• BAGAIMANA CARA BERSYUKUR KEPADA ALLAH

    Khutbah Jum’at, 26 Februari 2016

    Khotib : Ustadz Wachid Romadhon, Lc (Alumnus Universitas al-Azhar, Mesir)

          Suatu hari Umar berjalan-jalan di pasar. Di tengah perjalanannya, Umar mendengar seseorang yang sedang berdo’a dengan do’a yang cukup aneh baginya. Orang itu berkata, “Ya Allah jadikanlah diriku golongan hamba-hambamu yang sedikit.” Orang itu terus mengulang do’a yang sama.

        Heran dengan lantunan doa itu, Umar yang merasa penasaran kemudian bertanya, “Mengapa engkau memanjatkan do’a yang seperti itu?”

          Orang tersebut kemudian menjawab dengan membacakan salah satu ayat Al-Qur’an yang berbunyi, “Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.” (QS. Saba’:13)

          Mendengar jawaban ini, Umar merasa terkejut kemudian berkata, “Ternyata lebih banyak orang selainmu wahai Umar yang lebih paham pada kitabullah.”

    ***

          Allah telah mengaruniai banyak sekali nikmat kepada kita sebagai manusia, bahkan kita tidak pernah lepas dari karunia-Nya sejak kita lahir ke dunia hingga hari ini. Andaikata sekali saja kita mencoba untuk menghitung untaian nikmat itu, sungguh kita tidak akan pernah mampu untuk menghitungnya. Diantara nikmat-nikmat tersebut, ada satu nikmat yang paling besar yang telah Allah karuniakan kepada umat manusia adalah nikmat iman. Sedangkan kita adalah segolongan di antara miliaran umat manusia yang telah dipilih oleh Allah untuk menjadi orang yang beriman.

          Iman adalah satu-satunya kunci menuju syurga Allah, sehingga meskipun seseorang yang sering berbuat baik namun ia tidak memiliki iman di dalam dadanya, maka kebaikannya tidak terhitung di sisi Allah dan merupakan sebuah hal yang sia-sia. Iman tidak bisa disetarakan harganya dengan apapun di dunia ini, maka kita patut syukuri keimanan yang Allah karuniakan kepada kita hari ini dengan semakin kita mendekatkan diri dan mengenal Allah.

          Suatu saat nanti akan ada sebuah masa dimana cinta menjadi sebuah hal yang kadaluarsa. Orang yang hari ini berkata ‘aku mencintaimu dan aku ingin bersama denganmu,’ suatu saat nanti akan pergi ketika datang tiupan sangkakala yang kedua. Allah menggambarkan hal ini di dalam surah ‘Abasa. Di hari itu seorang kakak rela meninggalkan adiknya, seorang anak rela meninggalkan ayah dan ibunya, bahkan ia rela meninggalkan istri dan anak-anaknya. Sebab di dalam fase itu, Allah murka dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terulang setelahnya. Namun ternyata ada satu hal yang mampu menyelamatkan manusia di hari itu, ialah iman kepada Allah dan apa yang dibawa oleh rasul-Nya. Pada hari itu orang-orang yang beriman dikumpulkan. Hal inilah yang menjadi keistimewaan umat nabi Muhammad SAW, ketika orang-orang berlari mencari keselamatan, kita (sebagai orang yang beriman) justru tengah dinantikan kehadirannya oleh Rasulullah SAW. Bahkan hari itu Rasulullah memanggil umatnya dengan panggilan, “Barangsiapa yang ingin mendapat keselamatan dan syafaat, mari mendekat dan merapat. Aku yang akan menyelamatkan kalian semua, aku yang akan menyelamatkan kalian semua, aku yang akan menyelamatkan kalian semua.”

          Hari itu, ketika aib-aib seseorang yang durhaka dibuka oleh Allah di hadapan seluruh manusia, Allah memperlakukan hal yang berbeda kepada orang-orang yang beriman. Bisa kita bayangkan bagaimana apabila seseorang dibuka satu saja aibnya di atas mimbar, apa yang ia rasakan? Maka di hari itu, seseorang yang durhaka dibuka seluruh aibnya di hadapan seluruh manusia yang menyaksikan.

          Namun di hari itu, Allah memperlakukan orang-orang yang beriman dengan perlakuan yang berbeda dari orang-orang kafir. Imam bukhari dan muslim meriwayatkan bahwa Allah nanti akan mendekatkan seorang hamba-Nya yang mukmin ke dalam dekapan-Nya (dan dekapan Allah tidak serupa dengan dekapan makhluk. Allah berbeda dari segala yang Dia ciptakan – pen). Kemudian Allah akan bertanya, “Masih ingatkah engkau wahai hambaku, dosa yang pernah engkau lakukan ini?” kemudian hamba yang mukmin itu dengan malu-malu berkata, “Aku ingat, ya Allah.”

          Kemudian Allah bertanya dengan hal yang sama dan menyebut semua dosa-dosa yang pernah diperbuat oleh si hamba. Kemudian hamba yang mukmin tersebut kembali mengiyakan sambil bergetar tubuhnya lalu berderai air matanya karena malu kepada Allah. Ia terus menerus ditanyai oleh Allah dengan cara yang sama sampai ia sangat yakin jika dirinya termasuk ahli neraka. Saat itu ia hanya berada di hadapan Allah dan dihalangi dengan tabir dari pandangan manusia. Allah pun menanyainya dengan berbisik-bisik, sehingga aib orang itu terlindungi dengan sempurna dari pendengaran manusia.

          Detik itu wajah hamba tersebut mulai pucat dan ketakutan, ia menangis. Kemudian Allah berfirman kepadanya, “Wahai hamba-Ku ketahuilah, sebagaimana dahulu Aku telah menutup aib-aibmu di dunia, Aku juga telah menutup aib-aibmu di akhirat dan aku maafkan seluruh dosamu.”

          Maka setelah nikmat iman ini, salah satu nikmat terbesar adalah ditutupnya aib-aib kita oleh Allah SWT. Semoga ini menjadi isyarat bahwa Allah pun akan mengampunkan dosa kita di hari kiamat nanti.

    Ada beberapa cara untuk mensyukuri nikmat Allah:

    1. Al i’tiraf, pengakuan di dalam hati bahwa sumber nikmat kebahagiaan itu hanya berasal dari Allah SWT.
    2. Bersyukur dengan lisan, bisa dengan mengucapkan tahmid untuk memuji Allah SWT. Allah adalah yang paling senang dan gembira ketika dipuji. Contohnya bisa kita terapkan pada saat setelah makan kita membaca do’a dan memuji Allah, maka dosa kita akan diampuni oleh Allah. Siapa yang memuji Allah akan mendapatkan balasan yang luar biasa.
    3. Bersyukur dengan anggota badan, rezeki itu bisa jadi kebahagiaan atau malah sebaliknya. Seringkali rezeki itu menjadi malapetaka, oleh karena itu kita harus bersyukur dengan memanfaatkan apa yang telah diberikan Allah kepada kita untuk beribadah dan hal-hal yang positif lainnya.

    Para orang tua juga harus bisa mendidik anaknya dengan baik dan sesuai aturan agama islam agar kelak kita semua insya Allah bisa masuk surganya Allah, aamiin ya Allah ya rabbal aalamiin.

    (MIN/AF)

    Post Tagged with

Leave a Reply