• Saat Tupai Pandai Berkisah

    tupaiPernah dengar kisah ini sebelumnya?

    Tentang si tupai pandai? Aku sangat menyukai kisah tupai ini. Mau mendengarnya?

    Well, kisah ini dimulai dengan sebuah setting di kerajaan yang indah dan damai. Di kerajaan tersebut terdapat desa dengan sebuah keluarga yang harmonis. Keluarga itu terdiri atas ayah, ibu, seorang bayi, dan seekor peliharaan yang pandai. Ialah tupai. Suatu hari sang ibu harus pergi seharian dari rumah karena mendapat urusan yang penting. Ia berpamitan pada suaminya seraya berpesan untuk menjaga bayi kesayangan mereka. Sang ayah pun mengiyakan dan mengantar kepergian istrinya dengan senyum ikhlas.

    Kemudian setengah hari berlalu dan tiba-tiba sang ayah mendapat panggilan dari kerajaan untuk jamuan makan siang di istana. Ya, sang ayah memang telah menjadi orang penting di kerajaan tersebut. Ia adalah arsitektur ternama di desa. Mendapat panggilan itu justru membuat ayah bingung dan gelisah. Ia harus datang, karena akan sangat tidak sopan jika ia menolak permintaan Raja. Tapi, bagaimana dengan bayinya? Ia juga tidak mungkin membawanya ke jamuan makan siang, sebab akan merepotkan dan khawatir membuat ribut di sana. Tak tahu harus bagaimana akhirnya sang ayah memutuskan untuk mempercayakan bayi terkasihnya pada tupai peliharaannya yang pandai. Sudah sejak lama ayah dan peliharaannya ini berteman baik. Di desa pun orang-orang mengenal bahwa tupai keluarga kecil harmonis ini memang sangat pintar dan cerdik.

    Maka berangkatlah sang ayah setelah ia meminta tupainya untuk menjaga sang bayi. Siang pun berganti petang. Kini matahari tenggelam di peraduannya. Dengan wajah lelah ayah pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ia sadar bahwa istrinya belum kembali. Ia pergi untuk menyalakan lampu dan betapa terkejutnya ia ketika melihat di ujung ruangan tupai pandainya berdiri dengan mulut berlumuran darah. Tanpa pikir panjang ayah menuduh tupai itu melakukan sesuatu pada bayinya. “Kau apakan bayiku?” Teriaknya marah. Berang, ayah pun mengambil palu dari kotak perkakas. Kemudian tanpa ampun ia memukul sang tupai hingga mati tak bergerak. Setelah merasa puas ayah segera berlari ke kamar tempat ia menidurkan bayinya tadi siang. Cemas dan takut memenuhi ruang hatinya. Pikirannya penuh dengan dugaan akan bayinya yang terluka. Tapi apa yang ia dapatkan di kamar justru hal yang tak terbayangkan di benaknya. Ayah melihat bayinya tidur dengan nyenyak di atas tempat tidur, sedangkan seekor ular penuh luka gigitan terbaring di lantai kamar. Otaknya perlahan memahami apa yang sebenarnya terjadi. Seketika ia pun terduduk. Ia menangis karena sadar bahwa ia telah salah sangka pada tupai peliharaannya. Tupai tersebut sudah berusaha memenuhi pesan ayah dengan menjaga bayinya ketika ada ular yang masuk melalui celah jendela yang ternyata lupa ditutup. Perasaannya lega karena melihat bayinya baik-baik saja. Namun penyesalan datang seakan memakan rasa lega tersebut karena menyadari tingkah gegabahnya.

    Nah, kira-kira seperti itulah kisahnya.

    Kisah hidup tupai pandai yang dapat menjadi hikmah serta pelajaran bagi kita, beberapa hal penting yang seringkali kita lupakan.

    Pertama ialah tentang betapa pentingnya untuk selalu berbaik sangka. Bahkan di saat kita sedang lelah, marah ataupun cemas. Saat terlintas pada benak kita sangkaan buruk akan sesuatu atau seseorang, maka segeralah mencari seribu alasan pembanding yang dapat menghapus sangkaan buruk kita menjadi sangkaan baik. Sangkaan buruk dapat membawa kita kepada kejadian-kejadian buruk yang tidak diinginkan,vmembuat hati kita menjadi resah dan tidak tenang. Bahkan hidup dengan prasangka sungguh dapat menjauhkan kita dari pintu-pintu kebaikan dan kebahagiaan.

    Kedua ialah tentang pentingnya mengecek kebenaran dibalik suatu peristiwa atau perkataan sebelum menyimpulkan sendiri tanpa dasar dan bukti-bukti yang jelas. Saat kita mendengar perkataan atau menyaksikan peristiwa yang buruk tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi maka kita tidak boleh mudah termakan oleh berita atau kejadian buruk tersebut. Apalagi sekedar ikut-ikutan mengiyakan dan membenarkan padahal belum tentu hal itu yang terjadi. Seperti bunyi sebuah pepatah yang sudah sering sekali kita dengar, don’t judge someone or something by the cover. Secara ekstrem, ketika kita hanya ikut-ikutan membenarkan suatu berita padahal sebenarnya berita tersebut salah maka hal itu dapat berujung fitnah dan menyebabkan kebodohan bagi diri kita sendiri.

    Ketiga ialah penting untuk menjaga orang lain agar tidak berprasangka buruk kepada kita. Berprasangka buruk kepada orang lain memang tidak baik, namun melakukan hal-hal yang membuat orang lain menjadi berprasangka buruk kepada kita juga seharusnya tidak dilakukan dan sebisa mungkin dihindari. Apabila kita ingin mengkritisi kisah tupai pandai, kita dapat mengatakan bahwa sebagai seekor tupai yang cerdik seharusnya ia tidak berkeliaran dengan mulut penuh darah. Setelah mengalahkan ular, tupai tersebut seharusnya dapat membersihkan mulutnya sehingga sang ayah tidak akan salah paham kepadanya.

    Berburuk sangka, tidak selektif dalam menanggapi kebenaran suatu berita dan melakukan hal yang mampu menimbulkan prasangka tidak baik adalah hal-hal yang seringkali kita lupakan namun sangat penting untuk diingat agar kita terhidar dari keburukan. Lalu bagaimanakah caranya supaya kita mampu selalu berbaik sangka dan terhindar dari hal-hal yang tidak kita inginkan?

    Solusinya adalah akhlak.

    Seperti sebuah kata bijak, bahagia adalah ketika prasangka tak mampu mengalahkan akhlakmu. Dengan akhlak maka runtuhlah semua prasangka. Dengan akhlak maka terjagalah kita dari nafsu dan sifat tergesa-gesa. Dan dengan akhlak maka terhindarlah kita dari perbuatan bodoh dan sia-sia. Akhlak sebagai buah iman dan taqwa menjadi kunci penting agar hati dan pemikiran kita senantiasa terarah.

    Selalu memperbaiki akhlak dan tak lelah untuk istiqomah mempertahankannya merupakan bentuk ikhtiar kita dalam menjaga diri sendiri dan orang lain di sekitar kita dari bermacam-macam keburukan.

    Pernah dengar kisah ini sebelumnya?

    Tentang si tupai pandai? Jika sudah, mari kita petik hikmahnya dan mengamalkan kebaikan di dalamnya. Ya, aku sangat menyukai kisah tupai ini.

    Nawwas bin Sim‘an ra berkata:

    Aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebajikan dan dosa. Beliau bersabda, “Kebajikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di dalam dada dan engkau tidak suka jika dilihat orang.” (Muttafaq ‘Alaihi)

    By: Aya Al-Husna

Leave a Reply