• SERAT (SERAMBI KASTRAT) I “KENALI dan WASPADAI LGBT”

     

    Merebaknya isu terkait LGBT di Indonesia akhir-akhir ini membuat gerah semua lembaga kemanusiaan, pemerintah, dan semua lapisan masyarakat termasuk mahasiswa. Hal ini membuat kita sebagai aktivis akademisi dan aktivis dakwah tidak bisa diam saja dan hanya menonton kerusakan-kerusakan yang terjadi. Maka menjadi sebuah keharusan bagi kita sebagai muslim untuk membantu membenahi kerusakan yang terjadi dengan memahami, mengenali, mencegah, dan menanggulangi kasus LGBT tersebut. SERAT (Serambi Kastrat) di bawah naungan departemen Isu dan Keummatan, LDK Al-Hurriyyah, telah mengadakan kajian terkait isu LGBT dengan tema “Kenali dan Waspadai LGBT dalam Perspektif Islam dan Psikologi”. Kajian singkat ini diadakan pada tanggal 27 Febuari 2016, pukul 13.00 sampai dengan selesai dan bertempat di Ruang Asma Masjid Al-Hurriyyah IPB.

    Antusias peserta yang dihadiri dari seluruh lembaga dakwah fakultas, IKMP, dan FSDMA, mulai memuncak saat materi pertama terkait LGBT dalam pandangan psikologi oleh Bapak Hari Dewayanto, SS, CHt, Cl, NNLP. Keseruan diawali dengan jargon yang luar biasa, I’m Muslim, dukung PHN (Prilaku Hubungan Normal) dan PHH (Prilaku Hubungan Halal).” Beliau membahas dengan tuntas pengertian LGBT secara universal dan beberapa prilaku psikologis yang melatar belakanginya. Sesekali acara diselingi senam otak agar  menyegarkan kembali peserta setelah siang hari.

    “LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) adalah sebuah Komunitas yang sudah sejak lama bergerak untuk meyakinkan mastarakat agar mereka bisa diterima dan disetarakan karena mereka berlindung dibawah HAM. Dengan kata lain mereka berusaha agar dianggap normal. Keimanan itu ibarat baju bagi para pengidap LGBT yang sewaktu-waktu dapat dilepas”, ujar Pak Hari. Tertulis dalam buku The New World Order pada sekitar 20 tahun lalu yang dibuat oleh bangsa yahudi (Illuminate) yang ternyata telah menggambarkan bahwa tatanan dunia yang baru, atau homoseksual akan dilegalisasikan. Terbukti saat ini, beberapa negara telah melegalisasikan adanya komunitas tersebut.

    Al-qur’an telah menegaskan bahwa LGBT adalah sebuah kesalahan. Begitupun dengan hukum alam, bahwa LGBT sejatinya bukanlah kodrat atau terjadi secara alamiah. Manusia secara alami diciptakan sebagai pria dan wanita, dan mereka dapat berkembang biak secara natural. Maka dalam perkembangan ini, peran orangtua sangat penting bagi anak. Orangtua harus membimbing perkembangan anak-anak mereka sesuai dengan jenis kelaminnya, agar tidak ada kesalahan lingkungan pengasuhan yang membentuk anak menjadi salah prilaku-LGBT. Lingkunganlah yang sangat berpengaruh pada pembentukan prilaku LGBT, bukan genetik karena maksimal pengaruh genetik pada prilaku LGBT hanya 10% menurut Neil Whitehead.

    Setiap orang memiliki pilihan, bahkan kita memiliki pilihan kedua. Ketika pelaku LGBT sadar bahwa orientasi seksual mereka salah, seharusnya mereka dapat menentukan pilihan untuk tetap dalam fitrah Allah dan menjadi sebaik-baik manusia. Prilaku LGBT adalah kesalahan persepsi dan pelabelan yang dilakukan oleh lingkungan mereka. Kita sebagai aktivis dakwah, tidak seharusnya ikut mencaci dan memberikan sumpah serapah kepada pelaku LGBT. Jadikan merebaknya kasus LGBT ini sebagai pemicu semangat dakwah kita, dengan itu  kita bisa menyebarkan fakta-fakta terkait bahaya LGBT, turut membantu saudara-saudara kita yang terkena dengan membawanya ke tempat terapi, dan kita bisa membantu mereka memperbaiki persepsi yang salah.

    Penderita LGBT bisa sembuh jika mereka dapat mengubah persepsi mereka. Persepsi itu adanya dibawah alam sadar manusia dan itu dapat diubah jika kita yakin dan percaya bahwa kita bisa. Pak Hari sebagai professional hypnotherapist, selepas ishoma Ashar, beliau memperaktekkan kemampuan hipnotisnya kepada seluruh peserta. Beliau membuktikan bahwa persepsi dapat diubah bahkan dalam hitungan menit dan dalam keadaan sadar. Di sinilah kita belajar bahwa setiap penderita LGBT bisa sembuh. Yakinlah, mulai dengan perubahan bertahap, percayalah bahwa kita bisa mengendalikan diri kita sendiri, dan jangan berlebihan dalam memandang diri sendiri.

    Selain itu, LGBT dalam pandangan Islam pun tidak kalah menarik. Materi yang dibawakan  oleh Ustd. Muchammad Wachid Romadlon, Lc, MA, seorang dosen mata kuliah Pengetahuan Agama Islam (PAI) IPB dan lulusan Al-Azhar Kairo. Beliau sedikit menyampaikan sejarah awal LGBT. Sekitar 8 bulan lalu yang di Amerika, LGBT dibebaskan dari kerangkeng hukum bahkan didukung penuh oleh Presiden Barack Obama. Saat ini, di Indonesia tengah dihebohkan dengan isu LGBT yang mulai menuntut kebebasan dan kesamaan HAM.

    Pandangan Islam hanya mengenal dua kelainan seksual, yaitu Khunsa dan Mukhonnas. Khuntsa atau sering kita kenal dengan banci asli adalah orang-orang yang Allah takdirkan memiliki dua kelamin ganda (hemaprodit). Namun kasus ini sangat langka ditemui dan untuk penyembuhannya dapat dilakukan operasi alat kelamin untuk memilih kecenderungan identitasnya. Hukumnya dalam sholat, pengidap kelainan ini diperbolehkan menjadi imam jika makmum nya semua adalah wanita. Selain itu, Mukhonnas atau sering kita kenal dengan waria adalah laki-laki gagah perkasa namun gemulai atau perempuan berbadan langsing namun tomboy. Itulah kelainan yang dibuat oleh manusia dan dipengaruhi oleh lingkungan mereka. Mukhonnas ini dalam Islam hukumnya haram. Seperti yang tercantum dalam hadis Nabi shallahu ‘alaihi wasalam :

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885)

    Al-qur’an menyebut LGBT sebagai fahisyah yang artinya perbuatan yang sangat keji (tercantum dalam QS. Al-A;raf ayat 80). Pelaku LGBT dalam pandangan Islam sangat terlaknat seperti kaum Nabi Luth As. Para ulama juga menyatakan keharaman pernikahan sesama jenis karena itu jauh dari tujuan seseorang menikah. Tujuan pernikahan yang sesungguhnya adalah menumbuhkan rasa sakinah, mawaddah, dan warohmah. Sedangkan itu semua tidak akan didapatkan pada pernikahan sesama jenis.

    Selain Pak Hari, Ustd. Wachid pun menekankan bahwa para penderita LGBT pasti dapat sembuh. Kesembuhan itu dapat dilakukan dengan menyadari bahwa itu adalah penyakit dan kita memiliki keinginan besar untuk sembuh. Serta penderita rajin menjalani terapi dan konsultasi secara tepat yang diiringi dengan doa kepada Allah dengan penuh harap. (Al_izzah/Nasiba)

    Post Tagged with , ,

Leave a Reply