• IDB Bertekad Bantu Infrastruktur Indonesia

    84_4Bogor, (gomuslim). Islamic Development Bank (IDB) mencoba berkomitmen untuk berbuat banyak di Indonesia dalam bidang pembiayaan infrastruktur dan keuangan syariah inklusif.

    Menurut ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional  (KEIN), Sutrisno Bachir, sekarang IDB  berfokus bagaimana bisa berbuat banyak dengan Indonesia dengan berinvestasi di sejumlah kegiatan pembangunan infrastruktur dasar.

    “Itu mudah-mudahan bisa menarik dana-dana melalui IDB untuk diinvestasikan (sebagai pembiayaan infrastruktur: red) di Indonesia. Tentunya harus bekerja sama dengan para pengusahanya di sini,” kata Sutrisno saat ditemui gomuslim di acara Young Preneurs Days Out – DINAR, Day of Islam Economic revival, di kampus Tazkia, Sentul Bogor, Kamis (05/05/2016).

    Langkah komitmen itu ternyata juga membuahkan ide untuk merancang pembentukan Bank Infrastruktur Islam, yang bekalangan sudah dirapatkan untuk mendirikan kantor pusat (Head Quorter)nya di Indonesia.  Lembaga keuangan baru di bawah IDB ini kelak dikhususkan untuk menangani pembiayaan pembangunan infrastruktur di negara-negara anggota.

    Sementara menurut Muhammad Syafii Antonio, direktur Tazkia Univercity College of Islamic Economics, IDB menggagas pendirian International Mega Islamic Bank. “Ada yang namanya—International Mega Islamic Bank. Itu gagasan sudah hampir mengkristal bahwa lembaga keuangan ini patungan beberapa negara muslim (anggota IDB). Lembaga ini khusus menangani Islamic Infrastructure financing. Yaitu pembiayaan pembangunan infrastruktur dengan prinsip syariah di negara-negara anggota dan negara dengan komunitas muslim,” ungkapnya kepada gomuslim di Sentul City, Bogor.

    “Penyertaan modalnya dari beberapa anggota utama—karena dari 56 anggota belum semuanya mampu berkontribusi. Kalau tidak salah hanya 10 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Turkey, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman, Aljazair, juga Maroko. Yang punya duit kan hanya (negara: red) itu-itu itu saja,” jelasnya.

    Islamic Infrastructure Financing atau pembiayaan infrastruktur dengan prinsip syariah kini menjadi topik utama dalam sidang tahunan IDB di Indonesia pertengah Mei nanti. Syafii Antonio mengatakan pembiayaan infrastruktur lebih dibutuhkan Indonesia. Kalau pembiayaan yang lain seperti perdagangan, ekspor-impor sudah tertangani oleh perbangkan yang ada. Untuk infrastruktur ini menurutnya peluangnya besar, dan nilai investasinya besar, jangka panjang serta return investment nya lama. Sehingga swasta jarang mau masuk.

    “Alasan lainnya, karena infrastruktur ini bidang yang sangat luas, dan kesempatannya terbuka lebar. Indonesia menjadi negara yang lekretif dibandingkan negara lain; misalnya Afrika yan sama butuh infrastruktur. Tetapi daya belinya tidak mendukung. Kemudian stabilitas politiknya juga kadang tidak menentu. Demikian juga Timur Tengah sekarang ini perlu infrastruktur setelah hancur (akibat konflik sektarian) itu perlu dibangun. Tapi perangnya belum beres. Jadi kawasan ini (Indonesia)-lah yang sebenarnya lebih menjanjikan,” ujarnya kepada gomuslim.

    Sebenarnya menurut Antonio, negara anggota lain juga menjanjikan seperti Turki, Iran, Aljazair, Tunisia atau Maroko. Tetapi Indonesia lebih menjanjikan. Sebab kebutuhan infrastrukturnya lebih besar, beragam dan kemampuan daya belinya lebih tinggi.

    “Bahkan untuk kawasan ASEAN. Kita menguasai sekitar 41% pasar ekonomi ASEAN, itu ada di Indonesia,” tambahya.

    Namun, pasar yang besar ini belum didukung oleh pertumbuhan industri dan manufaktur. “Memang kita ini the largest market in ASEAN tapi kita bukan biggest producer. Justru produksi ini banyak saat ini dikuasai Cina. Sebentar lagi Vietnam sudah mulai, dan Malaysia lebih agresif dari kita.”

    Meski demikian, keuangan syariah ingklusif perlu tetap berjalan, untuk lebih banyak lagi mengajak masyarakat berpartisipasi, terutama yang belum punya account syariah. Demi memperbesar pasar keuangan syariah, dan industri perbankan syariah.

    Ketua KEIN, Sutrisno Bachir, dengan optimis mengajak masyarakat, pengusaha untuk terlibat aktif dalam perekonomian nasional maupun regional dengan tetap menyertakan prinsip syariah.

    “Jadi begini, Islamic finance itu akan tumbuh pesat di Indonesia. Bukan hanya di Indonesia, malah di dunia. Sekarang bagaimana pemainnya dari Indonesia, yang mayoritas umat Islam, itu harus jadi pemain. Jangan nanti pemain dari keuangan syariah itu justru non-muslim— misalnya dari Singapura, Eropa, Amerika,” katanya yang belakangan mengaku tengah mendirikan manajer investasi syariah. “Nanti masyarakat, pengusaha-pengusaha muslim Indonesia jadi pemain di situ.” (boz)

    Post Tagged with ,

Leave a Reply