• DOA ADALAH SENJATA SAKTI

    NormalDoa1

    Doa itu senjata sakti dan kadang disepelekan harakah Islam dalam banyak waktu. Doa juga ibadah, bahkan ibadah paling agung, seperti disebutkan di salah satu hadits. Doa itu senjata yang tidak pernah meleset, panah yang tidak pernah gagal mengenai sasaran, benteng kokoh tempat berlindung insan Muslim dan gerakan dakwah dari tindakan makar pembuat makar, kebengisan diktator, dan kesombongan orang sombong. Kepada siapa Anda berdoa, jika tidak kepada Allah Ta’ala? Kepada siapa Anda meminta, jika tidak kepada Dzat yang memiliki segala-galanya? Kepada siapa Anda berlindung, jika tidak kepada Allah Ta’ala, yang merupakan pemilik langit, bumi, dan apa saja yang ada di antara keduanya, serta jikaberkata kepada sesuatu, “Jadilah,” maka sesuatu itu menjadi ada? Dengan dzikir dan doa, orang Muslim secara umum dan aktivis Islam secara khusus berlindung kepada Allah Ta’ala, sebagaimana budak ketakutan berlindung di rumah tuannya. Aktivis Islam membutuhkan Allah Ta’ala, baik dalam urusan dunia, atau akhirat, atau dakwah, atau amar ma’ruf nahi munkar, atau gerakan jihad, atau kesulitan, atau kemakmuran, atau perang, atau masa damai mereka.

    Jika jahiliyah tidak henti-hentinya melancarkan permusuhan dan kebencian kepada Islam dan pemeluknya, serta mengerahkan seluruh senjata untuk menghadapi kaum Muslim, maka gerakan dakwah, ketika itu, tidak boleh lupa senjata doa ini, yang sudah terkenal keampuhannya.

    Hendaklah gerakan dakwah tahu bahwa lilin kemenangan hanya turun di tempat lilin doa, seperti dikatakan Ibnu Al-Qayyim. Di perang Badar, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya dengan serius, hingga baju luar beliau jatuh, lalu Abu Bakar Radhiyallahu Anhu berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, cukup sudah doamu kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia akan menunaikan apa yang dijanjikan-Nyya kepadamu.” (Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad). Panah doa pun meluncur mengenai orang-orang musyrik dan mengguncang tempat mereka. Allah Ta’ala berfirman,

     

    “Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tapi Allah yang melempar.” (Al-Anfal: 17).

     

    Saat hijrah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melepaskan dua panah doa kepada Suraqah. Walhasil kuda Suraqah terperosok ke tanah setiap kali terkena panah doa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Suraqah baru berhenti dari kesalahannya setelah berjanji kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu bahwa ia akan membiarkan keduanya meneruskan perjalanan. (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

    Jika orang Muslim terbiasa banyak berdoa dan berdzikir kepada Allah Ta’ala, Dia mengabulkan doanya. Pepatah mengatakan, “Siapa mengetuk pintu, maka pintu tersebut dibuka untuknya.” Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku tidak ambil pusing dengan pengabulan doa dan lebih concern dengan doa. Jika aku diberi ilham untuk berdoa, doaku tentu dikabulkan.” Barangkali, Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anahu memahami seperti itu, berdasarkan ayat,

     

    “Dan Tuhan kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa kalian’.” (Ghafir: 60).

     

    Yahya bin Muadz Rahimahullah berkata, “Siapa hatinya dibuat Allah konsentrasi saat berdoa, maka Dia tidak menolaknya.”

    Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Jika hati seseorang konsentrasi saat berdoa, betul-betul merasa butuh, dan harapannya kuat, maka doanya dikabulkan.”

    Jadi, doa itu penyebab datangnya kebaikan, kemenangan, solusi, manusia mendapatkan petunjuk, dan kelancaran di seluruh aktivitas-aktivitas Islam; berdakwa, tarbiyah, jihad, amar ma’ruf dan nahi munkar.

    Dengan doa, Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Nuh Alaihis Salam beserta kaum Mukmin dan menenggelamkan orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman,

     

    “Maka dia mengadu kepada Tuhannya, ‘Aku ini orang yang dikalahkan, oleh sebab itu, tolonglah aku.’ Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan Bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. Yang berlayar dengan pemeliharaan Kami sebagai balasan bagi orang-orang yang diingkari.” (Al-Qamar: 10-14).

     

    Dengan doa, Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Yunus Alaihis Salam dari perut ikan paus. Allah Ta’ala berfirman,

     

    “Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Sesungguhnya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya termasuk orang-orang dzalim.’ Maka Kami kabulkan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang beriman.” (Al-Anbiya’: 87-88).

    Dengan doa. Allah Ta’ala menghilangkan musibah Nabi Ayyub Alaihis Salam. Allah Ta’ala berfirman,

     

    “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku ditimpa penyakit dan Engkau Tuhan Yang Maha Penyanyang di antara semua penyayang”. Maka Kami kabulkan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya’: 83-84).

     

    Dengan doa, Allah Ta’ala menyelamatkan Nabi Musa Alaihis Salam dari Fir’aun dan pasukannya. Allah Ta’ala berfirman,

     

    “Maka Musa keluar dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, selamatkan aku dari orang-orang dzalim itu’.” (Al-Qashash: 21).

     

    Dengan doa pula, Nabi Musa Alaihis Salam mampu mendakwahi Fir’aun dan “orang-orang pentingnya”, tampil gagah di depan tiranik keras kepala dan pejabat-pejabat berdosa itu. Ini tentu situasi sulit dan berat. Dan, tingkat kesulitannya hanya diketahui denganbaik oleh orang-orang yang menyuarakan kebenaran di segala tempat dan waktu. Allah Ta’ala berfirman,

     

    “Musa berkata, “Ya Tuhanku, lapangkan untukku dadaku, dan mudahkan untukku urusanku, dan lepaskan kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku’.” (Thaha: 25-28).

     

    Dengan doa, Allah Ta’ala membinasakan Fir’aun beserta pejabat-pejabat pentingnya, menghancurkan mereka, dan memantapkan eksistensi Bani Israel di atas bumi. Allah Ta’ala berfirman,

     

    “Musa berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan di kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakan harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya permohonan kalian berdua dikabulkan’.” (Yunus: 88-89).

     

    Contoh-contoh lain sangat banyak, hingga tidak bisa dihitung. Kesimpulannya, doa itu faktor penting datangnya kebaikan, hilangnya keburukan, turunnya rahmat, sirnanya penderitaan, dan tercapainya kemenangan.

     

Leave a Reply