• Membangun Organisasi yang Islami

    Islam adalah agama yang ajarannya syumul, yaitu mencakup seluruh bidang kehidupan, baik ibadah, mu‘amalah, akhlak, dan lain sebagainya. Seperti yang Allah firmankan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” Ayat tersebut menjelaskan bahwa semua urusan manusia harus sesuai dengan ketentuan dan perintah Allah SWT. Sehingga jangan sampai kita hanya memperhatikan aspek ibadah dalam ajaran Islam, sementara aspek lainnya kita tinggalkan. Dengan kata lain, kita menganggap Islam hanya mengatur kita dalam urusan ibadah, sedangkan urusan lainnya tidak memerlukan aturan Islam. Oleh karena itu, sejatinya aktivitas seorang muslim harus sesuai dengan ajaran Islam termasuk dalam beroganisasi.

                     Organisasi dapat diibaratkan sebagai sebuah bangunan. Hal ini senada dengan firman Allah dalam surat Ash-Shaff ayat 4, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” Bangunan yang dimaksud ini terdiri atas bagian-bagian yang saling menopang satu sama lain sehingga bisa berdiri tegak. Bagian tersebut diantaranya adalah pondasi, lantai, tembok dan tiang, serta atap.

                     Visi dan misi dalam sebuah organasasi bagaikan pondasi dasar dari sebuah bangunan. Oleh sebab itu, dalam hal ini diperlukan kesamaan ideologi dan nilai-nilai yang dianut. Kemudian program kerja menjadi lantai tempat berpijaknya organisasi untuk berjalan, sehingga dapat mewujudkan visi dan misi yang telah disusun. Program kerja ini harus lah sesuatu yang bersifat inovatif dan kreatif tanpa bertentangan dengan prinsip-prinsip mu‘amalah. Selain itu, program kerja juga harus efisien dan efektif dengan cara tidak israf dan itqan (tepat dan terarah).

                     Setelah pondasi dan lantai bangunan terbentuk, hal yang tidak kalah penting adalah para pengurus yang bagaikan tembok dan tiang penentu bagi berdirinya suatu organisasi. Pengurus ini terdiri atas pemimpin dan anggota. Diantara keduanya harus memiliki hubungan yang harmonis dan saling bersinergi. Seorang pemimpin harus bisa bertanggung jawab atas kesejahteraan anggota organisasinya dan seorang anggota harus mampu tsiqoh (percaya) kepada pemimpinnya selama tidak melanggar syariat Islam.

                     Dalam organisasi setiap orang memiliki jabatan atau peran masing-masing. Jabatan tersebut merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Lewat jabatan itu lah kita bisa menjadikannya peluang untuk beribadah kepada Allah SWT, memberi manfaat kepada orang lain, mensejahterakan kehidupan, serta meningkatkan dakwah Islam. Untuk menjalankan amanah yang telah diberikan kepada kita, setiap pribadi harus memiliki etos kerja yang mencakup: Ash-Shalah (baik dan bermanfaat), Al-Itqan (kemantapan), Al-Ihsan (berbuat yang terbaik), Al-Mujahadah (kerja keras dan optimal), Tanafus dan Ta‘awun (berkompetisi dan tolong menolong), serta mencermati nilai waktu.

    Selanjutnya, mardhatillah (mencari keridhaan Allah SWT) sebagai tujuan akhir organisasi diibaratkan seperti atap dari suatu bangunan. Dunia ialah sebagai tujuan antara, sedangkan akhirat menjadi tujuan yang utama. Tujuan yang tepat harus ditopang oleh kesamaan visi dan misi, profesionalisme sumber daya manusianya (Itqan), serta program kerja yang sesuai dengan syariah dan bersifat inovatif.

    Tolak ukur keberhasilan suatu organisasi yaitu ketika organisasi tersebut bisa merubah pengurus pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya ke arah yang lebih baik. Seperti firman Allah pada Quran surat Ar-Ra’du ayat 11, “Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

    (Ayuning Tyas/SFK)

Leave a Reply