• DANA USAHA DAKWAH

    Tak ku sangka, aku mendapat amanah baru untuk menjadi bagian dari keluarga yang luar biasa ini, untuk bersama menjalankan usaha yang telah dirintis oleh pejuang terdahulu, meninggalkan banyak pelajaran untuk kami, yang dipertemukan dalam satu keluarga Divisi Fundrising and Marketing. Amanah baru, semangat baru dengan niat ikhlas mengembangkan usaha ini agar dapat memberi manfaat lebih baik untuk dakwah.  Niat-seperti dikatakan sebagian orang-adalah bisnisnya para ulama. Karena pahala dari suatu perbuatan bisa bertambah berkali-kali lipat jika didasari dengan niat yang ikhlas. Ikhlas mengharap ridhoNya.

    Keikhlasan adalah perkara penting dalam melakukan suatu pekerjaan. Kadar ikhlas seseorang dapat menentukan hasil dari suatu usaha. Dengan niat yang ikhlas, kita dapat menjalankan aktivitas sebagai ibadah.  Contoh niat yang ikhlas dalam usaha bisa berlaku dalam lingkup pribadi maupun sosial. Salah satu contohnya, ketika aku berniat untuk mengikuti lembaga ini. Sebenarnya aku tak tahu divisi atau departemen apa saja yang ada di sana. Akan masuk di bagian apa dan menjadi apa aku pun tidak tahu. Tetapi, niatku ikhlas untuk belajar dan senantiasa meng-upgrade diri agar pantas menjadi hambaNya. Saat ini, kami dari Divisi Fundrising and Marketing sedang berupaya untuk memperbaiki sistem dan melanjutkan apa yang sudah dimulai oleh para pejuang terdahulu. Semangat membara untuk mencari dana demi kepentingan lembaga ini. Lembaga Dakwah Kampus yang sudah banyak memberikan kami pengalaman dan kisah tak terlupakan.

    Namun terkadang, timbul perasaan bosan dalam hatiku dengan apa yang sedang aku jalankan saat ini. Mengapa aku ditempatkan di sini? Hanya untuk berjualan dan mencari uangkah? Padahal niat awalku, ingin sekali ikut langsung berdakwah dan berbagi. Perasaan  itu muncul saat aku merasa bahwa pekerjaan ini sangat melelahkan dan menyita banyak waktuku, sehingga aku tidak ingin melanjutkannya lagi. Ingin lepas dari semua ikatan yang memaksaku untuk mencari uang.

    Memang hidayah Allah datang dari arah yang tak disangka-sangka. Saat itu kami sedang mencari keperluan toko dengan perjalanan yang cukup lama. Selama perjalanan, aku tersadar betapa bodohnya diriku tidak pernah bisa mengambil manfaat dari tangan Tuhan yang telah memberikanku amanah ini. Dari perjalanan ini, akau tahu bagaimana usaha dan kerja keras seorang pedagang. Lebih bersyukur atas rezeki yang masih bisa kunikmati saat ini. Teringat kembali tujuan awalku masuk lembaga ini adalah untuk mengharap ridhoNya. Anggap saja perjalanan melelahkan ini adalah salah satu hal yang dirasakan Rasulullah SAW dalam perjuangan dakwahnya dahulu. Keuntungan yang didapat akan dijadikan sebagai modal dakwah, yang mana bisa mengantarkan semua orang di dalamnya mendapatkan pahala dariNya.

    Namun sayang, semangatku ini tidak menular kepada teman-temanku. Sangat miris, melihat saat ini banyak sekali teman seperjuanganku yang satu persatu berguguran di jalan dakwah yang indah ini. Sedih sekali rasanya, mengingat masa awal kami dulu berjalan bersama untuk belajar, harus berhenti ketika mereka merasa dakwah ini tak penting lagi. Sedih saat mereka lebih sibuk dengan urusan pribadi dibandingkan menyebarkan dakwah ini. Ada seorang teman, dahulu beliau sangat aktif di organisasi islam di sekolahnya dan dipercaya dalam menjalankan amanah. Hal itu berlanjut sampai saat kuliah, berdakwah di kampus. Namun  sayang sekali, semangatnya mulai menurun, aktifitasnya berkurang dan api perjuangannya tak lagi membara seperti dulu lagi. Kini dia hanya seorang aktivis biasa, yang tidak memiliki kuasa dan tidak bersemangat lagi. Karena ia lupa, lupa niat niat awalnya masuk ke lembaga ini bukan untuk kepentingannya sendiri, tetapi untuk kepentingan umat. Semua yang dijalankannya saat ini demi kemashlahatan muslim. (Sissy Nagita)

Leave a Reply