• Menyimak Kehidupan dalam Seuntai Musim

    Oleh : Andi Fikri

    Lelaki itu duduk sendirian di salah satu ceruk di Jabal Nur, ceruk yang kini dikenal sebagai gua Hira. Tempat itu tak terlalu besar, hanya sebuah cekungan kecil yang menghadap langsung ke arah Makkah. Dari tempat itu, sang lelaki mampu menatap ke arah langit dan menikmati gemintang di angkasa luas. Ia juga dapat dengan leluasa menatap seluruh penjuru Makkah dan seluruh aktivitas penduduknya di tengah gelap malam.

    Sudah menjadi kebiasaan bagi sang lelaki untuk melakukan hal itu sebelum nubuwah datang mewarnai hidupnya. Muhammad, begitulah lisan-lisan melafalkan namanya. Bagi penduduk Makkah, lelaki itu serupa dengan namanya. Ia berparas menawan, gagah, santun preilakunya, bernasab mulia, bahkan bagi penduduk Makkah, ia adalah harta paling berharga yang mereka miliki. Laki-laki itu amat dihormati dan didengarkan kata-katanya sebab tak pernah sekalipun ia berdusta. Bahkan suatu ketika ia pernah diminta untuk menjadi penyelesai masalah –yang hampir saja berujung pada pertumpahan darah– dari pertikaian kabilah-kabilah Quraisy dalam peletakan hajar aswad.

    Menyendiri dan merenung. Itulah yang ia lakukan di ceruk sempit Jabal Nur. Terkadang sekali dalam satu tahun, terkadang lebih. Dada lelaki itu selalu bergemuruh tatkala duduk disana, mengasingkan pikiran dari keadaan Makkah yang sudah sangat jauh dari agama yang dibawa Ibrahim as berabad lalu. Ia terus begitu sampai Jibril datang dan memeluknya erat lalu menyampaikan ayat pertama dari Al-Qur’an kepada lelaki itu.

    “Iqra’,” katanya.

    “Maa ana bi qari,” aku tak bisa membaca, jawab sang Nabi yang diulang sebanyak tiga kali hingga Jibril membacakan ayat itu lalu diulangnya perlahan.

    Hari itu Muhammad dilantik menjadi seorang nabi dan rasul terakhir, tanda pertama menuju akhir zaman. Mulai malam itu, sebuah amanah diletakkan di pundaknya yang bidang. Amanah yang membuatnya harus rela dicaci maki dan diusir dari kota Makkah, dilempari batu hingga berdarah-darah di Thaif, bahkan nyawanya menjadi incaran oleh sukunya sendiri. Namun, dari beban di pundaknya, lahirlah beribu karunia dan kemuliaan bagi orang-orang yang hidup di sekitarnya. Di dadanya cinta menguat, bahkan cinta itu terus berlanjut hingga Firdaus nanti ketika ia mencidukkan air bagi umatnya yang berjalan mendatangi danau milik sang nabi.

    Allahumma shalli ‘alaa Muhammad.

    ***

    Membaca. Begitulah ciri khas kaum muslimin sejak dahulu, bahkan membaca sudah menjadi perintah Allah bagi mereka. Tepatnya didalam surah Al-Ankabut ayat 20 Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    Membaca bukan berarti menelan teks demi teks, lembar demi lembar, atau buku demi buku. Ia sebenarnya adalah pemanis akal dan pelembut hati. Hal ini dikisahkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 258.

    Ketika itu Ibrahim  di hadapan penguasanya mengatakan, “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.”

    Lalu si penguasa kafir itu berkata, “Aku bisa menghidupkan dan mematikan.” Pikirnya ia bisa membunuh seseorang, atau membiarkannya hidup.

    “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat,” bantah Ibrahim hari itu dengan keimanan yang menjulang tinggi. Bantahan Ibrahim hari itu membuat si penguasa kafir tak mampu berkata-kata, dan kita sama-sama tahu bagaimana kisah ini berlanjut bukan?

    Pernyataan Ibrahim ini tidak tumbuh dengan proses yang mudah. Sebelumnya ia berkali-kali berkeliling. Bertemu rembulan, lalu ia anggap sebagai tuhan. Ketika rembulan itu terbenam, Ibrahim sadar jika itu bukan tuhan. Begitupun pada mentari yang ia anggap sebagai tuhan karena memberi kehidupan, tapi pada akhirnya ia terbenam lalu Ibrahim sadar jika itu bukan tuhan. Perlahan tapi pasti, pada akhirnya keyakinan Ibrahim bermuara pada Dzat yang satu: Allah SWT.

    Beginilah seni membaca. Membaca pergerakan ayat-ayat kauniyah yang sudah Allah hamparkan secara luas di bumi ini. Seni membaca yang menjadi pengantar bagi Ibrahim dalam menemukan Rabb-nya dan menjadikannya sebagai ayah dari para nabi setelahnya. Dari membaca, Ibrahim sadar bahwa ada kekuatan yang menggerakkan mentari, bulan, gemintang dan segala apapun yang ada di bumi. Layaknya lukisan indah ataupun segala fasilitas yang tengah kita nikmati hari ini. Benda-benda yang tidak akan ada kecuali karena ada yang menciptakan. Begitupun bumi ini dan segala isinya.

    Hingga akhirnya keimanan Ibrahim dari proses pencarian panjang itu berbuah manis. Bahkan dalam salah satu riwayat Rasulullah pernah bersabda jika dirinya adalah doa yang pernah diucapkan Ibrahim as dulu ketika ia meminta kepada Allah agar diutus seorang rasul ditengah kaum yang umi (tak dapat baca tulis). Indah bukan?

    “Maka tidakkah kamu memperhatikan?” firman Allah yang diulang berkali-kali dalam Al-Qur’an sebagai teguran.

    Lalu apakah kita tidak memperhatikan?

    ***

    Hari itu, di tengah-tengah musim dingin yang semakin menggigit. Ketika salju mencapai titik tertingginya dan gumpalan yang turun sudah berupa kapas-kapas yang lebih tebal dari biasanya. Teringat jelas di ingatan saya bagaimana bumi hari itu benar-benar mati. Tak ada lagi daun poplar yang masih setia bertengger di ujung-ujung pohon melainkan sudah gugur seluruhnya. Begitu juga danau yang permukaannya sudah memadat, kecuali di bagian sumber air yang terus bergerak. Hanya lapisan es tipis yang terlihat di atasnya.

    “Dek, kira-kira apa yang bisa kita tarik dari musim-musim yang tengah kita lalui?” tanya sahabat sekaligus guru bagi saya hari itu. Saya yang baru pertama kali merasai musim dingin hanya menggeleng pelan.

    “Bagi saya, Allah tengah memperlihatkan pada kita bagaimana bumi yang awalnya hidup kemudian dimatikan dengan mudahnya. Allah tengah memberi tahu kepada kita tentang apa itu makna dari persiapan dan rencana. Coba kamu bayangkan dek, andai saja kita terlambat dalam mempersiapkan diri menghadapi musim dingin di musim gugur kemarin, semisal kita lupa membeli sepatu bot khusus ini (sambil menunjuk sepatu baru kami). Kira-kira apa yang terjadi?

    Allah tengah memperlihatkan pada kita bagaimana siklus hidup itu berjalan dek.”

    “Maksudnya bang?” tanya saya kemudian. Terasa gap yang begitu besar antara bahasan beliau yang tengah menempuh jenjang doktoral dan saya yang belum lama lulus dari SMA.

    “Maksud abang begini. Siklus alam ini berputar, begitu juga siklus hidup kita. Bumi yang awalnya hidup, lalu Allah matikan dengan mudahnya. Yang awalnya menyenangkan untuk dinikmati, tiba-tiba terasa menyakitkan untuk dinikmati. Diawali musim panas kemarin yang suhunya mencapai 40 derajat lebih, rasanya tak nyaman bukan? Tapi kita bisa menikmati banyak buah-buahan di musim itu. Lalu musim gugur dengan daun kemuningnya yang tak biasa ditambah udara sejuk khas musim gugur. Terasa nyaman dan meneduhkan bukan?

    Lalu sekarang musim dingin datang. Rasanya tak nyaman di wajah dan persendian, seperti yang kita rasakan sekarang. Tapi kita bisa menikmati banyak hal. Udara dingin yang tak pernah kita rasakan di Indonesia, berdiri di atas danau yang membeku, juga banyak hal lain. Menyakitkan tapi ada kebahagian di baliknya bukan?

    Dan satu bulan lagi ketika musim dingin berakhir, kita akan didatangi oleh musim semi. Dimanjakan dengan pepohonan yang mulai hidup kembali dari yang sebelumnya mati, rerumputan hijau dan bunga-bungaan. Bahkan nanti ada festival bunga tulip di Istanbul. Kita kembali dimanjakan dengan kebahagiaan dan udara hangat.

    Bagi abang, kehidupan juga sama seperti itu dek. Ada kebahagiaan dan ujian yang datang silih berganti. Di tengah kebahagiaan yang datang itu, kita dituntut untuk mampu tetap berada dalam kondisi yang stabil dan tidak berlebih-lebihan. Cukup dengan apa yang ada demi mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang tidak terduga kemudian. Kita bebas berekspresi dan tersenyum sesuka hati. Kita dibebaskan menikmati seluruh sajiannya, hanya saja kita perlu ingat tentang musim selanjutnya.

    Begitu juga ketika kesusahan itu datang. Kita dituntut untuk tetap bersabar dalam menghadapinya sekaligus mencoba mencari hal positif dibalik apa yang terjadi pada diri kita. Dari peralihan-peralihan yang terjadi itu, kita dituntut untuk tetap waspada dan siaga dengan apa yang terjadi. Dan satu hal yang abang yakini, bahwa dibalik apapun yang terjadi di bumi ini ada satu Dzat yang mengatur seluruh sirkulasinya. Begitupun dalam kehidupan kita. Yah, begitulah,” jelasnya.

    Dan begitulah seorang muslim seharusnya. Ia mampu membaca dan memaknai apa yang terjadi di hadapannya sekaligus mampu menentukan sikap seperti apa yang seharusnya ia lakukan dalam menghadapi kondisi-kondisi yang tengah dan akan dihadapi.

    Maka  hari ini, mari kita duduk bersama. Melingkar. Menikmati sajian dari Rabb kita dengan sepenuh pemaknaan kemudian bersama mengharap kebaikan dari setiap langkah yang kita tempuh, juga dari setiap ujian yang datang silih berganti.

    “… dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya (manusia).” (QS. Qaaf: 16)

    Wallahu a’lam. (AF/TRH)

Leave a Reply