• Kisah Seorang Jundi

    Jundi namanya. Dengan segala ketaatan yang diiringi hormat ia menjalankan perannya untuk selalu medukung sang qiyadah. Jundi namanya. Meskipun bukan ditangannya keputusan dibuat, namun ia punya hak dalam menyuarakan pendapatnya. Jundi namanya. Beban yang dipikul di pundaknya tidaklah seberat sang qiyadah, tapi tanggung jawab yang dibawanya tak pula dapat disebut ringan.

    Wahai jundi, angkatlah kepalamu, tegakkan badanmu, luruskan niat, serta rapatkan barisanmu. Apakah kau tahu, bahwa di jalan yang panjang ini, engkau turut memegang peranan yang besar jalan perjuangan? Duhai jundi, nyalakan semangatmu, pijarkan totalitasmu, teguhkan tekad dan komitmenmu karena di jalan ini, jalan pengorbanan, dibutuhkan pasukan yang kuat, berani, dan selalu bersiap.

    Jundi, rasa apakah itu yang tersirat di hatimu? Rasa takut, kah? Takut tidak bisa berkontribusi dengan maksimal bersama qiyadahmu. Rasa bingung, kah? Bingung langkah apa yang harus kau tapaki untuk mengiringi qiyadahmu. Rasa sedih, kah? Sedih dan malu, karena begitu sedikit waktu dan jatah pikiranmu untuk sepotong episode perjalanan mulia ini. Jundi, bilamana rasa-rasa itu bertempat di sanubarimu, maka bersabarlah dan bersyukurlah. Sebab jundi, saat itulah kamu sebenarnya sedang berjalan beriringan dengan qiyadahmu, merasakan apa yang dirasakan qiyadahmu, dan berusaha membenahi diri untuk tetap berjuang lalu bertahan hingga akhir perjalanan.

    Jundi, tataplah qiyadahmu, kuatkan ia disamping ia menguatkanmu, ingatkan ia disamping ia mengingatkanmu. Seperti bangunan yang kokoh, jadilah engkau bagian di dalamnya. Karena tak semua komponen bisa menjadi atap, jendela, atau pun pintu. Bahkan susunan bata pun tak bertumpuk di satu tempat, ada yang di atas, di bawah, atau sejajar, di samping kanan dan kirinya. Tak pula sempurna kokohnya bangunan, bila hilang salah satu komponennya. Maka, di sanalah kau harus menyadari, bahwa jundi, kau sebagai bagian dari bangunan adalah komponen yang penting, seperti qiyadah.

    Laksana perang, jundi, kau memegang harapan dan cita-cita kemenangan, membawa panji perubahan, dan berperan meneguhkan pilar-pilar kebangkitan. Jundi, setiap kamu menjadi penyokong dalam pasukan, simbol persatuan, dan penyampai pesan kebenaran. Di mana masing-masing darimu telah menggenggam sebuah lentera, yang apabila selalu menyala, maka teranglah jalan di sepanjang perjuangan. Meskipun, jundi, kau tahu bahwa lentera itu tak ubahnya ukuran seekor kunang-kunang.

    Maka jundi, jangan biarkan sang qiyadah berjalan sendirian, sampai merasa sepi dalam ramai. Maka jundi, berkontribusi lah sebaik-baiknya dalam peranmu. Berbuat besar lah, karena amanah tidak melihat siapa kamu, jundi kah, qiyadah kah, tapi amanah meminta tanggung jawab serta janjimu, istiqomah serta komitmenmu. Kemudian belomba lah, sebab amanah tidak menilai apa jabatanmu, melainkan ikhlas, syukur, dan sabarmu. Ya, jundi namanya. Ia tidak memandang rendah dirinya, apalagi qiyadahnya. Namun, ia bekerja dengan kerendahan hatinya yang dipenuhi rasa lapang dan cinta.

    Tertanda,

    Jundi

Leave a Reply