• Sengketa Hati Ustadzah Maemunah

         Nadira khawatir dengan sang ustadzah, berkali-kali ia menyeka air matanya yang mengalir namun tak juga berhenti. Akan tetapi satu yang sangat ia khawatirkan. Dirinya sendiri. Apakah ia akan menanggalkan jilbab besar yang telah susah payah ia perjuangkan dan pakaian syar’i yang ia perjuangkan susah payah dari amukan keluarga. Ustadzah Maemunah telah berhasil menyejukkan kerontang dengan air hujan, namun kini segalanya kembali menjadi gurun kering. Nadira menyaksikan sang ustadzah berjalan keluar dari mushola sambil meredam tapak kakinya dan membawa kotak warna cokelat pekat berisi uang. Entah setan apa dengan halus membisiki hati yang dulu putih namun kini menjadi gelap hitam pekat. Ah hati, tiada yang tahu bagaimana Allah membolak-balikkan.

         Masih segar diingatan, bagaimana ustadzah dengan senyum baiknya menatap Nadira yang masih mengurai rambut hitam panjang lantas mendapat sindiran halus oleh kawan-kawannya tentang aturan berhijab bagi seorang muslimah. Nadira jengah setengah mati, pikirnya hijab adalah sebuah pilihan. Toh jika laknat Allah memang ada, dirinya lah yang menanggung, bukan kawan-kawannya. Ustadzah Maemunah mengelus rambut hitam Nadira saat ia manyun sebal bukan main.

         Ustadzah Maemunah mengajak Nadira berkeliling, usaha yang dilakukan Ustadzah Maemunah agar manyun Nadira setidaknya sedikit berkurang. Mereka tiba pada sebuah pasar becek dan kotor, banyak lalat hinggap sana sini, beralih dari tong sampah menuju dagangan para penjual. Tempat yang tak terduga. Nadira bergidik jijik. Ustadzah juga nampak demikian, raut wajahnya segera ingin menjauh dari pasar.

    “Apakah kau lapar?”

    “Bagaimana aku bisa makan di tempat seperti ini?”

    “Apa kau mau makan itu?” Ustadzah Maemunah menunjuk jajanan pasar tanpa plastik atau etalase makanan tepat di sebelah tong sampah besar.

    “Ustadzah ingin aku sakit perut? Melihatnya saja aku sudah mual.” Sayap lalat terdengar bising di sekitar mereka terlebih di sekitar lapak para pedagang yang menggelar makanan. Nadira melihat kaki-kaki lalat menginjak bebas makanan-makanan tanpa pembungkus. “Bisakah kita pergi ke tempat lain? Ustadzah menambah buruk mood ku.”

         Ustadzah Maemunah menyerah dan pergi ke tempat lain. Sebuah tempat makan dengan cat putih bersih. Di depannya berjejer etalase yang didalamnya terdapat kue dan jajanan serba manis dibungkus plastik makanan rapih. Tak ada lalat beterbangan barang satu ekor pun. Mereka memesan dan melahap masing-masing pesanannya. Nadira terlihat riang. Mood nya begitu mudah ‘disuap’ jika perutnya terisi. Mereka berdua berbincang, bersendau dan gurau layaknya seorang adik dan kakak.

    “Apakah kau menyukai kue kita siang ini?” Nadira mengangguk setuju. “Kenapa kau lebih memilih kue disini daripada pasar yang kita kunjungi sebelumnya?”

    “Apa ustadzah tak melihat puluhan lalat yang mengerubungi kue di pasar tadi? Aku tak ingin mencari penyakit.”

    “Kau juga tak bisa membiarkan dirimu dirubungi lalat seperti ini.”

    “Maksud ustadzah?” Ustadzah Maemunah menunjuk sekeliling dengan pandangannya, segerombolan lelaki muda menatap ke arah Nadira sambil melemparkan senyum genit. Nadira mengamati dirinya sendiri, rambut hitam terurai panjang dengan rok selutut dan kaos sesiku. Ada dengus kesal di hati Nadira. Ia mulai meraba apa maksud perempuan di depannya ini.

    “Aku bukan kue atau jajanan yang di sajikan di toko ini atau pasar tadi, jadi ustadzah tak bisa membandingkan keadaan seperti itu!”

    “Kau memang benar. Kau lebih berharga dari sekadar kue apalagi jajanan murah di warung. Jadi jangan biarkan banyak pandangan yang bebas melirikmu karena kau sangat berharga, kau perempuan muslim yang mulia.”

         Nadira mengira setelah kejadian tersebut Ustadzah Maemunah berhenti menghakiminya, seharusnya Ustadzah Maemunah melihat raut wajah Nadira yang merah terbakar marah, siapapun akan mundur ketakutan. Ternyata sangkaannya salah. Ustadzah itu tak patah arang. Setiap hari ia mendekati Nadira, anehnya Nadira tak merasa risih, ia justru menemukan kenyamanan dari perasaan lembut yang diberikan kepadanya. Bukan penghakiman yang didapat, namun justru kebaikan demi kebaikan. Ia begitu bersemangat setiap kali menghadiri pertemuan dengan ustadzah Maemunah. Hingga suatu saat Nadira menyerahkan diri kepada Ustadzah Maemunah untuk dikenakan hijab yang menjulur menutup auratya. Ustadzah itu sendiri yang mengikatkan kerudung pertama kali di kepala Nadira. Nadira meneteskan air mata ketika itu. Ia meratapi dosa oleh kedzaliman yang dilakukan pada tubunya selama ini. Akan tetapi, ustadzah Maemunah menjabarkan ampunan Allah yang maha luas. Nadira masih beruntung diberikan kesempatan berhijab saat ini, bagaimana jika ia berhijab saat segalanya telah usai, satu-sataunya yang bisa dikenakan hanyalah hijab putih menutup seluruh tubuh jika waktu itu telah tiba. Ustadzah Maemunah mengajarkan Nadira banyak hal.

         Nadira kembali berurai air mata saat pilihan berhijab syar’i nya ditentang keluarga. Saat itu pula Ustadzah Maemunah maju sebagai tameng utama amukan marah keluarga Nadira. Berbagai tuduhan mulai dari aliran sesat hingga teroris disematkan kepadanya. Nadira kaget bukan main, keluarga yang dulu begitu hangat menjadi murka. Ustadzah Maemunah setiap hari pergi ke rumah Nadira membawakan makanan, buah, hadiah. Apapun yang membuat keluarga Nadira melunak hatinya. Batu yang keras akan berlubang jika ditetsi air. Begitu ujar Ustadzah Maemunah kepada Nadira. Benar pula, setelah berbulan-bulan lamanya dengan setiap harinya Ustadzah Maemunah menyambangi kedua orang tua Nadira, luluh itu pun muncul. Dengan sejuta pengertian dan pemahaman baik. Lebih dari itu, kedua orang tua Nadira mulai penasaran dengan pengertian Islam yang baik, antusiasme mereka terhadap Islam terpantik. Nadira riang bukan main. Allah punya segala cara mendatangkan hidayahNya.

         Kini segala tembok baik runtuh seketika hancur oleh pemandangan di hadapan Nadira. Nadira mengejar Ustadzah Maemunah. Ia menyentuh bahu Ustadzah Maemunah yang kaget bercampur ketakutan, namun dengan kasar ia melepas tangan yang menyentuh bahunya dan kembali berjalan lebih cepat. Nadira geram, air mukanya marah, diseretnya kedua lengan tangan Ustadzah Maemunah, ada perasaan yang tak enak. Nadira berusaha mengatur nafas dan menahan air mata.

    “Apa yang kau ingin ketahui bocah kecil?”

    “Ustadzah Maemunah terlihat seperti pencuri.”

     “Kau tak tahu apa-apa. Jadi jangan coba mengurusi hidup orang lain.” Orang ini bukan Ustadzah Maemunah, Nadira tak mengenalinya lagi. Tatapan marahnya, tajam suaranya, hardikan katanya.

                “Ustadzah Maemunah terlihat seperti maling.” Nadira mencoba menahan getar suaranya.

                “Kau pintar menebak.” Ustadzah Maemunah nyinyir.

                “Apa yang bisa kubantu?” Nadira tak bisa mengatakan apapun. Rasa terkejutnya manahan kata-kata.

                “Tak ada yang bisa kau lakukan.” Ustadzah Maemunah memandang Nadira dingin. “Kehidupanmu itu terlalu sempit untuk bisa melihat sebuah keluarga lain yang terjerat banyak hutang, bahkan jika seumur hidupmu dihabiskan bekerja, upah itu tak mampu membayarnya. Mungkin butuh 3 kehidupan lagi untuk melunasi. Ada penawaran lain, dan menjadi kemungkinan besar untuk diambil, yakni penebusan nyawa. Nyawaku mungkin tak berarti apa-apa, tapi nyawa orang tuaku? Aku tak bisa menyaksikan kedua leher mereka digorok oleh lintah-lintah darat itu. Jika kau di posisi ini, apapun akan kau lakukan, bahkan jika harus mengorbankan dirimu sendiri. Apapun kondisinya. Apapun resikonya. Kau khatam kan bagaimana rasanya hampir kehilangan keluarga?” Ustadzah Maemunah mendorong Nadira jatuh ke tanah. Ada tatapan sakit di mata Ustadzah Maemunah, namun dihiraukannya dan beranjak pergi menghilang secepat mungkin.

         Nadira memperhatikan dirinya saksama, jilbab yang lebar, baju yang longgar. Segalanya ia bangun atas nasehat Ustadzah Maemunah, ia yang menggambarkan baik dan buruk, ia yang memberikan pengertian mengenai pahala dan dosa, ia pula yang membantu Nadira membayangkan nikmatnya surga dan pedihnya neraka. Lantas kini segalanya dirubuhkan oleh yang membangun. Nadira compang-camping, ia kini hanya bersandar pada Sang Maha Yang Pantas Diminitai Sandaran. Manusia punya hitam dan putih, mereka begitu rapuh, tak sepantasnya manusia bergantung pada manusia lain yang penuh kelemahan.

     

    Post Tagged with ,

Leave a Reply