• FENOMENA ZIRYAB: SANG PENYANYI DAN KERUNTUHAN ANDALUSIA

    Sudah menjadi sunnatullah bahwa kejayaan dan kemunduran akan dipergilirkan di antara bangsa-bangsa. Hal ini seakan telah menjadi siklus tersendiri yang pasti dilalui oleh peradaban manusia, termasuk Andalusia. Bagi umat muslim, sejarah seharusnya sudah menjadi kawan dekat yang layak untuk diambil pelajaran darinya.

    Berbicara tentang kemunduran peradaban Islam, para ulama berpendapat bahwa umumnya hal ini terjadi akibat kaum muslimin mulai menjauh dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, bergelimangnya harta, fanatisme dan kesukuan, juga hadirnya penguasa-penguasa zhalim dari kalangan kaum muslimin sendiri. Pada umumnya seluruh faktor-faktor yang menjadi penyebab keruntuhan ini tidak tumbuh secara tiba-tiba, akan tetapi justru muncul puluhan bahkan ratusan tahun sebelum keruntuhan itu terjadi. Biasanya diawali oleh bibit-bibit yang tumbuh secara perlahan dan tidak disadari oleh peradaban di masa itu.

    Bagi Andalusia sendiri, masa kelemahan ini diawali setelah wafatnya Abdurrahman Al-Ausath, seorang penguasa shalih dari kalangan Bani Umayyah pada tahun 300 H. Pada hari itu, wilayah Islam terbagi ke dalam dua daulah besar, yaitu Abbasiyah yang menduduki wilayah bani Umayyah lama dengan Baghdad sebagai ibu kota, dan daulah bani Umayyah II yang menduduki wilayah Andalusia. Kedua daulah ini mengalami pertumbuhan yang sangat pesat baik dalam budaya, perekonomian, militer, juga ilmu pengetahuan sehingga keduanya tumbuh menjadi sebuah peradaban yang diakui dan ditakuti oleh musuh-musuh yang berada di sekitarnya.

    Geliat keruntuhan Andalusia dimulai dari tumbuh dan berkembangnya musik di wilayah Baghdad. Pada masa itu, para seniman mulai dikenal dan menjadi salah satu menu hiburan wajib yang tidak terpisahkan dari istana para sultan dan pangeran di wilayah Baghdad. Salah satu di antara para seniman yang namanya cukup dikenal dan sering diundang menghibur kalangan kerajaan ialah Ibrahim Al-Mushily. Ia mengangkat seorang murid bernama Ziryab yang nantinya akan ‘hijrah’ ke Andalusia dan menjadi orang besar di sana.

    Ziryab hijrah tepat pada masa-masa akhir pemerintahan Abdurrahman Al-Ausath di Andalusia; sosok pemimpin yang sangat memperhatikan ilmu, peradaban, pembangunan, dan bidang-bidang keilmuan lainnya. Hijrahnya Ziryab ini berawal dari konflik antara dirinya dengan Ibrahim Al-Mushily. Konflik ini berawal dari semakin terkenalnya nama Ziryab di kalangan istana di Baghdad, sehingga muncul rasa iri di dalam diri Ibrahim Al-Mushily. Sebagian ahli sejarah berpendapat bahwa hijrahnya Ziryab akibat dari siasat yang diatur oleh Ibrahim Al-Mushily, sebagian lagi berpendapat bahwa Ibrahim mengancamnya sehingga Ziryab pergi meninggalkan Baghdad.

    Setelah meninggalkan Baghdad, Ziryab memilih Andalusia sebagai tempat pelariannya. Tempat ini dipilih karena saat itu Andalusia tengah berada di puncak kejayaannya; harta yang berlimpah, juga taman dan istana bertebaran di mana-mana. Kondisi seperti ini merupakan tempat yang sangat ideal bagi Ziryab untuk melanjutkan karirnya sebagai seniman.

    Seperti yang biasa terjadi di masa-masa kejayaan sebuah peradaban Islam, para sejarawan menduga bahwa sampai hari itu Andalusia belum mengenal apa yang disebut dengan nyanyian. Hal ini menjadi logis karena sudah menjadi kebiasaan bahwa ketika suatu peradaban Islam mencapai kejayaan, seluruh elemen masyarakatnya selalu menyibukkan diri pada penggalian ilmu, pendalaman dan penghafalan Al-Qur’an, serta kegiatan jihad fii sabilillah untuk menghalau maupun mengamankan wilayah-wilayah di sekitar Andalusia.

    Ziryab datang ke Andalusia dan mendapatkan sambutan serta pelayanan yang amat baik dari penduduknya, sampai akhirnya ia dapat masuk menemui para petinggi negara, masuk ke rumah-rumah dan tempat-tempat berkumpul masyarakat. Kesempatan ini kemudian ia pergunakan untuk menyanyi dan mempertunjukkan serta mengajarkan apa yang telah ia pelajari di Baghdad.  Selain mengajarkan nyanyian, Ziryab juga mulai mengajarkan mode-mode pakaian seperti pakaian empat musim dan pakaian yang dikenakan di momen-momen tertentu. Tidak hanya itu, Ziryab juga mulai menyusun ‘not-not Andalusia’ yang bahkan masih dipergunakan sampai hari ini. (Al-Muqri: Nafh Ath-Thib 1/123)

    Perlahan Ziryab mulai mendapatkan posisi di masyarakat Andalusia. Mereka mulai mendengarkan bahkan mempelajari apa yang dikatakan oleh Ziryab. Di masa-masa ini, Ziryab mulai mengenalkan seni makan. Ia juga mulai mengisahkan hikayat para Khalifah, pangeran dan dongeng-dongeng dengan tujuan agar masyarakat Andalusia semakin dekat dengannya.

    Semenjak masuknya Ziryab, masyarakat Andalusia menjadi lebih akrab dengan nyanyian. Jumlah penyanyi semakin banyak, bahkan setelah itu menyebar pula tarian. Pada mulanya, tarian hanya dilakukan oleh kaum pria, namun lama kelamaan kaum wanita mulai mempelajarinya dan turut melakukannya.

    Di penghujung pemerintahan Abdurrahman Al-Ausath dan awal pemerintahan putranya, Muhammad ibn Abdurrahman Al-Ausath, ilmu di andalusia mencapai puncaknya. Pada masa-masa ini jumlah ulama di Andalusia semakin banyak, akan tetapi masyarakat lebih memilih untuk mendengarkan perkataan-perkataan indah dan nyanyian yang Ziryab lantunkan. Akibatnya masyarakat mulai berpaling dari para ulama. Majelis-majelis ilmu menjadi sepi, bahkan kisah-kisah tentang generasi sahabat dan salafush shalih pun tidak lagi didengarkan oleh masyarakat Andalusia. Lebih jauh lagi, masyarakat Andalusia bahkan lebih memilih untuk mendengarkan dongeng-dongeng yang diceritakan oleh Ziryab daripada menyimak dan melantunkan Al-Qur’an. Mereka juga menjadi berpaling dari mempersiapkan diri untuk berjihad mempertahankan negaranya sehingga Andalusia menjadi rapuh dan mudah untuk dikalahkan ketika terjadi serangan dari musuh-musuh di sekitarnya.

    Kepopuleran Ziryab bahkan masih dikenal hingga hari ini – kurang lebih sekitar 1200 tahun setelah kematiannya. Namanya sangat terkenal terutama di wilayah Afrika Utara, sementara nama-nama tokoh-tokoh Islam seperti Ash-Samh bin Malik al-Khulani dan Anbasah ibn Suhaim tidak dikenal sama sekali. Kisah tentang kejayaan Islam semakin pudar, bahkan sejarah mengenai Uqbah bin Al-Hajjaj dan Abdurrahman Ad-Dakhil (nama lain Abdurrahman Al-Ausath) seakan lenyap dan hilang tanpa bekas.

    Nama Ziryab dan riwayat hidupnya masih dikenal hingga hari ini, bahkan langgam-langgamnya masih disenandungkan di wilayah Tunisia, Maroko, dan Al-Jazair. Tidak hanya itu, Ziryab hari ini dikenal sebagai salah seorang tokoh pencerahan dan kebangkitan. Ia dipuji sebagai tokoh perlawanan terhadap kejumudan dan perjuangannya untuk seni. Orang-orang tidak memahami bahwa hadirnya Ziryab perlahan membawa keruntuhan dan perpecahan di Andalusia.

    (AF)

    Referensi:

    As-Sirjani, Raghib. 2013. Bangkit dan Runtuhnya Andalusia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Leave a Reply