• Hari Kartini “Minadz Zhulumaati Ilan Nuur”

    “Minadz Zhulumaati Ilan Nuur”

    1384249_643068375746826_127958873350791052_a“Bagi saya hanya ada dua keningratan: Keningratan Pikiran (Fikrah) dan Keningratan Budi (Akhlaq). Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. Apakah sudah berarti beramal sholeh, orang yang bergelar Graaf atau Baron! Tidak dapat dimengerti oleh pikiranku yang picik ini”.
    (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

    Sampai suatu ketika Kartini berkunjung kerumah pamannya, seorang bupati di Demak(Pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung pangajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama raden ayu yang lain, dari balik hijab (tabir). Kartini tertarik pada materi pengajian(materi: tafsir al-Fatihah yang merupakan induknya al-Qur’an yang didalamnya tercangkup pengertian kompak antara Rubbubiyatullah, Uluhiyatullah, dan Mulkiyatullah) yang disampaikan oleh Kyai Haji Muhammad Sholeh Bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang, Kyai Sholeh Darat biasa beliau dipanggil. Setelah acara pengajian selesai, Kartini mendesak pamannya adar bersedia untuk menemaninya bertemu Kyai Sholeh Darat:
    “Kyai perkenankan saya menanyakan bagaimana hukumnya apabila seseorang yang berilmu namun dia menyembunyikan ilmunya?”
    Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.
    “mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berfikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.
    “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah. Namun aknu heran tak habis=habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penterjemahan dan panfsiran al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Bukankah al-Quur’an itubjusteru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
    Singkat cerita setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiakan Kartini terjemahan al-Qur’an (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Qur’’an), jilid 1 yang terdiri dari 13 juz, mulai dari suart al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dengan arti yang sesungguhnya. Saat mempelajari Islam lewat Qur’an terjemah bebbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalan Surat al-Baqarah ayat 257 bahwa Allah lah yang telah membimbingorang-orang yang beriman dari kepada cahaya (Minazh Zhulumaati ilan Nuur). Rupa-rupanya Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh Zhulumaati ilan Nuur yang berarti Dari Gelap Kepada Cahaya. Hal ini dikarenakan Kartini merasakan sendiri proses perubahan dirinya, dari pemikiran jahiliyah kepada pemikiran hidayah.
    Minazh Zhulumaati ilan Nuur dalam bahasa Belanda kata-kata ini diterjemahkan dengan Door Duisternist Tot Licht, karena seringnya kata-kata tersebut muncul dalam surat-surat Kartini, maka Mr Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadi kata-kata tersebut dari kumpulan suart kartini. Tentusaja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut di petik dari al-Qur’an.
    Kemudian pada masa-masa selanjutnya setelah Kartini meninggal, kata-kata Door Duisternist Tot Licht telah kehilangan maknanya, karena diterjemahkan oleh Armijn Pane (Kristen) denga istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang” (mungkin lebih puitis tapi tidak persis), jika demikian siapa yng mengira bahwah dibalik istilah diatas terkandung makna yang sangat dalam.
    (Asma Karimah: Tragedi KARTINI Sebuah Pertarungan Ideologi)

    Kita sering merayakan hari lahirnya, namun mengerdilkan perjuangannya. Gagasan dan ide-ide yang dilakukan nya dalam kamar yang sepi lagi sunyi kita peringati diatas panggung-panggung yang ramai penuh sorak-sorai, perjuangan yang dilakukan kartini sebenarnya untuk mengembalikan izzah seorang perempuan yang sesungguhnya, bukan untuk menerjanj jati dirinya ataupun meminta hak yang sama rata pada yang lain dengan membawa issue gender yang kebablasan. Disini Kartini mencoba untuk mengurai kembai benang-benang yang kusut dalam sejarah agar menjadi sebuah benang yang mampu menghasilkan kain-kain indah dan berkualitas serta menjadi pakaian-pakaian penutup aurat bagi pemakainya.

    Wanita Teladan 1

    ‪#‎SemangatKartini‬
    ‪#‎InspirasiWanitaIndonesia‬

Leave a Reply