• DKM IBAADURRAHMAN: HTA SEBAGAI PENGINGAT BAGI SESAMA

    HTA

    Media Alhurriyyah, Bogor – Barisan berwarna merah muda berjajar di pinggir jalan. Berbagai jargon diteriakkan dalam rangka memeriahkan Hari Tutup Aurat (HTA) yang biasa dilaksanakan setiap tanggal 14 Februari. Barisan ini dibentuk oleh Forum Lembaga Dakwah Kampus IPB (FSLDKI). Kegiatan yang diadakan berupa long march, pembagian amunisi, launching HTA, kajian, serta pengadaan stand make over. Barisan long march dipenuhi spanduk dan kertas karton yang bertuliskan ajakan untuk menutup aurat. Barisan ini bergerak dari Masjid Al-Hurriyyah menuju Graha Widya Wisuda yang diiringi oleh jargon dan orasi. Acara semakin ramai dengan dibukanya stand make over dengan tujuan untuk menyediakan ‘ruang’ bagi masyarakat yang ingin belajar dan mengerti bagaimana hijab syar’i itu sesungguhnya.

    Salah satu dari lembaga dakwah yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini adalah DKM Ibaadurrahman yang merupakan lembaga dakwah di fakultas kehutanan IPB. Untuk menyemarakkan acara ini, DKM Ibaadurrahman menyiapkan beberapa amunisi yang dibagikan kepada masyarakat. Lembaga dakwah ini mengumpulkan kerudung, rok, maupun baju dari berbagai kalangan yang kemudian dibungkus ke dalam plastik untuk dibagikan kembali. Selain itu DKM Ibaadurrahman juga membuat bros-bros cantik berbahan pita untuk menambah keragaman amunisi yang dibagikan.

    Menurut ketua SHE (Sholeha-E) yang merupakan divisi kemuslimahan di DKM Ibaadurrahman, acara HTA ini dilakukan untuk mensosialisasikan hijab yang merupakan kewajiban bagi muslimah. Tanggal 14 Februari dipilih juga untuk menenggelamkan isu-isu valentine yang oleh sebagian orang dianggap sebagai hari kasih sayang (namun salah kaprah –red). Dengan adanya Hari Tutup Aurat ini diharapkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kewajiban menutup aurat semakin meningkat.

    “Saya harap HTA tetap dapat berlangsung setiap tahun. Hijab syar’i memang tidak hanya dilaksanakan dalam satu hari, namun kegiatan ini bisa menjadi pengingat bagi para wanita, bahwa menutup aurat adalah kewajiban, dan diharapkan pengetahuan mengenai bagaimana hijab syar’i itu bertambah”, demikian yang disampaikan oleh Tria Ratu selaku ketua bagian kemuslimahan di DKM Ibaadurrahman. “Banyak yang ingin berhijab syar’i, namun tidak mengerti bagaiman hijab syar’i itu, ataupun cara memakainya. Dengan adanya stand make over, akhirnya baik ibu-ibu maupun mahasiswi menjadi tau, bagaimana cara menggunakan jilbab yang sesungguhnya”, lanjutnya lagi. Tria mengaku merasa terharu saat melihat partisipan yang keluar dari ruangan yang disediakan di stand make over dengan pakaian syar’i. Harapannya, di hari-hari selanjutnya pakaian syar’i ini akan terus digunakan, dan semakin banyak lagi wanita yang menggunakannya. (TRH/AF)

Leave a Reply