• Bagaimana Menyucikan Ujung Pakain yang Terkena Najis ?

    Islam merupakan agama yang mengatur seluruh urusan manusia. BersuciMelalui Al-Qur’an, Allah mengajarkan manusia tentang alam semesta, tentang perilaku antar manusia, tentang pemerintahan, bahkan tentang manusia itu sendiri. Selain itu, Islam telah menetapkan pula aturan-aturan yang mengikat dan mudah diterapkan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Contohnya: Makan sambil duduk dengan tangan kanan dan membaca basmalah; tidur dengan posisi miring ke kanan setelah berwudhu dan membaca doa; keluar rumah dengan membaca doa dan berserah diri kepada Allah; atau kewajiban mengenakan hijab untuk menutupi aurat perempuan kecuali wajah dan telapak tangannya.

    “Jadi hukumnya wajib buat nutupin aurat?”

    Oh iya, tentu. Muslimah memang wajib menutup auratnya dengan pakaian yang sesuai dengan syariat Islam. Bukan pakaian yang sifatnya ketat apalagi membentuk lekuk tubuh. Selain itu, pakaian perempuan juga seharusnya dipanjangkan sampai menutupi bagian kaki. Tujuannya agar bagian kaki ini tidak terlihat oleh orang-orang selain mahram (orang yang diperkenankan melihat aurat kita – red) sebab kaki merupakan salah satu aurat bagi perempuan.

    Terkait hal ini, Ummu Salamah (istri Rasulullah – red) pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ujung bawah pakaian wanita.

    “Bagaimana dengan perempuan, ya Rasul?“ tanya Ummu Salamah.

    Mendengar pertanyaan ini, Rasulullah kemudian bersabda, “Julurkan pakaianmu sejengkal!“

    Ummu Salamah bertanya lagi, “Bagaimana jika betisnya masih tersingkap, ya Rasul?“

    Rasulallah bersabda, “Maka tambahkanlah satu hasta lagi, tidak lebih.”

    Percakapan ini dirangkum oleh Abu Dawud dan Malik dalam kitab hadits yang mereka tulis.

                Tujuan dipanjangkannya ujung pakian perempuan yang tertuang dalam hadist di atas tidak lain karena adanya kekhawatiran bahwa aurat yang lain akan tersingkap. Namun dewasa ini, kita sering dihadapkan pada kekhawatiran yang lain jika pakaian yang seorang muslimah kenakan terlalu menjulur sampai ke bawah. Kekhawatiran itu muncul kalau-kalau ujung pakaian yang dikenakan ternyata menyentuh najis yang tidak kita ketahui, apalagi jika ternyata muslimah tersebut adalah seorang aktivis dengan mobilitas tinggi. Hal ini tentu menjadi polemik tersendiri bukan?

                Sejatinya Islam tidak pernah sama sekali hendak menyusahkan ummatnya, termasuk soal ujung pakaian yang terkena najis. Di dalam Islam dijelaskan bahwa jika bagian ujung jubah (pakaian) perempuan terkena najis, maka bagian itu kembali suci ketika menyentuh debu yang suci pula. Hal ini berdasarkan hadist yang dituliskan oleh Abu Dawud, Tirmizi, dan Ibnu Majah dalam kitab mereka tentang seorang perempuan yang bertanya kepada Ummu Salamah,

    “Kau adalah perempuan yang suka memanjangkan jubah dan berjalan di tempat yang kotor,” ujar Ummu Salamah. Kemudian beliau mengutip sabda Rasulallah SAW tentang hal ini, “pakaian itu kan disucikan oleh debu yang mengenainya setelah itu.“

                Berdasarkan hadits di atas, maka jelaslah bahwa ujung pakaian yang terpapar najis akan kembali suci dengan sendirinya oleh debu yang tersapu sepanjang kita berjalan. Maka pakaian itu tetap sah ketika kita gunakan untuk shalat. (NF/AF)

    Penulis             : Nur Faizah

    Editor              : Andi Fikri

Leave a Reply