• Lapis Lapis Jilbabku

    hhh“Mbak, kok jilbabnya gitu amat, sih? Sampe tiga lapis, kaya lapis talas“ Komentar seorang temanku. Aku hanya bisa tersenyum.

    Tahukah kamu, beginilah mampuku. Aku hanya berharap bisa taat pada pinta Rabb-ku. Milikku hanyalah jilbab jilbab tipis, sisa masa jahiliyahku dulu. Allah tak hendak menyusahkan hambaNya. Allah tau, hanya inilah punyaku, dan aku tau Allah mengerti keadaanku. Ya, aku hanya mampu menyusun lembaran kain tipis itu, hingga berlapis-lapis. Semata agar auratku tak terlihat, tak tertatap. Agar jilbabku sesuai syariat. Agar jilbabku sesuai dengan mau-Nya, menjulur hingga dada dan tak terawang.

    Taukah kamu, terkadang aku sangat iri padamu. Kamu, tentu mampu membeli jilbab itu. Jilbab lebar dan tebal itu. Jilbab yang bahannya nomor satu. Jilbab yang halus, jatuh langsung ke kepala pemakainya, dan ah, tentu saja, sejuk. Tidak seperti jilbab berlapis tigaku yang kelihatannya sungguh menggerahkan. Tapi kamu tau apa yang selalu kupikirkan dan ingin sekali kuutarakan? Duhai sayang, mengapa kamu kenakan jilbab itu tak sebagaimana mestinya? Mengapa ia dilipat sedemikian kecil? Mengapa ujung-ujungnya kamu lempar ke balik lehermu? Mengapa tak kamu ulurkan hingga tubuhmu? Malukah kamu, sayang? Malukah kamu memakai jilbab lebar tak transparan?

    Terkadang aku iri denganmu, aku kerap impikan kain yang kamu gunakan itu. Aku kerap meminta pada-Nya agar mengabulkan harapku itu. Ah ya, barangkali kehendak Allah lain. Barangkali Allah menyayangiku. Barangkali, jikalau aku mendapatkannya, aku malah tenggelam dalam tabarruj. Allah hendak mendekatkanku padaNya. Mendekat, dengan lapis-lapis jilbabku. (NF/TRH)

    Penulis: Fai

    Redaktur: TRH

Leave a Reply