• Saat Marah Menguasai

    Tausyah oleh Ust. Abdurrahman Yuri

    Suatu hari, Rasulullah Saw. bertanya pada sahabat-sahabatnya. Sabdanya, “Menurut kalian, siapa yang kalian anggap paling kuat?” Para sahabat pun menjawab, “Yaitu orang yang tidak terkalahkan dalam adu gulat”. “Bukan,” sabda beliau, “Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya saat marah. Sabda perihal adab ini, diriwayatkan oleh Abu Daud.

    Manusia, hakikatnya memang diciptakan memiliki emosi. Manusia diciptakan mampu merasa senang, merasa sedih, merasa gembira, merasa marah, dan lain-lain. Meskipun begitu, manusia dituntut untuk bisa mengendalikan emosinya, dalam hal ini emosi marah, sebagaimana nasihat yang telah dituliskan di atas. Contohnya, menjaga emosi ketika diejek oleh orang lain, ataupun saat mendapat kegagalan.

    Kebanyakan manusia ketika mendapat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya akan melampiaskan kemarahannya. Dalam mengantisipasi agar tidak marah, ada beberapa tips yang bisa kita lakukan ketika sedang marah. Yang pertama adalah harus selalu siap kapan saja. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia pasti akan bertemu dengan manusia lain dan berinteraksi. Dalam interaksi tersebut bisa jadi amarah muncul. Oleh karena itu, kita harus selalu siap sedia untuk menahan marah kapan saja dan dimana saja.

    Yang kedua adalah sering bertaawudz dengan maksud meminta perlindungan dari setan. Kemarahan manusia bisa jadi karena bisikan setan. Oleh karena itu, meminta perlindungan dari setan saat marah, perlu dilakukan.

    Yang ketiga adalah mengendalikan emosi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengendalikan intonasi saat marah. Manusia akan menganggap seseorang marah atau tidak dari intonasi berbicaranya. Jika kita marah tetapi dengan intonasi yang lembut maka orang lain akan menganggap kita tidak marah,  tidak ikut tersulut marah, dan lebih mengerti apa yang kita maksud daripada dalam keadaan marah.

    Yang keempat adalah mencari dan membuat suasana yang tepat untuk marah. Tidak etis jika kita meluapkan emosi di tempat umum. Lebih baik jika keinginan marah menghampiri, maka carilah tempat yang lebih privasi agar orang lain tidak memandang buruk kepada kita. Nah selain itu, perwujudan marah kita juga bisa saja berbeda kepada tiap orang, seperti kemarahan kita dengan tetangga, kerabat, atasan, bawahan, dan orang yang tidak dikenal. Hal ini juga perlu suasana yang tepat agar kemarahan tidak berkelanjutan dan bisa merusak tali ukhuwah.

    Yang kelima adalah meminta maaf kepada orang yang sedang marah meskipun kita yang benar. Orang yang marah pasti sedang memiliki emosi yang memuncak dan tidak akan menyadari apakah ia benar atau tidak. Jika kita menanggapi seseorang yang sedang marah dengan kemarahan pula, maka urusan tidak akan terselesaikan justru akan semakin panjang.

    Yang ketujuh adalah ingatlah kesamaan kita sebagai manusia. Biasanya keharmonisan akan muncul jika kita berada dalam satu tujuan atau memiliki kesamaan. Oleh karena itu, perlu bagi kita mengingat persamaan yang ada. Perbedaan, umumnya merupakan penyebab timbulnya kemarahan dan perselisihan. Apabila perselisihan sudah tersulut dan menyala, maka muncullah permusuhan. Orang yang bermusuhan, cenderung berdiam diri satu sama lain, namun dalam hati perasaan kesal masih memenuhi. Seiring waktu, pertengkaran pun terjadi. Pada fase ini, orang yang sedang bertengkar akan meluapkan dan mengatakan perasaannya. Hal ini bisa berakibat dengan terjadinya pengrusakan, keluarnya kalimat perpisahan atau pemutusan hubungan, dan berujung pada penyesalan.

    Yang terakhir adalah mintalah Allah untuk menolong kita, memberi kekuatan kepada kita untuk bisa mengatur kemarahan kita. Allah-lah yang Maha Membolak-balikkan hati, Allah juga yang pasti bisa menolong kita dalam mengatur kemarahan.

    Dengan beberapa tips-tips tersebut, insya Allah kita bisa mengendalikan amarah kita. Paling tidak, kita tidak menyakiti hati orang lain jika kita mengungkapkan uneg-uneg kita. Hidup di dunia ini haruslah dengan ilmu. Masalah hidup akan muncul jika menjalani sesuatu tanpa ilmu. Masalah hidup juga akan terselesaikan jika kembali kepada ilmu. Begitu pula marah, kita akan mudah marah jika kita tidak melandaskannya kepada ilmu. Jika kita melandaskannya pada ilmu, kemarahan kita bisa kita redakan dan bisa kita cegah.

    Allahu’alam bi shawwab. Semoga bermanfaat. (FH/TRH)

    Post Tagged with , ,

Leave a Reply