• Menkeu Bambang Brojonegoro: Demokrasi dan Islam di Indonesia Bisa Jadi Kiblat Dunia

    Jakarta, (gomuslim). Sepekan lagi, Sidang Tahunan Islamic Development Bank (IDB) akan diselenggarakan di Indonesia, tepatnya di JCC, Jakarta. Selama empat hari nanti para dewan gubernur dan direktur  akan bersidang dari tanggal 16-19 Mei 2016. Acara tahunan ini akan disemarakkan dengan lokakarya yang mengupas persoalan ekonomi dan sosial di dunia Islam. Berikut ini gomuslim menurunkan hasil wawancara Menteri Keuangan RI Bambang P.S. Brodjonegoro sebagai tuan rumah mewakili Pemerintah Republik Indonesia.

    Seberapa Penting Indonesia di dalam rapat Sidang Tahunan IDB tahun ini?

    Indonesia adalah salah satu founding member atau pendiri Islamic Development Bank tahun 1975, dan sampai saat ini Indonesia masih menjadi anggota aktif dan selau berperan dalam pengembangan IDB itu sendiri.

    Tahun 1995 Indonesia pernah ditunjuk IDB sebagai tempat IDB Annual Meeting di Jakarta dan pada tahun 2016 kebetulan Indonesia dipilih lagi menjadi tuan rumah IDB Annual Meeting (ST IDB) dan kebetulan dalam sidang tahunan ini Indonesia sedang fokus untuk membangun infratruktur hingga tema IDB kali ini adalah bagaimana mengembangkan infrastruktur dengan instrumen keuangan atau pembiayaan berbasis syariah (Islamic finance). Dan juga bagaimana peran instrumen syariah tersebut di dalam mengurangi kemiskinan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

    Apa harapan atas pelaksanaan Sidang Tahunan IDB di Indonesia kali ini?

    Tentunya Indonesia adalah tidak hanya negara berpenduduk muslim terbesar tapi juga bisa menjadi contoh yang baik karena Indonesia adalah juga salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Dengan bergabungnya nilai-nilai demokrasi dan nilai-nilai Islam di Indonesia maka kita berharap Indonesia menjadi salah satu contoh bagi negara-negara berpenduduk muslim lainnya terutama dalam mengembangkan ekonomi dan pembangunannya. Dan jangan lupa Indonesia adalah anggota dari G20  berserta hanya 2 negara yang bebasis penduduk muslim yaitu Turki dan Saudi Arabia. Kita berharap peran kita aktif baik di dalam OKI maupun IDB akan bisa membangkitkan dan membangun kembali ekonomi yang bisa ditunjang oleh masyarakat muslimnya.

    Bagaimana caranya masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam keuangan syariah?

    Islamic finance dalam perkembangannya tidak lagi eksklusif tapi sudah menjadi inklusif. Artinya setiap warga negara bisa menikmati manfaat dari berkembangnya keuangan Islam atau islamic finance ini.  Contoh terakhir adalah SUKUK Ritel yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia di mana dengan nilai investasi yang tidak terlalu besar maka sebagian investor di Indonesia  bisa menjangkau SUK-RI (Sukuk Ritel) tersebut tentunya dengan imbal hasil yang sangat memuaskan dan yang lebih penting siapa pun yang invest dalam sukuk ritel tersebut ikut membangun negeri ini melalui APBN. (boz)

Leave a Reply