• Bukan DIAM itu EMAS

    diambukanemas_main     Siang ini matahari bersinar lebih gagah. Panas membuat baju basah kuyup oleh keringat. Hawa panas pun membuat tenggorokkan dan bibir terasa kering. Satu dua orang berusaha menormalkan suhu tubuh dengan membeli minuman dingin. Tapi sayang, banyak dari penumpang angkutan umum yang membuang sampah sembarang  melalui jendela atau pun di bawah kursi  mereka. Selain itu, asap rokok mengepul dari balik kemudi sang supir sedangkan di kursi sebelahnya duduk seorang ibu dengan anak balitanya. Suasana angkutan umum begitu sesak. Panas semakin terasa merasuk ke dalam dada. Namun, saya hanya terdiam di pojokan angkutan umum, sembari banyak beristighfar.  Memilih hanya diam dan memendam rasa kesal. Padahal saya taHu, jika perbuatan mereka tentu bukanlah perbuatan yang baik bagi lingkungan dan orang lain.

    ******

         Kondisi di atas adalah fenomena yang sering terjadi di kalangan para da’i dan aktivis dakwah. Banyak dari kita yang lebih memilih menjauhi konflik dari pada kita sedikit terlibat untuk sekedar mengingatkan. Banyak juga dari kita yang tahu bahwa perbuatan saudara kita itu salah, namun kita memilih diam sambil memendam rasa kecewa. Banyak juga dari kita yang melihat kemungkaran di depan mata, namun kita lebih memilih zona nyaman, tidak mau ambil pusing atau bahkan sedikit memberi  saran.  Apakah seperti itu makna Diam adalah Emas?

         Rasululullah SAW selalu mengingatkan kita untuk menjaga lisan. Lisan adalah senjata bagi setiap orang. Dengan lisan kita dapat melukai namun dapat pula mengobati. Menjaga lisan bukan berarti membiarkannya terkunci mati, melainkan menggunakannya dengan sangat bijak. Seperti yang di sampaikan oleh tauladan langit kita, Rasulullah SAW, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).

         Berkatalah yang Baik, jika kau tidak mampu berkata Baik, Maka Diamlah. Itulah makna sebanarnya Diam adalah Emas. Mengingatkan dengan cara yang baik, memberi saran dengan cara yang baik, berdebat jika dibutuhkan dengan cara yang baik adalah cara kita menjaga lisan. Maka jika hanya sekedar ingin mencaci-maki orang lain, menjelek-jelekkan orang lain, meng-ghibahkan orang lain, diam adalah pilihan terbaik untuk menghindarinya.  

         Ami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Tidak ada perkataan yang bersifat pertengahan antara bicara dan diam. Yang ada, suatu ucapan boleh jadi adalah kebaikan sehingga kita pun diperintahkan untuk mengatakannya. Boleh jadi suatu ucapan mengandung kejelekan sehingga kita diperintahkan untuk diam.”

         Diam bukanlah Emas saat kebaikan yang seharusnya tersampaikan terhambat oleh rasa enggan  dan rasa kecewa yang medalam. Maka berkatalah yang baik untuk mengubah kemungkaran dan mengajak kepada kebaikan. (Al_Izzah)

    Post Tagged with

Leave a Reply