• Tiga Pilar Dasar Pergerakan Dakwah

    #Ghirah_Reminder_23

    “Sebuah pantangan bagi kader dakwah,” ujar seorang kawan, “untuk berpikir pesimis. Sebab para kader dakwah seharusnya sudah meyakini bahwa Allah ada dalam setiap langkah mereka. Lalu apa yang seharusnya ditakutkan selain kehilangan Allah karena maksiat?”

    Al-Wasilah (sarana) adalah sebuah hal wajib dalam pergerakan. Sarana biasanya diartikan sebagai komponen pelengkap. Ada yang juga mengartikan bahwa sarana adalah ‘pelumas’ bagi satu pergerakan, solver dari setiap permasalahan, dan ‘pelancar’ dalam setiap aktivitas.

    Dalam proses belajar mengajar, seorang dosen memerlukan papan tulis agar materi sampai kepada mahasiswanya. Namun terkadang papan tulis saja tidak cukup. Dosen mesti mempersiapkan peraga lain seperti powerpoint, latihan soal, dlsb, dengan tujuan agar para mahasiswa paham dengan apa yg disampaikan.
    Pada kasus ini, papan tulis, ppt, dan latihan soal merupakan sarana.

    Lalu pertanyaannya, bagaimana dalam konteks pergerakan dakwah?

    Suatu pergerakan dakwah MESTI menganut tiga pilar dasar sebagai sarana mereka dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah dirancang.

    1. Manhaj yang benar
    Bahwa perjuangan dakwah harus menerapkan apa yg tertera dalam kitabullah, Sunnah Rasulullah, dan ahkamil islam secara penuh tanpa pengurangan. Manhaj ini harus bersih, segar, dan jauh dari hal2 yang diada2kan.
    Sebuah pergerakan dakwah harus menganut pemahaman Islam secara Syamil wa Mutakammil.

    2. Aktivis yang beriman
    Sudah sewajarnya para aktivis dakwah merupakan orang yg beriman. Ia bukan manusia yg mengenal kelelahan, kelembekan, dn gemar memendam kekecewaan di jalan Allah.
    Keimanan yg kuat akan menuntun setiap orang untk memegang teguh fikrah mereka, meyakini tujuan mereka, dan mengimani bahwa Allah akan menolong selama tetap bergerak di jalan-Nya.

    3. Pemimpin yang tegas dn terpercaya
    Sama seperti shaff shalat. Ruku’, sujud, bahkan Qunut harus dilakukan sesuai dengan perintah sang pemimpin selama itu berada dalam koridor ketaatan kepada Allah swt. Sebab dalam satu barisan, ketergabungan dan keterikatan kita mengandung konsekuensi untuk taat pada pemimpin di barisan tersebut.
    Maka, peran pemimpin di sini sangat krusial. Ia haruslah menjadi orang yang taat dan paham tentang apa yang ia lakukan, teguh pada pendirian di atas kebaikan, dan langkahnya pasti tanpa mau melirik pada ‘konten-konten’ lain di luar Al-Qur’an, ahkamil islam wa sunnati Rasulillah.

    Selama ketiga komponen itu ada, maka selama itu pula sebuah barisan akan tetap eksis di muka peradaban.

    Maka, mari ambil posisi. Semoga Allah mengaruniai kita kekuatan dan keteguhan dalam ketaatan kepadanya.

    Allahu a’lam
    Uhibbukum Fillah,

    Andi Fikri

    Post Tagged with ,

Leave a Reply