• Menjawab Masalah dengan Hamdallah

    “Jika sabar dan syukur adalah dua kendaraan, aku tak peduli harus naik yang mana.”

    (Umar ibn Khattab)

     

    Allah menjanjikan pada semua hamba-Nya, bahwa Dia akan membersamai setiap penyabar dan akan menambah nikmat bagi siapa saja yang bersyukur. Singkat kata, keduanya memiliki muatan yang sama, yaitu muatan kebaikan. Seorang kawan pernah bertanya, “Saya harus bagaimana dengan amanah ini? Bersabar? Atau bersyukur atasnya?” Sayangnya, saat itu saya belum tau pilihan mana yang terbaik bagi kawan saya tersebut. Namun kali ini, saya ingin mencoba menjawab pertanyaan itu dengan hikmah. Sabar atau syukur, lakukan saja yang kita anggap lebih mudah untuk melakukannya. Tak perlu diperbingungkan mana yang lebih baik diantara keduanya. Karena keduanya sama-sama penuh dengan kebaikan. Namun pada tulisan ini saya akan mencoba berbagi lebih banyak mengenai syukur. Sebab ternyata masalah yang kita dapatkan bisa dihadapi bukan hanya dengan sabar, melainkan juga syukur.

    Mari kita melihat lebih dekat dan mengenal lebih jauh tentang syukur. Jika kita memperhatikan, ada banyak sekali bentuk kenikmatan di sekitar kita. Mendapat kemudahan lulus tes perguruan tinggi, memperoleh rezeki tak terduga, mendapat nilai sempurna di ujian, dan masih banyak lagi telah menjadi bagian dari kenikmatan yang sudah seharusnya kita syukuri. Tetapi bagaimana bila hal-hal yang terjadi justru kebalikannya? Tidak lulus tes perguruan tinggi, gaji dua bulan kerja tak kunjung turun, dan nilai ujian jauh dari harapan meskipun sudah berusaha keras dalam belajar. Lalu apa yang akan kita lakukan? Berkeluh kesah? Ya, pada akhirnya tidak sedikit dari kita yang jatuh mengeluh, yang merupakan sifat dasar dari manusia, dan terpuruk dalam kegagalannya.

    “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma‘arij: 19)

    Padahal dalam menghadapi setiap kegagalan, rasa sedih, dan rasa kecewa, kita masih memiliki pilihan lain, yaitu bersyukur. Bersyukur atas masalah? Ya, kenapa tidak? Mari kita kembali mengingat kisah ketika Fir‘aun mengejar Nabi Musa dan pengikut-pengikutnya hingga ke tepi Laut Merah. Saat itu Nabi Musa dan pengikutnya dihadapkan pada lautan luas yang tak mungkin dilewati, sedangkan dari belakang pasukan musuh kian dekat. Takut. Perasaan tersebut seakan menular dari satu pengikut ke pengikut lainnya. Lalu saat itu lah, Nabi Musa memanjatkan doanya kepada Allah.

    “Allahumma lakal hamdu… ya Allah, segala puji bagi-Mu.”

    Begitulah Nabi Musa memuji Allah. Nabi Musa justru bersyukur saat masalah sedang berada pada puncaknya. Dengan kepasrahan hati yang luar biasa, Nabi Musa berhamdallah dan mempercayakan semuanya kepada Allah SWT. Maka di titik ini lah kita dapat menyaksikan kebesaran Sang Maha Rahman. Ketika Nabi Musa bersyukur karena telah mampu berlari jauh untuk menghindari kejaran musuh, di situ lah Allah menambahkan nikmat lainnya kepada Nabi Musa berupa jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapinya. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7). Maka terbelah lah laut merah atas izin Allah, sehingga Nabi Musa dan pengikutnya dapat meloloskan diri dari kejaran Fir‘aun dan pasukannya. Hingga sekarang, kalimat hamdallah ini terus turun dari satu nabi ke nabi selanjutnya. Bahkan sampai kepada Nabi Muhammad SAW dan akhirnya kita sebagai umatnya.

    Bagaimana dengan kasus sehari-hari yang sering kita hadapi? Mari kita coba mengambil contoh. Seseorang yang selalu mendapatkan nilai baik, bahkan cenderung sempurna, yaitu mendapat nilai mutu A atau AB, tiba-tiba pada satu mata kuliah mendapat nilai C. Maka tanpa kemampuan memuji Allah dan berpikir positif, akan cenderung sulit melihat nikmat berupa nilai baik yang telah didapatkan sebelum-sebelumnya. Tanpa kemampuan bersyukur kepada Allah SWT, satu nilai C dapat menyebabkan semua nilai A atau AB yang pernah didapatkan seakan tidak menyisakan kebahagiaan. Menurut Ustadz Yusuf Mansur, di antara sebab tidak mampu melihat karunia yang Allah berikan kepada kita, bukan hanya karena pikiran yang membentuk, tapi juga karena Allah dilupakan dan cenderung dikeluhi seolah tak ada kebaikan Allah. Na‘udzubillahi min dzalik.

    Oleh karena itu yang perlu kita lakukan adalah melihat dari kerangka yang lebih luas. Melihat keseluruhan nikmat yang sudah kita dapatkan. Tak mungkin tidak ada sedikit pun kebaikan di sana. Sebab perbuatan mengeluh hanya akan menggugurkan syukur kita yang artinya kita lupa bahwa setiap ketentuan datangnya dari Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hal ini juga dapat menjadi ujian hidup bagi kita, karena sesungguhnya Allah mungkin merindukan syukur kita dan ingin melihat sejauh mana kita dapat bersyukur atas ketentuan yang diberikan-Nya.

    Selain itu, salah satu alasan penting mengapa kita harus bersyukur dapat dijelaskan secara ilmiah. Siap-siap menyimak ya. Bersyukur akan memperkecil rasa sakit pada tubuh kita. Bapak Berry Juliandi, seorang dosen ahli dalam bidang Neuroscience, menceritakan pada salah satu tulisannya yang berjudul “Keuntungan Bersyukur”, bahwa secara sederhana, perasaan bersyukur akan menstimulasi hipotalamus dan hipofisis pada otak untuk menghasilkan hormon endorphin. Hormon endorphin adalah hormon yang apabila semakin meningkat jumlahnya akan mengurangi rasa sakit pada diri seseorang. Endorphin dapat mencegah pengeluaran neurotransmitter dari suatu sel saraf, sehingga walaupun sel saraf pengindera rasa sakit terangsang dan hendak meneruskan rangsangan ke otak, dengan adanya endorphin, penerusan ini tidak akan terjadi atau dicegah pada sinapsis tertentu. Sehingga otak tidak akan pernah tahu bahwa ada bagian tubuh yang tersakiti, karena laporan rasa sakit itu tidak pernah sampai ke otak.

    Maka sekalipun itu adalah sebuah masalah yang sulit, belajar bersyukur atasnya bukanlah hal yang mustahil. Mari membuka mata hati dan melihat setiap kesulitan yang kita hadapi dari sudut pandang yang lebih luas, sehingga kebaikan Allah di setiap permasalahan dapat kita lihat dan kita ambil hikmahnya. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur. Aamiin.

    Masalah? Alhamdulillah dulu aja.

    (Ayuning Tyas/SFK)

Leave a Reply