• Kerjasama sebagai Dasar Persatuan

    154272_181761201834690_100000024338987_662732_6724383_nBetapapun berwarnanya kehidupan setiap orang. Pasti terdapat orang lain yang senantiasa menyertai disekelilingnya. Bisa sahabat, pasangan, ataupun keluarga yang memainkan peranan itu. Interaksi seseorang dengan orang lainnya dalam setiap aktivitas dalam hidup ini tak mungkin bisa dilenyapkan. Aristoteles menjelaskan bahwa manusia disebut zoon politicon, artinya manusia itu adalah makhluk yang selalu hidup bermasyarakat. Hal ini dapat diungkapkan dengan istilah singkat yaitu bergaul, bersosialisasi, atau berjamaah. Konsep bekerja sama dalam melakukan suatu hal adalah bagian dari aktivitas bermasyarakat. Selain itu, ditegaskan pula bahwa seseorang tak pernah bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan apapun di dunia ini tanpa lepas dari bantuan orang lain. Ketika makan misalnya, kita membutuhkan sepiring nasi lengkap beserta lauk pauknya. Untuk nasi saja, kita tak bisa meniadakan peran para petani yang saban hari menggarap sawah, memupukki padinya dan memanennya setelah tumbuh berbulan-bulan hingga kemudian siap untuk diproses selanjutnya menjadi butiran-butiran beras. Selepas dipanen oleh para petanipun, hasil panen masih terus melewati perpindahan dari satu orang ke orang lain dan dari satu ke tempat ke tempat lainnya sampai menjadi beras yang siap untuk dimasak. Hingga singkatnya sepiring nasi itu tiba dihadapan dan siap untuk kita santap. Itu baru nasi, belum lagi lauk pauk, air putih, piring, sendok, gelas dan sebagainya yang kita gunakan untuk makan. Dan itu baru satu aktivitas berupa makan, belum lagi beragam aktivitas lain yang kita lakukan setiap hari tentu takkan pernah bisa lepas dari peran yang dilakukan oleh orang lain. Setiap apapun yang kita perbuat, besar ataupun kecil senantiasa orang lain turut serta dalam membantu atau menuntaskan pekerjaan kita. Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman :

    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al Maaidah 5:2)

    Makna kebajikan al-birru dalam ayat tersebut adalah berarti kebaikan yang sifatnya menyeluruh dan mencakup segala macam hal yang dijelaskan dalam syariat. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mendefinisikan bahwa kebajikan atau al-birru adalah satu kata bagi seluruh jenis kebaikan dan kesempurnaan yang dituntut dari seorang hamba. Lawan katanya dosa atau al-itsmu yang maknanya adalah satu ungkapan yang mencakup segala bentuk kejelekan dan aib yang menjadi sebab seorang hamba sangat dicela apabila melakukannya. Sementara itu, kata kebajikan yang disandingkan dengan kata takwa juga bukan tanpa arti, seseorang yang melakukan perbuatan baik juga hendaklah dilengkapi dengan sikap ketakwaan. Takwa menjadi pilar penting untuk menjadikan seseorang melakukan ketaatan hanya kepada Allah SWT dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, baik yang berupa perintah ataupun larangan.

    Thalq bin Habîb, seorang Ulama dari kalangan generasi Tâbi’în berkata:” Apabila terjadi fitnah maka bendunglah dengan takwa”. Mereka berkata:” Apa yang dimaksud dengan takwa?”. Beliau menjawab:” Hendaknya engkau melakukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dengan dasar cahaya dari Allah Azza wa Jalla dan mengharap pahala-Nya. Dan engkau tinggalkan maksiat dengan dasar cahaya dari Allah Azza wa Jalla dan takut terhadap siksa-Nya”.

    Jadi, kebajikan dalam setiap perbuatan yang dikerjakan menjadi landasan dalam melakukan aktivitas untuk bekerja sama dan kerjasama atau tolong-menolong dalam berbuat kebajikan merupakan  prinsip penting dalam Islam yang mencakup semua masalah kemasyarakatan. Kerjasama juga merupakan fondasi persatuan yang mampu membuat kaum Muslimin dapat saling berinteraksi demi melakukan perbuatan baik dan memupuk iman dan takwa, bukannya berbuat zalim, aniaya dan dosa.

Leave a Reply