• Sudahkah Kamu Berdoa untuk Saudaramu yang Jauh?

    Aleppo memerah darah. Media lebih banyak bungkam dan sudah lebih dari 14 hari serangan demi serangan dilancarkan. Semua usia dan fasilitas publik menjadi sasaran. Kini, dari sekitar 2 juta jiwa warga sipil Aleppo, hanya tersisa 400 ribu jiwa.

    Jahat. Keji. Brutal.

    Rezim Bashar Al-Assad dan militer oposisi menjadi pelaku utama. Hal ini adalah bentuk kebiadaban dan sudah seharusnya menjadi duka dunia, terutama sesama umat muslim bersaudara.

    Perih menyayat. Seakan setiap peluru yang ditembakkan, roket yang dilancarkan, rudal yang dihempaskan, tak lelah membantai jiwa-jiwa yang bahkan tak bersalah. Bangunan yang runtuh, hangus terbakar, jalanan yang rusak, tak lagi berbentuk rupa, menjadi saksi atas peristiwa yang tak berperikemanusiaan.

    Duhai, betapa kerasnya hati ini bila tak sedikit pun merasa sedih melihat kekejaman yang gila itu.

    Maka marilah sejenak kita renungkan dan ingat kembali, bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya adalah saudara. Rasulullah SAW menggambarkan persaudaraan itu seperti satu tubuh, sesuai dengan sabdanya yang diriwayatkan oleh Nukman ibn Basyir, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya sakit, maka seluruh tubuhnya akan merasakan (penderitaannya) dengan tidak bisa tidur dan merasa panas.” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Demikianlah Islam mengajarkan tentang ukhuwah karena Allah semata. Hingga jarak yang jauh, perbedaan suku, ras, bahasa, apalagi batas negara, bukan menjadi suatu penghalang. Oleh karena itu, wajar lah jika Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Ukhuwah bukan terletak pada indahnya pertemuan, tetapi ingatan seorang sahabat kepada saudaranya di dalam doa.”

     

    Ya, maka di sanalah letak ukhuwah kita untuk saudara seiman dan semuslim di Aleppo. Di dalam doa-doa kita dan sujud-sujud panjang kita. Begitulah doa bekerja, bukan sekedar untuk mereka yang dekat, yang memiliki hubungan kerabat, namun juga untuk mereka yang tak pernah kita jumpai sebelumnya, yang bahkan wajah dan namanya pun tak tahu siapa.

    Biarkan hati kita tertunduk, tangan kita terangkat menengadah, dan bincang mesra kita dengan Allah mengetuk pintu langit, lantas berpilin bersama takdir dan menjadi perantara atas turunnya rahmat serta pertolongan Allah.

    “Sesungguhnya doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa seseorang yang jauh untuk saudaranya yang jauh.” (HR. Abu Daud). Wallahu a’lam bi shawab. (SFK/Nasiba)

Leave a Reply