• ROGER: Penjual Pulsa Legendarisnya IPB

    Apa istimewanya seorang penjual pulsa
    keliling?

    Jika mendapat pertanyaan seperti itu, apa yang kira-kira akan ada di benak kita? Pendidikan rendah, hidup tak makmur, atau ilmunya cetek dan tidak bisa dibandingkan dengan kita, mahasiswa?

    Eits, sebaiknya kita buang pikiran itu jauh-jauh. Aku ingin sedikit bercerita tentang seorang penjual pulsa yang berhasil membuat seisi kelas bungkam, bahkan sebagian ada yang menunduk karena malu, termasuk teman-temanku yang diberi amanah untuk memegang berbagai posisi penting di organisasi-organisasi pergerakan mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB).

    ‘Roger’, begitu biasa ia dipanggil. Seorang penjual pulsa paling legendaris di Institut Pertanian Bogor. Bahkan jika kita berjalan dari fakultas A sampai Z, lalu bertanya ke setiap mahasiswa tentang laki-laki bernama ‘Roger’ ini, pasti mereka tertawa. Kepopulerannya tidak kalah dengan Rektor kami, namun dalam konteks lain. Jika rektor kami dikenal dengan kegagahan dan kebijakan-kebijakannya dalam memajukan kampus, Roger lebih dikenal dengan ‘kenyentrikannya’ dan kata-kata penuh hikmah yang selalu ia keluarkan. Pendidikan si Roger ini memang tidak setinggi kita yang diberi rezeki lebih untuk duduk di bangku-bangku kuliah, akan tetapi jika diminta untuk membandingkan antara sikap mahasiswa hari ini dengan sikap yang dimiliki Roger, aku mungkin akan lebih memilih untuk mengangkat topi bagi Roger. Bagiku, IPB memang menjadi kampus yang paling unik dan menyenangkan, maka wajar saja jika kampus ini dikenal sebagai ‘replika’ pesantren berbentuk universitas. Dari rektor sampai penjual pulsanya saja ‘punya’ akhlak yang mumpuni.

    Roger memiliki perawakan yang kurus-kecil. Usianya jangan ditanya lagi,  mungkin sudah mencapai angka 35-40-an tahun, akan tetapi semangatnya dalam menebar kebaikan tak bisa diragukan lagi. Bagaimana tidak, setiap hari ia berjalan kaki menyambangi 9 fakultas yang ada di IPB. Memasuki kelas demi kelas, melewati kantin demi kantin sambil berteriak ‘Cek pulsa sebelum jauuuuuh!’ dan tak jarang ia bercerita dengan logatnya yang jenaka di depan kelas (sebelum dosen masuk). Ngomong-ngomong ada yang tau berapa hektar luas kampus IPB? Aku sendiri yakin jika tidak akan ada mahasiswa yang sanggup mengelilingi seluruh bangunan di kampus IPB Darmaga, menyambanginya satu demi satu, dan melakukannya dua sampai tiga kali dalam sehari. Tapi itulah yang dilakukan Roger.

    Hal itu pula yang terjadi di kelasku siang itu. Roger dengan senyuman di wajahnya tiba-tiba masuk ke kelasku lalu berdiri tepat di depan kelas. Ia mengucap salam kemudian mengeluarkan kalimat ‘sakti’ miliknya. “Assalamu’alaikum… cek pulsa sebelum jauh…” Awalnya aku pikir ia hanya ingin menawarkan pulsa pada kami seperti yang biasa ia lakukan, tapi ternyata ia melakukan hal yang berbeda hari ini.

    “Roger punya satu pertanyaan nih. Yang bisa jawab nanti Roger kasih pulsa gratis,” katanya dengan nada menantang. Satu kelas bersorak girang, bertepuk tangan bahkan sampai ada yang berdiri dan berteriak ‘Hidup Roger!’. Aku sendiri tersenyum lebar, lumayan pulsa gratis. Otakku mulai berkelana, menerka-nerka pertanyaan macam apa yang akan roger berikan untuk kami. Ah pasti mudah pertanyaannya. Begitulah pikiranku detik itu.

    Apa hajat terbesar dalam hidup ini?” tanyanya Roger dengan penuh semangat. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Ayo siapa yang berani jawab angkat tangan, Roger kasih pulsa!” teriaknya lagi.

    Satu persatu dari mahasiswa di kelasku mengangkat tangan. Ada yang menjawab ‘Mati!’, ada yang menjawab ‘Surga’, ada yang menjawab ‘Nikah!’, dan jawaban-jawaban lain mulai dari yang serius sampai yang aneh.

    Salah semua! Hahaha… mahasiswa kok gak bisa jawab. Nih ya, bukan cuma dosen aja yang bisa kasih pertanyaan. Roger juga bisa kali. Haha.” Roger menertawakan kami yang tidak mampu menjawab pertanyaannya dengan benar. Aku sendiri geleng-geleng kepala. Masa iya dari sekian banyak jawaban, semuanya salah? Rasa penasaran mulai menyambangiku detik itu. Apa kira-kira jawaban yang benar? Aku memerhatikan Roger dengan seksama.

    Udah ya! Mau Roger kasih tau dan pulsa gratisnya batal, atau Roger keluar kelas dan nanti Roger kembali lagi?” tanyanya sambil tertawa.

    “Kasih tauuuuuu!” teriak kami serentak.

    “Nih Roger kasih tau, hajat terbesar dalam hidup itu cuma satu! Diampuni dosa-dosanya sama Allah. Nah pulsa gratisnya gak jadi ya, Roger pamit, Assalamualaikum!” katanya sambil berjalan keluar kelas.

    Sontak semua isi kelas terdiam. Aku sendiri tercekat, kagum. Bahkan muncul pertanyaan di benakku, apa sebenarnya IPB ini? Mengapa hampir setiap orang yang aku temui di kampus ini hampir serupa Roger semuanya? Aduhai, alangkah malunya diri ini dengan status mahasiswa yang tersemat di dada. Nyatanya sematan itu tidak ada nilainya sama sekali jika kita tidak memiliki karya nyata bagi agama, bangsa, dan negara. Alangkah malunya diri ini yang bahkan mampu dikalahkan telak oleh seorang penjual pulsa keliling.

    Di tengah kekagumanku, Andi Fikri, direktur media Alhurriyyah yang kebetulan sekelas denganku memanggil dari bangku belakang. “Lay,” katanya.

    Aku memalingkan wajah lalu bertanya, “Apa?”

    Dia menunjuk ke arah pintu sambil berkata, “Tulis tentang Roger!”

    “Eh kenapa aku, gak kamu aja?”

    Andi Fikri menundukkan kepala sambil mengangkat tangan. “Aku gak sanggup. Jawabanku salah tadi.”

    Aku hanya tertawa mendengar jawabannya, dan setelah itu, Roger seakan menjadi topik yang amat hangat dibicarakan di kelas. Ia seakan-akan menjadi ‘dosen’ di luar mata kuliah baku.

    Semoga kita bisa mengambil hikmah dan mau belajar dari orang lain, siapapun mereka, meski hanya dari seorang penjual pulsa keliling.

    Wallahu a’lam bishawab..

    Penulis                 : Layyinatul Kholiqoh

    Redaktur             : Andi Fikri

Leave a Reply