• FENOMENA KEMISKINAN: BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA BERSIKAP?

    Kesengsaraan umatSalah seorang di antara kamu mengambil tali, kemudian membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya lalu dijualnya, sehingga ditutup Allah air mukanya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang, baik ia diberi maupun ditolak (HR Bukhari).

    Allah mengamanahi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Selain ditugaskan untuk beribadah, manusia juga diwajibkan untuk menjaga bumi dan seisinya serta melarangnya untuk berbuat kerusakan di manapun ia berada. Bumi sejak awal diciptakan hingga saat ini telah menjadi tempat hidup yang sangat luar biasa, bahkan di dalamnya Allah telah menjamin keleluasaan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya. Pernahkah kita berpikir bagaimana seekor burung yang tidak dikaruniai tangan bisa mendapatkan makanan? Atau bagaimana seekor cicak yang hanya mampu melekat di dinding bertitah untuk memangsa nyamuk yang terbang?

    Dialah Allah Yang Maha Rahman, Yang telah menciptakan setiap makhluk dengan rezekinya masing-masing dan kadarnya telah tertulis secara rinci di kitab yang terjaga (lauh mahfudz). Namun sayangnya, terkadang kita sebagai manusia yang diciptakan dengan berbagai karunia seringkali mengeluh tentang beratnya hidup dan kurangnya rezeki, menyalahkan seolah-olah Allah tidak berlaku adil kepadanya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Ad-Dhuha [93] ayat ke-8, “Bukankah Allah telah mendapatimu miskin kemudian Dia  menganugerahkan kepadamu kecukupan?

    Maka sesungguhnya setiap manusia yang hidup di muka bumi telah Allah jamin rezekinya, hanya saja kita terkadang menemui manusia yang tidak bersyukur atas apa yang dianugerahkan kepadanya. Ia membangkang dari perintah Allah, merasa sombong dengan apa yang dimilikinya, kufur atas nikmat yang diberikan kepadanya, atau mengeluh dengan apa yang telah diangerahkan kepadanya. Terkadang kita menemui manusia yang berlimpah kenikmatan namun enggan mengeluarkannya di jalan Allah, bahkan untuk zakat sekalipun. Padahal telah dikatakan kepadanya bahwa di dalam rezekinya itu ada hak orang miskin yang harus ia keluarkan. Pun juga orang-orang yang dilimpahkan kesempitan kepadanya. Namun terkadang kita dapati sebagian dari mereka lagi-lagi tidak bersyukur dan melanggar perintah Allah demi mendapatkan apa yang ia inginkan, meski sebenarnya tidak ia butuhkan sama sekali. Maka benarlah perkataan Iblis dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 16 dan 17, “Iblis menjawab:Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat kepada Allah)’.

    Menurut data yang dipublikasikan oleh bps.go.id, sekitar 11,2% dari jumlah penduduk Indonesia berstatus miskin, maka tak heran jika kegiatan pembagian zakat, sedekah, undian berhadiah, atau bahkan hanya sekedar saweran di perkawinan tak pernah sepi dari peminat. Bagi Indonesia, manusia yang hidup dan tinggal di kolong jembatan ataupun bekas gorong-gorong bukan lagi menjadi sebuah fenomena yang langka. Kegiatan MCK, mencari ikan, atau bahkan anak-anak yang bermain di sungai berair keruh dan dipenuhi sampah pun menjadi sebuah hal yang biasa kita lihat sehari-hari. Fenomena seperti ini juga kerap terjadi di bulan Ramadhan, warga dari daerah berduyun-duyun pergi ke kota demi mengais rupiah dengan cara mengemis di halaman masjid-masjid besar. Kemiskinan dan hilangnya rasa malu serta empati baik dari orang berdasi sampai pemanggul karung goni menjadikan fenomena ini menjadi sangat lumrah. Ironisnya, hal-hal seperti ini terjadi di negara yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Agama yang mengajarkan setiap pemeluknya untuk selalu berbagi, memiliki harga diri tinggi, bahkan agama yang jelas-jelas mengancam para pemimpin yang tidak memedulikan kehidupan rakyatnya sama sekali. Maka tak heran jika hari ini Islam kemudian diidentikkan dengan fenomena kemiskinan.

    Sudah sewajarnya jika kita sebagai umat muslim mulai kembali membuka lembaran-lembaran sejarah, mencontoh bagaimana generasi-generasi terdahulu menjalani setiap segmen kehidupan yang dilalui. Seyogianya hari ini kita mulai mencontoh bagaimana Utsman bin Affan, seorang sahabat Rasul yang kaya raya membelanjakan kekayaan yang dianugerahkan kepadanya untuk mengharap ridho Allah. Ia membelanjakan hartanya untuk memerdekakan budak, membiayai jihad fii sabilillah, bahkan membeli sumur di Madinah yang kebermanfaatannya masih bisa dirasakan hingga hari ini. Atau kita bisa mencontoh sikap Abdurrahman bin Auf yang meminta ditunjukkan lokasi pasar dan menjadi buruh panggul di sana daripada menerima pemberian saudara barunya di Madinah. Kemudian Allah mengaruniakan baginya kekayaan yang melebihi apa yang dimiliki oleh sahabat Rasulullah SAW yang lain. Ia menjelma menjadi saudagar yang kaya raya dengan iman yang sangat kokoh. Maka dari keimanannya itu Allah karuniakan baginya harta yang berlimpah dan penuh keberkahan. Beliau meninggalkan ribuan unta, ribuan kambing, dan ratusan kuda ketika meninggal. Abdurrahman bin Auf semakin menyejarah setelah membiayai Perang Tabuk yang terkenal dengan biaya yang mahal akibat sulitnya medan, jauhnya jarak, serta kondisi kekeringan yang tengah melanda kehidupan kaum muslimin. Abdurrahman bin Auf adalah laki-laki yang rela meninggalkan harta bendanya di Makkah yang bernilai milyaran bahkan trilyunan rupiah demi menaati perintah Rasulullah untuk hijrah ke Madinah.

    Uniknya, kehidupan kedua sahabat yang kaya raya ini sangat dekat dengan kesederhanaan. Tidak bermewah-mewahan dengan hartanya, bahkan ia rela mengeluarkan berapapun demi menaati perintah Allah dan Rasulnya. Maka ketaatan kepada hukum-hukum Allah menjadi kunci dari kelapangan dan keberkahan rezeki, sebab bagi setiap makhluk, hasil akan mengikuti seberapa keras ia berusaha dan seberapa giat ia berdoa. Lalu akan seperti apa sikap kita hari ini?

    Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imran ayat 26).

    (MK/AF)

     

    Post Tagged with

Leave a Reply