• Bertahan di Asrama

    bertahanSekarang aku adalah seorang mahasiswa baru di Institut Pertanian Bogor. Selama satu tahun, aku diwajibkan untuk tinggal di asrama. Bagiku, asrama terasa sangat menyenangkan. Selain mendapat teman baru, aku pun mendapat pengalaman baru yang belum pernah kudapatkan sebelumnya. Tinggal di asrama memiliki cerita tersendiri, mulai dari mencari makan, belajar, dan mengerjakan tugas bersama. Hidup di asrama juga melatih diri kita untuk pandai dalam mengatur waktu dan keuangan. Jangan sampai waktu yang kita miliki hilang sia-sia. Jangan sampai pula, uang kita habis untuk hal-hal yang tidak penting. Intinya, kehidupan di asrama melatih diri kita untuk hidup mandiri dan peduli dengan keadaan teman kita.

    Membeli makanan adalah hal yang tidak mudah. Dulu aku membayangkan bahwa letak warung nasi tidak jauh dari asrama. Ternyata, letak warung nasi cukup jauh dan melelahkan. Ada dua tempat yang biasa aku kunjungi untuk membeli makanan. Pertama, Red Corner, kantin merah yang terletak tepat di samping pertigaan jalan ke arah masjid Alhurriyyah,  dan yang kedua ada di warung nasi “Konoha”. Nama konoha sendiri diambil dari posisi tempatnya yang terpencil dan dikelilingi pepohonan rindang. Kedua tempat itu selalu ramai ketika jam pulang kuliah ataupun jam-jam makan. Untuk menuju ke sana, aku biasa berjalan kaki. Bentuk jalanan yang mendaki membuatku cepat lelah sebelum sampai ke tempat itu. Sejujrunya hal itu membuatku malas untuk membeli makan, sehingga terkadang aku membeli dua bungkus nasi. Satu untuk dimakan saat itu juga, satu lagi kujadikan ‘simpanan’.

    Tak cukup sampai di situ. Para penghuni asrama putra memiliki permasalahan lain untuk memperoleh makanan: Hujan. Terkadang ketika hujan deras, kami harus menerobos, berjalan menembus dinginnya hujan yang kadang disertai angin dan petir. Hal ini cukup merepotkan bagiku, terlebih karena ‘sejujurnya’ aku cukup takut dengan petir. Terkadang aku merasa enggan untuk melangkah, tapi di sisi lain rasa lapar mendorongku untuk terus melangkah. Daripada konsentrasi belajarku buyar karena suara perut yang mengganggu, yah, lebih baik aku luangkan waktu sedikit dan melawan rasa takutku bukan? Di sini aku sadar, ternyata aku tidak akan memperoleh apapun tanpa memperjuangkannya terlebih dahulu. Aku menjadi lebih mengerti tentang betapa berharganya sesuap nasi.

    Rasa peduli terhadap orang lain juga dilatih di asrama. Misalnya, ketika hendak menggunakan kamar mandi lorong. Kita tidak boleh berlama-lama menggunakan kamar mandi dan hemat dalam menggunakan air, khususnya di antara jam 06.00 – 06.45 dan jam-jam selepas dzuhur. Di jam-jam ini, kamar mandi asrama selalu penuh sehingga terkadang aku harus mencari kamar mandi yang kosong ke lorong sebelah (yang ternyata penuh juga). Perlu kesabaran ekstra rasanya, menunggu dan menunggu.

    Suatu ketika aku pernah merasakan pentingnya air bagi kami, insan asrama. Pernah suatu hari air di asrama mendadak mati, tepat di jam-jam sibuk untuk persiapan kuliah! Semua penghuni asrama merasa panik karena sebentar lagi mereka akan berangkat kuliah. Aku tetap menunggu sampai air kembali mengalir. Namun, beberapa penghuni asrama yang lain tetap nekat untuk mandi dengan air seadanya. Ada yang hanya mencuci muka atau menggosok gigi. Bahkan, ada yang terpaksa mencuci muka menggunakan air galon. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya air kembali mengalir. Walaupun waktu masuk kuliah sudah sangat mepet, aku memberanikan diri untuk mandi seperti biasa. Dari kejadian itu aku mendapatkan pelajaran bahwa air adalah hal yang utama dalam kehidupan dan kita harus menggunakannya secara bijak.

    Selain sikap sabar dan peduli, sikap disiplin juga dilatih di asrama. Aku harus pandai dalam mengatur waktu dalam sehari. Aku harus pandai dalam membagi waktu untuk belajar dan bermain. Semua kegiatan kita dalam sehari harus disusun dengan baik agar berjalan dengan lancar dan kita dapat menyelesaikan tugas tepat waktu. Jika masuk kuliah pada pagi hari, kita tidak boleh tidur terlalu larut malam. Waktu istirahat yang cukup merupakan komponen yang utama dalam mengembalikan kesegaran tubuh kita. Kurang istirahat membuat tubuh kita mudah lelah dan sulit untuk menyerap materi yang diterangkan di dalam kelas. Ada salah satu aturan di asrama yang isinya kita tidak boleh kembali ke asrama melebihi jam sembilan malam. Jika kita kembali ke asrama melebihi jam sembilan malam, nama kita dicatat di buku pelanggaran. Aku pernah sekali dicatat di buku pelanggaran itu dan hanya diberi peringatan secara lisan. Kalau sudah berulangkali melanggar aturan, KTM bisa disita dan kita harus membuat surat untuk mengambilnya.

    Hidup di asrama memang ada senang dan susahnya. Segala kesulitan dan kendala yang ada, membuat diri kita semakin terlatih untuk hidup mandiri dan kuat dalam menghadapi tantangan. Sikap bijak diperlukan agar kita dapat menggunakan kesempatan secara baik dan tidak sia-sia.

    (ARP/AF)

    Post Tagged with

Leave a Reply