• Tawakal Bukanlah Berpasrah Begitu Saja

    4616970210264652_10152232598091840_7403707188700578801_n (1)Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

    (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim)

    Sering kita menemukan atau mendengar, bahwa tak jarang orang mengartikan tawakal sebagai pasrah begitu saja kepada takdir. Alasan mengapa pendapat seperti itu dapat muncul, beragam. Diantaranya adalah karena tidak tahu apa arti sesungguhnya dari tawakal atau karena pemikiran bahwa setiap makhluk hidup yang ada di dunia ini memang telah digariskan rezekinya. Kedua alasan tersebut menunjukkan pentingnya mengetahui makna dibalik suatu kata atau istilah secara utuh dan tidak setengah-setengah. Selain itu, memang benar setiap makhluk sudah diberikan porsi rezekinya masing-masing oleh Allah, tapi apakah dengan demikian rezeki bisa didapatkan hanya dengan bersantai?

    Contoh yang cukup baik untuk menjelaskan konsep rezeki ini adalah cicak dan nyamuk. Kita tahu bahwa cicak itu sama sekali tidak bisa terbang, tetapi kenapa makanan cicak justru nyamuk, yang terbang adalah keahliannya? Dari hal ini kita bisa menyimpulkan, itulah rezeki. Ya, benar, itulah rezeki. Bahkan cicak yang menempel di dinding pun diberi Allah rezeki berupa nyamuk yang terbang. Tak ada kemustahilan, tak ada ketidakadilan. Semuanya telah Allah gariskan. Sampai di sini pemahaman kita tidak salah. Namun, jika kita telusuri lebih jauh, apakah cicak  hanya berdiam diri menunggu nyamuk untuk masuk ke mulutnya? Tidak begitu, bukan? Cicak pun harus bergerak kesana kemari untuk mencari makanannya dan bertahan hidup. Tidak berusaha, ya tidak dapat makan. Hal yang sama juga dilakukan oleh hewan lainnya.

    Mari kita tengok kisah dari sebuah hadits. Kisah yang menunjukkan bahwa tawakal kepada Allah tidak berarti meninggalkan usaha begitu saja. Seseorang berkata kepada Rasulullah, “Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakal.” Rasul bersabda, “Ikatlah, kemudian bertawakal lah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan Al-Albani dalam shohih Jami’ush Shoghir ). Dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan bahwa Amr bin Umayah ra berkata, aku bertanya, “wahai Rasulullah, apakah aku ikat dahulu unta tungganganku, lalu aku bertawakal kepada Allah, atau kah aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakal?” Rasul menjawab, “Ikatlah untamu, lalu bertawakal lah kepada Allah.” (Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakal, no. 633, 1/368).

    Jelas sekali dalam hadits ini, bahwa tawakal dilakukan setelah kita melakukan ikhtiar atau usaha. Sekalipun usaha tersebut tidak besar dan hanya sekedar mengikat unta tunggangan. Hal ini juga dapat kita lihat dalam Al-Quran, surat Maryam ayat 23-25, tentang kelahiran Nabi Isa alaihi salam. Allah berfirman, “Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” Maka dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, “janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai dibawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.”

    Secara logika, seorang ibu yang baru melahirkan dapat menggoyangkan pohon kurma hingga buahnya jatuh, hampir tidak mungkin. Namun hal itulah yang menunjukkan bahwa Allah sudah menjanjikan rezeki bagi hamba dan makhluk ciptaan-Nya yang mau berusaha. Maka di sinilah arti tawakal yang sesungguhnya. Tawakal menurut Imam Al-Ghazali adalah berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam waktu kesukaran, dan teguh hati tatkala ditimpa bencana, dengan catatan, setelah kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Begitulah Allah mengajarkan kita dengan berikhtiar maksimal pada prosesnya dan menyerahkan hasil kepada-Nya. Ya, tidak lain ini adalah sebuah pesan halus bagi kita untuk selalu menjadi orang yang produktif dalam hidup.

    Agus Hairulah

    Post Tagged with

Leave a Reply