• Sang Perindu Kematian, Barra’ bin Malik

    ilustrasi-_110823155536-227Ini adalah sebuah kisah di mana kala kita membacanya maka kita akan mengerti arti dari setiap hal yang kita lakukan. Sedikit terlambat memang, karena kita sudah belasan bahkan mungkin pulahan tahun hidup di dunia. Tapi seperti yang sudah kita ketahui, tak ada kata terlambat untuk berubah. Maka kawan, mari simak dan renungi setiap perbuatan kita. Sudahkah kita sama sepertinya? Ya, inilah sebuah kisah dari seorang perindu kematian yang hanya memiliki satu impian dalam hidupnya, yaitu menggapai ridho Allah dan mendapatkan surga sebagai balasan.

    Barra’ bin Malik namanya. Ia adalah seorang prajurit yang tak pernah mencari kemenangan dalam peperangan. Ia lah seorang yang mampu membangkitkan semangat ketika pasukan muslim dalam keputusasaan. Dalam perang Yamamah, ketika semua pasukan muslim merasa kemenangan telah di tangan mereka, dengan gagah berani Barra’ melompat ke dinding taman yang tebal untuk membuka pintu persembunyian pasukan kafir. Tak ada ketakutan. Dalam benaknya hanya satu yang ia inginkan, yakni menjemput kesyahidan yang selama ini ditunggunya. Namun ternyata Allah belum menghendaki.

    Meskipun begitu, hal tersebut tak menyurutkan semangat Barra’. Ia yakin bahwa setiap ajal telah ditentukan. Setelah sembuh dari 80 luka yang didapatnya dalam perang Yamamah, Barra’ kembali berperang. Ia dan Anas saudaranya mendapat sebuah misi untuk membuka pintu gerbang menuju benteng Persia. Saat itulah sebuah pengait besi panas dilempar dan mengenai Anas. Barra’ pun tidak tinggal diam. Dia lantas menarik besi panas itu dengan tangan dan  menebaskan pedangnya. Alhasil tangan Barra’ melepuh hingga yang tersisa hanya tulangnya.

    Seakan tak pernah lelah, bahkan setelah luka yang dideritanya, lagi-lagi Barra’ kembali berperang. Dan inilah pertempuran terdahsyat yang pernah diikutinya. Satu lawan satu, Barra’ mampu mengalahkan 100 prajurit Persia. Sebuah pertempuran bak musim gugur yang menggugurkan dedaunannya. Lalu ketika keputusasaan kembali mendera, Barra’ mengangkat tangannya khusyu dan berdoa, “ya Allah, mudahkanlah kami memenggal kepala mereka. Ya Allah, kalahkan mereka. Beri kami kemenangan dan pertemukan aku dengan nabi-Mu hari ini.” Ia pun melemparkan pandangan ke arah Anas yang sedang bertempur di sebelahnya seakan itulah akhir kebersamaan mereka. “Allahu Akbar!”

    Dan begitulah, diantara deretan syuhada’ perang, terbaring Barra’ dengan wajah tersenyum cerah bagaikan sinar mentari pagi. Tangan kanannya memegang pasir yang berlumuran darah. Lalu sebuah pedang tergeletak si sebelahnya tanpa goresan sedikitpun. Ya, sang perindu kematian telah berpulang. Kawan, kita tak harus menjadi Barra’ untuk mendapatkan surga-Nya. Lakukan amal yang terbaik dan berharaplah ridho Allah dan surga-Nya. Semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang dirindukan surga dan dapat menyambut kematian dengan suka cita karena akhir yang Husnul Khotimah. Aamiin.

    “Itulah surga yang telah diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan.”

     (QS. Al-Araf : 43)

     

    Umu Nasiba

Leave a Reply