• Hukum Membaca Al-Matsurot, Bid’ah kah?

    al-matsurat-kecil-041

    Pertanyaan :

    Dalam Wirid Al-Matsurot, ternyata terdapat hadits yang Dhoif (lemah). Apakah karena Dhoif itu menjadi Bid’ah?

    Jawaban :

    Al Ma’tsurat merupakan kumpulan dzikir dan doa yang dikumpulkan oleh Imam Hasan Al Banna yang diambil dari hadits-hadits Nabi saw untuk dibaca agar senantiasa mengingat Allah swt dan berada dalam ketaatan kepada-Nya.

     “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab : 21)

    Dari ayat ini kita bisa mengambil salah satu hikmah, yaitu mencontoh Rasulullah SAW. Baik akhlak nya maupun dalam berdoa.

    ”Tidaklah suatu kaum duduk-duduk untuk berdzikrullah kecuali para malaikat mengelilingi mereka, dipayungi dengan rahmat, turun ketenangan kepada mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka kepada siapa saja yang berada disisi-Nya.” (H.R. Muslim)

     

    Jawaban dari Ust. Syamsudin (Ketua DKM Al-Hurriyyah)

     

    Selain terdiri dari kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist pilihan, Al-Masturot juga terdiri dari do’a orang-orang sholeh. Jika terdapat do’a dari hadist-hadist yang Dhoif, selama itu tidak bertentangan dengan syariat dan isinya benar dalam Islam, maka tidak dipermasalahkan.

     

    Jangankan dari hadist yang Dhoif, bahkan jika mengucapkan do’a dalam kehidupan sehari-hari, misal curhat kepada Allah dalam do’anya, tidak dipermasalahkan selama itu tidak bertentangan dengan syariat. Contoh : “Ya Allah, mudahkanlah hamba dalam menjawab soal Ujian Tengah Semester besok hari. Hamba akan berusaha dengan semaksimal mungkin, selanjutnya hasilnya ku pasrahkan hanya kepada-Mu Ya Allah…”. Ini tidak dipermasalahkan meskipun dengan bahasa sendiri selama tidak bertentangan dengan syariat dan isinya benar juga baik.

     

    Begitupun dengan Do’a Rabithoh yang terdapat dalam Al-Matsurot. Isinya juga tidak bertentangan dengan Syariat. Maka boleh saja dibaca.

     

    “YA ALLAH,

    Sesungguhnya Engkau mengetahui hati-hati ini,

    Telah berkumpul kerana mengasihi-Mu,

    Bertemu untuk mematuhi perintah-Mu,

    Bersatu memikul beban dakwah-Mu,

    Hati-hati ini telah mengikat janji setia untuk mendaulat dan menyokong syariat-Mu,

    Maka eratkanlah Ya Allah akan ikatannya,

    Maka eratkanlah Ya Allah akan ikatannya,

    Maka eratkanlah Ya Allah akan ikatannya,

    Kekalkanlah kemesraan antara hati-hati ini,

    Akan jalan-Nya yang sebenar,

    Penuhkanlah hati ini dengan cahaya Rabbani-Mu,

    Yang tidak kunjung malap,

    Lapangkanlah hati-hati ini dengan limpahan Iman dan keyakinan,

    Dan keindahan tawakkal kepada-Mu,

    Hidup suburkanlah hati-hati ini dengan ma’rifat (pengetahuan sebenar) tentang-Mu,

    Jika Engkau mentakdirkan mati,

    Maka matikanlah pemilik hati-hati ini,

    Sebagai para syuhada dalam perjuangan agama-Mu,

    Engkaulah sebaik-baik sandaran dan sebaik-baik penolong”

     

    Dalam do’a ini juga tak ada penyimpangan terhadap syariat Islam. Maka boleh saja dibaca dan diamalkan. Begitupun dengan  do’a-do’a orang shalih lainnya. Selama  tak ada penyimpangan dalam syariat, maka diperbolehkan. Yang penting membacanya dengan ikhlas, khusu, dan berserah hanya kepada Allah.

     

    Renungan untuk Kita Bersama

     

    Sebagai Muslim, kita diperintahkan oleh Allah untuk bedo’a. Karena do’a adalah senjata terbesar umat Islam. Dengan do’a dan hidayah Allah maka Umar bin Khatab yang bersifat keras dan memusuhi Islam menjadi salah satu Khulafaurrasyidin. Dengan do’a dan pertolongan Allah-lah Palestina masih bisa berdiri tegak meski sudah di bombardir berulang kali.

    Dengan do’a kita juga bisa mengingat-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, mencurahkan permasalahan yang kita hadapi di sepertiga malam akhir dalam Sholat Malam kita.

     

    Jangan sampai kita mem-bid’ah-bid’ahkan sesama muslim jika tidak menelusuri/klarifikasi/tabayyun terlebih dahulu. Padahal itu tidak bertentangan dengan syariat Islam. Atau bahkan jangan sampai kita meng-kafir-kafirkan sesama saudara se-iman jika masih sesuai aturan Syariat Islam. Yang dipermasalahkan adalah mereka yang tidak mau berdoa kepada Allah. Atau bahkan berdoa kepada selain Allah (syirik).

     

    Sesungguhnya Syurga itu sangat luas untuk dihuni dan disediakan oleh-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang mendapat Ridho-Nya. (abu/cyber army ldk alhurriyyah)

Leave a Reply