• Joko

    “Bos! Tolong ceitakan siapa Joko sebenarnya? Kenapa Ia sampai kau pasang fotonya di atas meja kerjamu?” Tanya sekretaris yang sedang duduk sofa.

    “Aku memajangnya karena dialah yang membuatku berubah, Shan.”

    “Aku tidak mengerti.”

    “Ceritanya panjang.”

    “Tak apa, aku telah mengerjakan tugas-tugas darimu, belum ada tugas lagi darimu. Jadi aku cukup bebas.”

    “Oke.”

    “Aku terlahir di keluarga yang sangat cukup, cukup mempunyai mobil empat, cukup mempunyai empat supir, cukup mempunyai iPhone 5, dan cukup mempunyai rumah dengan kolam renang di dalamnya. Suatu ketika, aku diterima di SMA favorit di Jakarta. Aku memiliki anak buah di sana. Hidupku sangat nyaman di sana. Sampai kemudian, aku bertemu dengan Joko dan temannya, Gabriel, duduk di kursi yang biasa aku dan anak buahku duduki.”

    “Lalu, Bos?”

    “Lalu aku mendorong dia hingga mukanya menyentuh tanah. Gabriel kesal hingga mencoba menarik kerah leherku, untungnya anak buahku mampu menahan tubuh Gabriel yang besar, ‘Dasar pengecut! Kalau berani sini sama gua! Jangan menindas yang lemah!’ kata Gabriel. Kemudian Joko menepuk pundak Gabriel searaya berkata, ‘Sudahlah, mungkin Ia lagi kesal karena suatu hal. Udah yuk Gabriel, kita tinggalkan mereka.’, ‘Tapi…’ kata Gabriel yang kemudian ia terdiam lantaran Joko menarik kemejanya menjauh dari kami.”

    “Kau sangat kejam, Bos.” Tanggap sekretaris seraya menunjukku dengan telunjuk kanannya yang mungil dan berbalut cat merah di atas kukunya.

    “Itulah yang dilakukan kebanyakan orang yang kaya saat itu, sepertiku.”

    “Lalu gimana lagi, Bos?” Tanya sekretaris yang kemudian meminum kopi yang ia buat sebelum pembicaraan ini dimulai.

    “Aku sangat menikmatinya, mengerjai si Joko, karena kelakuan tadi sangat sok di mataku pada waktu itu. Pernah saat makan siang, aku menumpakahkan kuah mie ayam yang ada di depannya sambil berkata, ‘UpsSorry ya Bro! Gak sengaja gue.’ Saat itu Gabriel memukul meja hingga semua anak di kantin melihat kami, ‘Anjing! gue tau lu tuh sengaja!’ Kata Gabriel. Lagi-lagi, Joko menepuk pundak Gabriel sambil berkata, ‘Sudahlah Gabriel, dia kan bilangnya gak sengaja. Lagian ini bisa dicuci, kok.’”

    “Gila Bos! Itu sih keterlaluan!” Komen sekretaris sambil menggeleng-gelengkan kepalanya

    “Itu baru permulaan.” Kataku sambil tersenyum

    “Hah?! Sekejam itukah dulu, Bos?”

    “Mungkin kalau aku masih seperti itu, maka aku tidak akan memiliki perusahan sebesar ini.”

    “Lantas, apa yang membuatmu berubah hingga bisa memiliki perusahaan sebesar ini?”

    “Mau kulanjutkan ceritanya?” Tanyaku dengan nada sedikit menyindir.

    “Oh iya bos, silakan.”

    “Oke. Jadi, beberapa kali aku coba membuat Joko marah, tapi tetap tidak bisa. Bahkan, ketika aku berpapasan dengannya, dia membuat raut muka yang enak di pandang.”

    “Maksudnya bos?”

    “Dia tersenyum padaku!”

    “Hebat banget tuh orang!”

    “Selama itu pula, Shan. Gabriel kesal kepadaku setengah mati. Kadang, ia coba untuk melabrakku. Lagi-lagi—untungnya—anak buahku menghentikan langkah Gabriel. Hal itu membuatku semakin senang mengerjai Joko. Sampai saat UTS, aku mendapat nilai yang lebih baik dari Gabriel, yang membuat Gabriel sibuk untuk belajar agar UASnya tidak jeblok juga. Ketika itu frekuensi aku mengerjai Joko menjadi lebih tinggi.”

    “Jadi Gabriel gak ganggu bos lagi?”

    “Enggak.” Gelengku pelan.

    “Terus gimana kelanjutannya?”

    “Aku terus mengerjai Joko. Sampai beberapa kali aku dipanggil ke kantor kepsek karena kenakalanku yang melampaui batas. Sempat beberapa kali malah, orangtuaku dipanggil oleh kepala sekolah. Untungnya, mereka tidak bisa hadir karena sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tak ada yang mengingatkanku tentang karma pada saat itu.”

    “Karma? Berarti Bos….”

    “Iya, aku terkena karma. Waktu itu aku sedang berjalan di koridor sekolah. Seketika kepalaku pusing dan aku jatuh pingsan. Ketika aku bangun aku sudah berada di rumah sakit dengan Gabriel yang berada di sampingku, ‘Lu gak apa-apa?’ lalu ku jawab ‘Gue kenapa? Kok gue di rumah sakit?’, ‘Lu tiba-tiba pingsan, terus gue bawa lu ke rumah sakit.’, ‘Kok elu yang bawa gue ke rumah sakit? Anak buah gue ke mana?’, ‘Mereka asik kegirangan karena bosnya sakit.’, ‘Kurang ajar tuh anak!’, ‘MAKANNYA JADI ORANG JANGAN SONGONG!’”

    Sekretarisku kaget mendengar teriakanku, hampir-hampir ia loncat dari sofanya. “Bos? Dia sampe teriak begitu?” Tanyanya dengan wajah yang tegang bekas kagetnya tadi.

    “Iya, telingaku hampir budeg karenanya. Mungkin seluruh rumah sakit sudah tau siapa Gabriel waktu itu.”

    “Hahahahaha.” Sekretarisku tertawa kecil.

    “Ketika itu aku bertanya kepada Gabriel, ‘Gue sakit apa kata dokter?’, ‘Kedua ginjalku rusak.’ Ketika mendengar itu badanku langsung lemas, seperti tak ada harapan lagi untuk hidup. Rasanya mau mati besok. Ketika itu Gabriel menepuk bagian kiri di mana di dalamnya terdapat ginjal, ‘Aw! Sakit!’, ‘Lu tau sakit itu kenapa? Itu karena ada seseorang yang rela mendonorkan ginjalnya dengan percuma untuk elu!’, ‘Siapa dia? Di mana dia sekarang?’, ‘Dia Ada di kamar 303.’ Kemudian, dengan membawa infusan aku berjalan dengan cepat menuju kamar 303. Ketika aku masuk…”

    “Joko ada di dalamnya.” Potong sekretarisku.

    “Dan ketika dia melihatku masuk, dia tersenyum kepadaku dari atas kasurnya.”

    “Tapi kenapa, Bos? Kok dia mau berikan sebagian Ginjalnya kepada Bos?”

    “Aku juga menanyakan hal yang serupa kepadanya. Tapi dia hanya tersenyum kemudian berkata, ‘Yang penting kamu gak apa-apa, Sal.’ Seketika itu air mataku langsung keluar tanpa dipaksa. Di dalam hati aku berteriak menyesali perbuatanku yang sudah-sudah kepadanya dan langsung aku mencium tangannya yang mungil seraya berkata dengan terisak-isak, ‘Kenapa elu, Joko? Kenapa elu, yang selalu gue jahili, mau mendonorkan bagian terpenting kepada orang sejahat gue?’ Joko terdiam. Gabriel kemudian berkata kepadaku ‘Tau gak? Sejak pertama lu jatuhin Joko ke lantai, ia berdoa kepada Tuhan agar mau memaafkan lu dan membuat lu berubah. Hal itu terus Joko sumpahkan kepada lu tiap kali lu buat jahil kepadanya. Bahkan ketika sebelum UTS, saat elu jahilin si Joko. Joko berdoa hal yang serupa, bahkan dia menambahkan agar lu dimudahkan dalam UTS.’”

    “Ada orang seperti itu ya, Bos?” Sekretarisku tampak berkaca-kaca.

    “Ada, dan setelah itu Joko menepuk punggung Gabriel seakan-akan menyuruh Gabriel untuk diam. Namun, Gabriel tetap saja dengan wataknya yang blakblakan terus bercuap, ‘Ketika lu jatuh pingsan. Anak buah lu enggan menolong lu dan malah melangkahi badan lu dengan penuh tawa. Joko yang melihat lu jatuh langsung memanggil gue di kelas dan meminta gue untuk mengangkut lu ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, dokter bilang lu butuh ginjal segera karena keadaan lu cukup memprihatinkan. Tau siapa ginjal yang cocok sama lu saat itu?’ Seketika aku terdiam dan melihat Joko. Joko melihat jendela seakan tidak mendengar apa yang Gabriel ucapkan. Aku menggenggam tangan kanan Joko dan berkata. ‘Joko, bantu gue untuk berubah.’ Joko tersenyum kepadaku dan berkata, ‘Kalau ada kemauan, pasti ada Jalan.”

    “Jadi itu yang membuat Bos bisa seperti ini?”

    “Kira-kira seperti itu.”

    “Lalu Bos, sekarang Joko ada di mana?”

    “Dia ada di Eropa, di melanjutkan kuliah untuk menyabet gelar professor. Aku yang biayain, keren kan?”

    “Yeh si Bos malah sombong.”

    “Hehehe.”

    [Ibrahim Nufal]

    Post Tagged with ,

Leave a Reply