• Napas Perbaikan

    Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabatnya pernah mengalami kekalahan perang, salah satunya adalah pada perang Uhud. Awalnya, pasukan muslimin sudah memenangkan perang dan memukul mundur kaum kafir Quraisy. Namun, dalam sekejap, kemenangan tersebut berubah menjadi petaka kekalahan bagi Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Kekalahan perang Uhud diakibatkan oleh pasukan pemanah yang turun dari bukit, tempat dimana seharusnya mereka melindungi pasukan muslimin dari musuh, untuk mengambil harta rampasan perang (ghonimah). Padahal sebelumnya Rasulullah SAW sudah memerintahkan kepada mereka agar tetap berada di tempatnya apapun yang terjadi.  Turunnya pasukan pemanah ini diketahui oleh Khalid ibn Walid, pimpinan perang kaum kafir Quraisy, yang kemudian melakukan manufer untuk berputar balik dan menyerang kembali pasukan kaum muslimin. Hasilnya, perang pun terjadi lagi hingga banyak sahabat Rasulullah yang syahid dan kekalahan pun dialami oleh kaum muslimin.

    Masya Allah, Dialah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kesalahan, kegagalan, dan kekalahan kaum muslimin tersebut tidak membuat turunnya ayat Al Qur’an yang berisi kritikan, hujatan, ataupun hukuman dari Allah kepada kaum muslimin, melainkan perintah berupa nasihat, penyemangat, serta motivasi kebaikan yang terangkum dalam ayat ke-159 surah Ali Imran. Allah berfirman dalam ayat tersebut, “Maka, berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarah lah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakal lah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

    Ya, hakikat itulah yang sesungguhnya dibutuhkan oleh manusia saat ia melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan. Ia tidak membutuhkan hujatan dan kritikan atas kesalahan dan kegagalan yang ia lakukan. Sebaliknya, yang ia butuhkan adalah nasihat dan motivasi kebaikan untuk senantiasa bangkit dari kegagalannya. Bangkit untuk memperbaiki diri dan bangkit untuk berusaha tidak mengulangi kesalahannya, kemudian bertawakal pada Allah untuk keberhasilan usahanya. Inilah kodrat manusia yang senantiasa membutuhkan nasihat dan motivasi kebaikan untuk mencapai keberhasilannya, sehingga kesalahan dan kegagalan tidak membuat patah semangat dan putus asa.

    Dosa, khilaf, salah, serta bentuk kegagalan lainnya, merupakan sekumpulan ujian kehidupan yang sering didapat oleh manusia. Lemahnya diri dalam melawan hawa nafsu merupakan faktor terkuat yang menyebabkan itu semua. Sehingga ada kalanya manusia lalai atas tugas-tugas yang dimilikinya. Tugas-tugas yang tidak selesai, rencana-rencana hidup yang tidak terlaksana, cita-cita yang tidak terwujud, bahkan naudzubillah, perbuatan dosa yang sering dilakukan oleh manusia adalah bentuk nyata dari kelalaian tersebut. Walau demikian, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang masih membuka kesempatan kepada manusia untuk senantiasa bertaubat dan memperbaiki dirinya dengan berusaha menggapai ridho Allah selama nikmat berupa napas masih ada.

    Nikmat bernapas yang diberikan oleh Allah kepada manusia merupakan nikmat yang besar. Walaupun kita sering melakukan kesalahan dan mengalami kegagalan, namun jika Allah SWT masih memberikan nikmat napas kehidupan, marilah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sebab nikmat ini adalah kesempatan yang berharga untuk selalu memperbaiki diri dan berusaha sekuat tenaga dalam menggapai ampunan, rahmat, serta ridho Allah SWT. Hingga pada akhirnya, saat telah habis sisa napas kita pada waktunya, kita akan kembali dalam keadaan yang paling baik, yaitu husmul khatimah. Allahu a’lam bishawab.

     

    (Harun Subkhi)

     

     

     

Leave a Reply