• Sepenggal Cerita dalam Perjalanan

    kaiSenang rasanya bisa kembali ke kampung halaman. Bertemu dengan adik kelas, guru, juga teman lama. Banyak pengalaman yang didapat bersama mereka, bahkan tak terhitung jumlahnya. Perjalanan ke kampung halaman membawa semangat tersendiri. Pikiranku melayang, seolah-olah aku berada di tiga tahun yang lalu. Mengenang berbagai pengalaman yang aku dapat sewaktu sekolah membuatku senyum-senyum sendiri. Kisah lucu dan menyenangkan kembali berputar di dalam kepalaku.

    Sepanjang perjalanan, kereta yang kunaiki melewati hamparan sawah yang luas. Warna hijau dimana-mana. Aku melihat dari balik kaca, para petani sedang mengolah sawahnya. Mereka bekerja keras untuk mengolah sawah agar menghasilkan padi yang banyak. Tanggung jawab mereka sangat besar, yaitu menyediakan makan bagi masyarakat. Panas matahari membakar kulit mereka. Keringat mengalir dengan deras dari dahi dan tangan-tangan mereka. Walaupun banyak cobaan dan tantangan yang mereka hadapi, mereka tetap berusaha memenuhi kebutuhan dasar bagi orang di sekitarnya, yaitu makan. Tangan-tangan mereka tidak hanya digunakan untuk satu pekerjaan. Mulai dari menanam, merawat, dan memanennya tidak lepas dari tangan para petani.  Tak terhitung berapa kali mereka melakukan itu secara berulang-ulang.

    Hujan mulai turun setelah melewati hamparan sawah yang luas. Butir-butir air mulai membasahi kaca jendela gerbong kereta. Awan mendung perlahan-lahan menutupi langit yang cerah. Sinar matahari perlahan menghilang dari langit. Aku teringat pada masa-masa sulit kelas dua belas. Mulai dari tugas yang menumpuk, latihan persiapan ujian nasional, sampai waktu tidur yang berkurang karena adanya kelas malam. Waktu untuk bermain sepertinya hampir tidak ada bagiku. Yang ada adalah belajar, belajar, dan belajar. Semua temanku juga sudah fokus dengan rencana setelah lulus dari sekolah nanti. Ada yang melanjutkan kuliah, membantu pekerjaan orang tua, atau membuka usaha sendiri dengan keterampilan yang mereka miliki.  Hal-hal seperti itu memang sangat berat untuk dijalani, seandainya aku tidak memiliki tekad dan semangat dalam menjalaninya. Alhamdulillah, Allah memberiku kekuatan untuk menjalani semua tantangan itu.

    Selama perjalanan aku lebih banyak diam. Aku adalah tipe orang yang suka mengamati sehingga jarang untuk melakukan percakapan dengan orang lain. Aku lebih suka duduk di dekat jendela karena lebih mudah untuk melihat pemandangan yang ada di depan dan di samping. Di samping kananku, duduk seorang bapak. Beliau adalah seorang peneliti di bagian penelitian kelautan. Sementara di depanku, duduk seorang bapak bertubuh kekar. Beliau adalah seorang tentara angkatan laut. Mereka saling berbincang dan membahas hal-hal yang aku sendiri tidak mengetahuinya. Walaupun begitu aku senang mendengar pembahasan mereka.

    Setelah lima jam perjalanan, kereta sampai di Purwokerto. Pemandangan di sana masih asri, masih banyak sawah seperti dulu. Daerahnya yang terletak di pegunungan, membuat perasaanku tenang. Ingin sekali aku tinggal di daerah seperti itu. Jauh dari kebisingan lalu lintas dan polusi perkotaan. Daerah di sepanjang jalur kereta dari Purwokerto sampai Kutoarjo berupa pedesaan yang masih terawat keindahan alamnya. Irigasi masih lancar, padi tumbuh dengan subur, dan semua tanaman petani  dapat diambil manfaatnya. Jalan setapak di tengah sawah yang dulu berupa tanah dan batu, sekarang telah menjadi jalan desa yang baik.

    Hujan mulai reda ketika memasuki wilayah Yogyakarta. Daerah istimewa yang satu ini memang menjadi tujuan wisata favorit bagiku. Letaknya dekat dengan Kota Solo dan mudah dijangkau dengan naik kereta api. Langit menjadi gelap dan matahari sudah tenggelam menandakan waktu maghrib telah tiba. Suara adzan memenuhi langit Yogyakarta yang gemerlap dengan lampu-lampu kota. Pemandangan kota di malam hari yang sangat indah.

    Perjalanan menuju Solo tinggal satu jam lagi. Badanku mulai lelah karena selama perjalanan aku tidak tidur. Ya, itu salah satu ciriku ketika dalam perjalanan. Tidak bisa tidur dan asyik melihat pemandangan luar dari balik jendela. Kereta singgah di Klaten untuk menurunkan para penumpang. Gerbong kereta mulai sepi dan hanya ada sepuluh orang dalam gerbong itu. Setelah melaksanakan sholat, aku menyiapkan tas dan barang lainnya yang aku bawa. Barang bawaanku cukup banyak, terutama oleh-oleh untuk keluarga di rumah.

    Akhirnya keretaku sampai di Purwosari, sebuah stasiun kecil yang kini menjadi stasiun besar di Kota Solo. Untuk pertama kalinya setelah delapan bulan, aku menginjakkan kaki di stasiun ini. Solo mengalami banyak perubahan. Banyak hotel dan gedung penginapan yang dibangun di sudut kota. Perkembangan kota ini sangat pesat, tidak seperti yang aku bayangkan. Akhirnya, setelah enam bulan di Bogor aku bisa menghirup kembali udara malam Kota Solo.

    Selamat datang kampung halaman!

    (ARP/AF)

    Post Tagged with , ,

Leave a Reply