana Islam menjadi sebuah imperium besar yang disegani, maka kita akan menemukan banyak sekali sosok luar biasa yang mampu menginspirasi siapapun yang membaca riwayat kehidupan mereka. Manusia-manusia tangguh yang mewarnai setiap jengkal kehidupan mereka dengan keteguhan, keberanian, keikhlasan, serta kejujuran dalam berjuang di jalan Allah.

    Para ulama yang berfokus pada pengkajian sejarah Islam seringkali menuliskan banyak hal indah tentang kehidupan mereka. Bahkan saking rincinya, kita dapat menyimpulkan bahwa generasi-generasi awal dari umat Islam ini diisi oleh orang-orang yang memiliki prinsip yang kuat dalam menjalani hidup. Mereka memaknai Al-Qur’an sebagai panduan hidup dan meyakini Al-Qur’an sebagai satu-satunya metode terbaik yang membawa setiap manusia kepada keselamatan dan kemakmuran baik di dunia maupun di akhirat. Dengan prinsip seperti ini, secara tidak langsung Al-Qur’an telah mentransformasi generasi yang pada awalnya hidup dalam kekacauan dan mengalami kerusakan moral yang sangat parah, menjadi sekelompok manusia dengan moral terbaik yang pernah hidup di atas muka bumi.

    Perjalanan yang pernah dilalui oleh generasi ini (sebut saja Sahabat dan Salafush Shalih) sebetulnya bukanlah jalan tanpa rintangan sama sekali. Terkadang demi tegak dan terjaganya kemurnian Islam, mereka harus menghadapi hinaan, cemoohan, bahkan tak jarang mereka harus mempertaruhkan nyawa dan rela dimusuhi oleh banyak orang.

    Maka kita dapati bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki keikhlasan yang tinggi dalam menjaga agama ini. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa harus ada orang-orang yang berdiri di barisan terdepan, agar umat Muhammad Rasulullah tidak menyimpang dari jalur yang seharusnya. Mereka sepenuhnya memahami bahwa Islam adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Hal ini nyatanya telah menjadi pendorong bagi mereka untuk menembus batas, sehingga mereka tidak lagi takut pada penguasa-penguasa zalim yang tak jarang mengacungkan pedangnya ke arah mereka hanya karena para ulama ini menyampaikan suatu hal yang tidak sesuai dengan keinginan penguasa.

    Mereka menjadi cahaya di dunia, bahkan mereka mendapati kedudukan khusus di sisi Allah. Di surah At-Taubah ayat 100, Al-Qur’an menyebutkan mereka dengan kalimat, “… Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah …”

    Lalu bagaimana caranya sehingga mereka mampu mencapai kesuksesan seperti itu, menjadi cahaya bagi dunia dan mendapatkan ridha dari Allah SWT dengan pernyataan yang jelas?

    Tokoh pendidikan, prof. Hasan Langgulung dalam karyanya “Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan” menyebutkan setidaknya ada empat faktor yang dapat menjamin kesuksesan tersebut jika didasarkan pada Al-Qur’an, tepatnya di surah Al-‘Asr ayat terakhir.

    Menurutnya, kaum muslimin harus mau untuk berusaha lebih keras dalam menerapkan seluruh nilai-nilai agama Islam jika ingin mencapai kesuksesan yang pernah dicapai oleh generasi-generasi muslim di awal kejayaan dulu. Umat islam juga seharusnya meyakini dengan sepenuh hati bahwa solusi satu-satunya dari seluruh permasalahan yang terjadi di tengah-tengah peradaban adalah Islam.

    Lalu, apa saja keempat faktor tersebut?

    Hal pertama ialah keimanan

    Iman adalah faktor utama yang menjadi penjamin dari sebuah kesuksesan. Dengan adanya iman, seseorang akan meyakini bahwa ia akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan selama ia menjalani kehidupan. Kesadaran ini nantinya akan mendorong setiap orang untuk serius dalam menjalani kehidupan, selain itu mereka akan berlomba-lomba agar karya-karya yang mereka hasilkan dapat bermanfaat bagi orang lain.

    Selain itu, keimanan yang benar kepada Allah akan menciptakan sesosok manusia yang tangguh dan kebal dalam menghadapi ujian. Dengan keimanan yang lurus, seseorang akan memiliki keyakinan yang kokoh bahwa Allah selalu menyiapkan banyak sekali solusi atas setiap permasalahan yang tengah dihadapi. Orang-orang yang memiliki keimanan yang teguh seperti ini akan senantiasa memohon petunjuk kepada Allah dalam setiap permasalahan yang dihadapi, sehingga keberhasilan akan jauh lebih dekat pada mereka.

    Setelah Keimanan, hal berikutnya adalah Amal Shalih

    “Amal shalih,” ujar Muhammad Abduh, “adalah segala amalan yang disebutkan dalam Al-Qur’an secara rinci. Ia meliputi apa saja yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, serta amalan-amalan ini tidak merugikan orang lain sama sekali.”

    Amal shalih ini adalah setiap kebaikan yang dilandasi dengan dasar keimanan yang murni kepada Allah, serta diawali dengan niat hanya untuk meraih ridha Allah saja. Berdasarkan hal ini, andaikata seseorang melakukan sesuatu bukan berdasar pada keimanan kepada Allah atau dilakukan bukan dengan tujuan untuk meraih ridha Allah, maka sifatnya tertolak. Hal ini juga berlaku pada setiap kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang non-muslim apabila mereka berbuat kebaikan.

    Yang ketiga ialah Menasihati dalam Kebenaran

    Syarat meraih kesuksesan dan terhindar dari kerugian adalah mengetahui serta meyakini hakikat kebenaran dan mengajak kepada keyakinan yang diketahui tersebut. Di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa orang yang mengetahui suatu kebenaran akan tetapi ia enggan untuk mengikutinya, maka orang-orang itu termasuk orang yang merugi.

    Manusia adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan dan cela, sehingga menasihati dan mengingatkan kepada kebenaran merupakan sebuah hal yang sangat penting bagi setiap orang. Menasihati dalam kebaikan juga merupakan salah satu bentuk kepedulian pada orang lain. Ia merasa tidak rela jika rekanannya tersebut melakukan kesalahan, atau melakukan tindakan-tindakan yang menyelisihi prinsip-prinsip kebenaran.

    Hasan Lunggagulung menyatakan bahwa aplikasi dari tindakan ini dalam konteks kekinian adalah sains atau fakta yang benar. Seorang guru yang jujur dalam menyampaikan ilmu dan menyampaikannya secara sempurna akan menjamin keberhasilan muridnya di masa mendatang.

    Yang terakhir ialah Saling menasihati dalam kesabaran

    Syarat selanjutnya dalam meraih kesuksesan ialah bersikap sabar dalam segala hal, baik saat menghadapi ujian juga dalam meniti ketaatan, serta mengingatkan orang lain juga untuk terus bersabar.

    Muhammad Abduh mengatakan bahwa seseorang tidak akan mampu menasihati orang lain dalam kesabaran sebelum ia menghiasi dirinya dengan sifat sabar pula.

    Kita mengetahui bahwa keberhasilan dapat dicapai setelah seseorang menghadapi banyak sekali ujian, sehingga kesabaran akan menjadi anak tangga terakhir yang akan mengantarkan seseorang pada kesuksesannya.

    Redaktur     : Andi Fikri

Leave a Reply