• Seputar Tentang Ruqyah dan Gangguan Jin (pengertian, sebab, pengobatan, dll)

    THERAPY RUQYAH

    401656_4159296416315_1978480044_nKata ruqyah berasal dari bahasa Arab raqa, raqyan, ruqiyyan wa ruqyatan (رقى رَقيا رُقياّ ورقية ) yang berarti bacaan. (Ahmad Warson Munawwir. 1984. Kamus Al-Munawwir, Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progresif. 562.).Adapun makna ruqyah secara etimologi syariat adalah doa dan bacaan-bacaan yang mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mencegah atau mengangkat bala/penyakit. (Asy-Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Alus-Syaikh. Ar-Ruqyah wa Ahkamuha hal. 4)Tentunya ruqyah yang paling utama adalah doa dan bacaan yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Ibid, hal. 5)

     

    Ruqyah adalah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disyari’atkan untuk dilakukan bagi setiap muslim pertama kali saat dirinya merasa sakit, baik sakit fisik maupun karena gangguan jin.

     

    Ketika sakit karena gangguan jin, maka yang harus kita yakini bahwa setan itu adalah musuh kita dan tipu dayanya sesungguhnya sangatlah lemah.

     

     

    “Sesungguhnya syetan musuh bagi kamu, maka jadikanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya ia mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka”. (QS. Faathir: 6).

     

     

     

    Diriwayatkan dari ‘Ali ibn al-Husayn (ia menuturkan): Nabi SAW bersabda “Sesungguhnya setan menggoda anak adam melalui peredaran darahnya”. (Mutaffaq ‘Alayhi).

     

    Allah berfirman:

     

     

    “Orang- orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di jalan thoghut (syetan), maka perangilah pengikut syetan, sesungguhnya tipu daya syetan itu lemah”. (QS. An-Nisa: 76).

     

     

     

     

    A.     Dalil-dalil

     

     

     

     

    Dan kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (TQS. Al Isra (17): 82).

     

     

    Katakanlah: Al Qur’an itu adalah petunjuk dan obat bagi orang-orang beriman.” (QS Fushilat: 44).

     

     

    “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada…”

     

    (QS. Yunus : 57).

     

     

     

    Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: Sebaik-baik pengobatan adalah (dengan) Al-Quran. (H. R. Ibnu Majah).

     

     

     

    عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت : كان إذا اشتكى رسول الله صلى لله عليه و سلَم، رقاه جبريل عليه السلام، قال : بِسْمِ اللهِ يُبْرِيْكَ مِنْ كُلِّ دآءٍ يَشْفِيْكَ، وَ مِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذاَ حَسَدٍ وَ شَرِّ كُلِّ ذِيْ عَيْنٍ      (رواه مسلم)

     

     

    “Dari  A’isyah ra dia berkata: Bahwa jika Rasulullah saw ada keluhan (sakit/gangguan) maka malaikat Jibril meruqyah beliau saw dengan kalima: Dengan nama Allah, Dia membebaskanmu dari segala gangguan penyakit, Dia menyembuhkanmu dan dari kejahatan para penghasud ketika hasadnya dan dari kejahatan setiap gangguan mata” (HR. Muslim).

     

    Dari Abu Sa’id Al-Khudhri r.a., Jibril mendatangi Nabi SAW, lalu berkata,

     

    “Wahai Muhammad apakah engkau mengeluh rasa sakit?” Beliau menjawab, “Ya!” Kemudian Jibril (meruqyahnya), “Bismillahi arqika, min kulli syai’in yu’dzika, min syarri kulli nafsin au ‘aini hasidin, Allahu yasyfika, bismillahi arqika” (“Dengan nama Allah aku meruqyahmu, dari segala hal yang menyakitimu, dan dari kejahatan segala jiwa manusia atau mata pendengki, semoga Allah menyembuhkan kamu, dengan nama Allah saya meruqyahmu”). (HR. Muslim).

     

    Nabi Muhammad SAW meruqyah dirinya sendiri tatkala mau tidur dengan membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas lalu beliau tiupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian usapkan ke seluruh tubuh terjangkau oleh kedua tangannya. (HR. Al-Bukhari).

     

    Dari Aisyah: Apabila Rasulullah SAW sakit, beliau tiupkan pada dirinya surat-surat mu’awwidzaat (Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas) dan beliau usapkan dengan tangannya. Maka tatkala beliau sakit yang menyebabkan beliau meninggal, kutiupkan pula kepadanya surat-surat Mu’awwidzat dan kusapukan tangannya ke tubuhnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

     

    Dari Abdullah bin Masud, ia menceritakan: Ketika Rasulullah SAW shalat, pada saat beliau berujud, tiba-tiba seekor kalajengking menyengat jari tangannya. Maka Rasulullah keluar dan berkata: “Semoga Allah melaknat kalajengking. Kalajengking tidak membeda-bedakan antara seorang nabi dengan yang lainnya”. Kemudian Rasulullah menyuruh diambilkan air dan garam, lalu bagian yang disengat kalajengking tersebut direndam dengan air garam itu sambil membaca Qul huwallahu ahad dan muawwidzatain sehingga rasa sakitnya reda.  (HR. Ibnu Abi Syuaibah dalam Musnad-nya).

     

    Dari Aisyah, dia berkata: Apabila salah seorang isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sakit, beliau tiupkan kepadanya surat-surat mu’awwidzaat. Maka tatkala beliau sakit hampir meninggal, kutiupkan pula kepadanya dan kusapukan tangannya ke tubuhnya, karena tangan beliau lebih besar barakahnya daripada tanganku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dan lafazhnya sesuai riwayat Muslim).

     

    Diriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa Nabi SAW apabila menjenguk keluarganya yang sedang sakit,beliau mengusap tubuhnya dengan tangan kanan beliau sambil berkta: “Ya Allah, Rabb dari sekalian manusia! Lenyapkanlah rasa sakitnya, berikanlah kepadanya kesembuhan karena Engkau adalah Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan karena pertolongan-Mu; kesembuhan yang tidak diiringi dengan sakit lain”. (Shahih Al-Bukhari dan Muslim).

     

    Uthman Bin Abil ‘Ash r.a. datang menemui Rasulullah SAW mengadukan rasa sakit pada tubuhnya yang dia rasakan semenjak masuk Islam, kemudian Rasulullah SAW berkata,

     

    “Letakkan tanganmu pada tempat yang terasa sakit, kemudian bacalah; “Bismillahi” (dengan menyebut nama Allah) tiga kali, dan bacalah; “A’uzu billahi wa qudrotihi min syarri ma ajidu wa uhadziru” (aku berlindung dengan Allah dan dengan qudrat-Nya dari kejahatan yang aku dapati dan yang aku hindari ) tujuh kali.” (HR. Muslim).

     

     

     

    عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وامرأة تعالجها أو ترقيها فقال: عالجيها بكتاب الله

     

     

    Dari Aisyah: bahwa rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masuk kepadanya dan ada seorang wanita sedang mengobatinya atau sedang meruqyahnya maka beliau berkata: “Obati dia dengan kitab Allah”. (HR. Ibnu Hibban. Hadits ini telah dinilai shohih oleh Al Albani dalam kitab Silsilah ash-Shahiihah no. 1931).

     

     

     

    عن أمّ سلمة رضي الله عنها أن النبي صلى لله عليه و سلَم  رأى فى بيتها جارية و فى وجهها سَفْعَةً ، فقال : إسترقوا لها، فإن بها النظرة (متفق عليه)

     

     

     

    Dari Ummu Salamah ra (mengabarkan) bahwa Nabi saw melihat di rumahnya (Ummu Salamah) ada seorang  wanita yang diwajahnya ada saf’ah (cekungan hitam di sekitar matanya) maka beliau bersabda : Lakukanlah Ruqyah untuknya (wanita itu) karena dia ada terkena gangguan (nazhoroh/’ain) – (HR. Muttafaqun ‘alaih).

     

     

     

    عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال : كان صلى لله عليه و سلَم يتعوّذ من الجان و عين الإنسان حتى نزلت المعوّذتان، فأخذ بهما و ترك ما سواهما (رواه الترمذي)

     

     

     

    Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra berkata: “Bahwa Rasulullah SAW senantiasa minta perlindungan dari gannguan jin dan ‘Ain hingga akhirnya turun dua surat perlindungan (Al Falaq dan An Naas), maka sejak itu dipakailah keduanya dan dia tinggalkan yang lainnya”. (HR. At Tirmidzi).

     

     

     

    عن جابر رضي الله عنه قال نهي رسول الله صلى لله عليه و سلَم عن الرُّقي  فجاء آل عمرو بن حزم، فقالوا : يا رسول الله إنّه كانت عندنا رقية نرقى بها من العقرب، قال : فعرضوا عليه، فقال : ما أرى بـأساً، من استطاع أن ينفع أخاه فلينفعه (رواه مسلم)

     

     

     

    Dari Jabir ra berkata : Rasulullah saw telah melarang Ruqyah. Maka datanglah keluarga ‘Amru bin Hazm, mereka berkata : “Yaa Rasulallah bahwa kami memiliki Ruqyah yang biasa kami lakukan jika terkena gangguan kalajengking”. Maka mereka menunjukkankan (Ruqyah itu) kepada Rasulullah saw. Lalu beliau bersabda: saya memandang tidak apa-apa ruqyah kalian itu. Barangsiapa yang mampu memberi manfaat bagi saudaranya, maka lakukanlah. (HR. Muslim).

     

     

     

    Aisyah r.a. juga mengatakan,

     

     

     

    صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْ مُرُ نِيْ أَنْ أَسْتَرْقِيَ مِنَ العَيْنِكَانَ النَّبِيُّ

     

     

     

    Rasulullah SAW memerintahkan padaku agar aku minta ruqyah dari pengaruh ‘ain (mata yang dengki).” (HR. Muslim).

     

     

     

    Dari Abi Dardaa, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa di antara kamu mengadukan (kepada Allah) tentang sesuatu atau saudaranya yang mengadukan (kepada Allah) tentang sesuatu (penyakit), maka hendaklah dia mengucapkan (doa): Ya Tuhan kami, Allah yang berada di langit! Maha Suci nama-Mu. Perintah-Mu lah yang (berlaku) di langit dan bumi. Sebagaimana rahmat-Mu di langit, maka jadikanlah rahmat-Mu di bumi. Ampunilah dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kami. Engkau-lah Tuhan seluruh orang-orang yang baik (sehat). Turunkanlah rahmat dan kesembuhan dari sisi-Mu terhadap penyakit ini. Maka penyakit akan sembuh dengan izin Alah”. (H.R. Abu Dawud).

     

     

     

    ‘Awf bin Malik ra berkata:

     

     

     

    كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ

     

     

     

    Dari Auf bin Malik Al-Asyja’i, dia berkata : “Dahulu kami melakukan ruqyah di masa jahiliyah. Lalu kami bertanya: ‘Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang hal itu?’ Beliau menjawab: ‘Tunjukkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Ruqyah-ruqyah itu tidak mengapa dilakukan selama tidak mengandung syirik’.” (HR. Muslim No.2200, Abu Daud, Ibnu Hibban, Ath-Thabraniy, Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

     

    Dari Abi Khuzamah, ia berkata: Aku berkata: Ya Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang melafazkan kata-kata doa untuk memohon kesembuhan (ruqyah), kami bacakan ruqyyah itu dan tentang obat yang kami pergunakan untuk mengobati penyakit serta tentang kata-kata doa untuk mohon perlindungan/pemeliharaan (taqiyyah), lalu kami bacakan taqiyyah itu? Tidaklah hal itu berarti menolak taqdir (ketentuan) Allah? Maka Nabi SAW menjawab: Hal itu juga termasuk taqdir Allah. (H. R. Ahmad dan Turmudzi).

     

    Jabir Bin Abdullah R.A. berkata,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkan bagi Bani ‘Amru untuk meruqyah dari gigitan ular. Kemudian Abu Az Zubair berkata; Dan aku mendengar Jabir bin ‘Abdillah berkata; seekor kalajengking menggigit seseorang di antara kami, yang waktu itu kami sedang duduk-duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu orang itu berkata; “Wahai Rasulullah apakah saya boleh meruqyahkannya? Maka beliau bersabda: “Barangsiapa di antara kalian yang sanggup memberikan manfaat kepada saudaranya, maka lakukanlah”. (HR.Muslim).

     

    Anas bin Malik ra bahwa beliau mengatakan :

     

     

     

    أَذِنَ الرَّ سُوْلُ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَهْلِ بَيْتٍ مِنَ الأَنْصَارِأَنْ يُرَ قُّوْامِنَ الْحُمِّ وَالأُذُنِ

     

     

     

    “Rasulullah SAW telah mengizinkan sebuah keluarga dari kaum Anshar untuk meruqyah (sebagi pengobatan dari) semua penyakit demam dan telinga.”

     

    Shahabat yang mulia Abu Sa‘id Al-Khudri rahimahullahu berkata: “Sejumlah shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi dalam sebuah safar (perjalanan) yang mereka tempuh, hingga mereka singgah di sebuah kampung Arab. Mereka kemudian meminta penduduk kampung tersebut agar menjamu mereka, namun penduduk kampung itu menolak. Tak lama setelah itu, kepala suku dari kampung tersebut tersengat binatang berbisa. Penduduknya pun mengupayakan segala cara pengobatan, namun tidak sedikit pun yang memberikan manfaat untuk kesembuhan pemimpin mereka. Sebagian mereka berkata kepada yang lain: “Seandainya kalian mendatangi rombongan yang tadi singgah di tempat kalian, mungkin saja ada di antara mereka punya obat (yang bisa menghilangkan sakit yang diderita pemimpin kita).” Penduduk kampung itu pun mendatangi rombongan shahabat Rasulullah yang tengah beristirahat tersebut, seraya berkata: “Wahai sekelompok orang, pemimpin kami disengat binatang berbisa. Kami telah mengupayakan berbagai cara untuk menyembuhkan sakitnya, namun tidak satu pun yang bermanfaat. Apakah salah seorang dari kalian ada yang memiliki obat?” Salah seorang shahabat berkata: “Iya, demi Allah, aku bisa meruqyah. Akan tetapi, demi Allah, tadi kami minta dijamu namun kalian enggan untuk menjamu kami. Maka aku tidak akan melakukan ruqyah untuk kalian hingga kalian bersedia memberikan imbalan kepada kami.” Mereka pun bersepakat untuk memberikan sekawanan kambing sebagai upah dari ruqyah yang akan dilakukan. Shahabat itu pun pergi untuk meruqyah pemimpin kampung tersebut. Mulailah ia meniup disertai sedikit meludah dan membaca: “Alhamdulillah rabbil ‘alamin” (Surah Al-Fatihah). Sampai akhirnya pemimpin tersebut seakan-akan terlepas dari ikatan yang mengekangnya. Ia pun pergi berjalan, tidak ada lagi rasa sakit (yang membuatnya membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur).  Penduduk kampung itu lalu memberikan imbalan sebagaimana telah disepakati sebelumnya. Sebagian shahabat berkata: “Bagilah kambing itu.” Namun shahabat yang meruqyah berkata: “Jangan kita lakukan hal itu, sampai kita menghadap Rasulullah SAW, lalu kita ceritakan kejadiannya, dan kita tunggu apa yang beliau perintahkan.” Mereka pun menghadap Rasulullah SAW, lalu mengisahkan apa yang telah terjadi. Beliau bertanya kepada shahabat yang melakukan ruqyah: “Dari mana engkau tahu bahwa Al-Fatihah itu bisa dibaca untuk meruqyah? Kalian benar, bagilah kambing itu dan berikanlah bagian untukku bersama kalian.” Diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam kitab Shahih-nya no. 5749, kitab Ath-Thibb, bab An-Nafats fir Ruqyah. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya no. 5697 kitab As-Salam, bab Jawazu Akhdzil Ujrah ‘alar Ruqyah.

     

    Dari Kharijah bin Ash-Shalt, dari pamannya, dia berkata: kami pulang dari majlis Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, kemudian kami mendatangi sebuah perkampungan arab, mereka berkata: kami diberitahu bahwa kalian baru saja mendatangi orang itu dengan membawa kebaikan, lalu apa kalian punya doa atau ruqyah, kami punya orang gila yang tengah dirantai. Aku berkata: ‘Ya.’ Mereka pun membawa orang gila yang dirantai itu di hadapannya. Kemudian saya membaca surat Al Fatihah selama tiga hari di pagi dan sore hari, saya kumpulkan ludah saya kemudian saya meludahkannya lalu seolah-olah ia sembuh dari penyakit gila. Kemudian mereka memberi saya hadiah, saya berkata: ‘Nanti dulu, hingga saya bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam.’ Saya pun bertanya kepada beliau lalu beliau bersabda: “Sungguh ada orang yang memakan dari hasil ruqyah batil, tapi engkau memakan dari hasil ruqyah yang benar.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasaa’i dengan sanad yang shahih).

     

    Kharijah Ibnush Shilt, dari pamannya yang menceritakan: Aku datang kepada Nabi saw. dan masuk Islam, kemudian aku pulang. Aku bertemu dengan suatu kaum, di antara mereka terdapat seorang laki-laki gila dalam keadaan diikat dengan belenggu besi. Lalu keluarganya berkata, Sesungguhnya kami mendapat berita bahwa temanmu itu (Nabi saw.) telah datang dengan membawa kebaikan, apakah engkau punya sesuatu untuk mengobatinya? Aku meruqyahnya dengan bacaan Fatihatul Kitab, ternyata ia sembuh, lalu mereka (keluarga si sakit) memberikan seratus ekor kambing. Aku datang kepada Nabi saw. dan menceritakan hal itu kepadanya, lalu beliau bersabda, Apakah hanya ini (yang engkau ucapkan)? Menurut riwayat yang lain disebutkan, Apakah engkau mengucapkan selain itu? Aku menjawab, Tidak. Beliau saw. bersabda, Ambillah ternak itu. Demi umurku, sesungguhnya orang yang memakan dari hasil ruqyah batil (tidak boleh) tetapi engkau memakan dari ruqyah yang benar. (Sunan Abu Dawud dengan sanad yang shahih).

     

    Dari Ibnu Abbas: bahwa beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sumber mata air di mana terdapat orang yang tersengat binatang berbisa, lalu salah seorang yang bertempat tinggal di sumber mata air tersebut datang dan berkata; “Adakah di antara kalian seseorang yang pandai menjampi? Karena di tempat tinggal dekat sumber mata air ada seseorang yang tersengat binatang berbisa.” Lalu salah seorang sahabat Nabi pergi ke tempat tersebut dan membacakan al fatihah dengan upah seekor kambing. Ternyata orang yang tersengat tadi sembuh. (HR. Bukhari, Ad-Daruquthniy, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqiy).

     

    Dari Abu Said al-Khudri RA berkata, “Ketika kami sedang dalam suatu perjalanan, kami singgah di suatu tempat. Datanglah seorang wanita dan berkata, “Sesungguhnya pemimpin kami terkena sengatan, sedangkan sebagian kami tengah pergi. Apakah ada di antara kalian yang biasa meruqyah?” Maka bangunlah seorang dari kami yang tidak diragukan kemampuannya tentang ruqyah. Dia meruqyah dan sembuh. Kemudian dia diberi 30 ekor kambing dan kami mengambil susunya. Ketika peruqyah itu kembali, kami bertanya, ”Apakah Anda bisa? Apakah Anda meruqyah?“ Ia berkata, ”Tidak, saya tidak meruqyah kecuali dengan Al-Fatihah.” Kami berkata, “Jangan bicarakan apapun kecuali setelah kita mendatangi atau bertanya pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika sampai di Madinah, kami ceritakan pada nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam Dan beliau berkata, “ Tidakkah ada yang memberitahunya bahwa itu adalah ruqyah? Bagilah (kambing itu) dan beri saya satu bagian.” (HR Bukhari dan Muslim).

     

    Seorang laki – laki dari kaum Anshar yang pada sisi perutnya ada ulat yang keluar, maka kepadanya diberitahukan bahwa Asy-Syifaa binti Abdullah dapat menyembuhkan penyakit itu dengan Ruqyah. Maka iapun mendatanginya dan memohon untuk meruqyahnya. Tetapi Asy-Asyifaa mengatakan: “Demi Allah aku tidak pernah lagi meruqyah sejak aku masuk Islam.” Maka lelaki Anshar itupun mendatangi Rasulullah SAW dan memberitahukannya tentang apa yang dikatakan oleh Asy-Syifaa. Maka Rasulullah memanggil Asy-Sifaa dan mengatakan :

     

    “Perlihatkanlah padaku Ruqyahmu itu.” Lalu Asy-Syifaapun memperlihakannya. Maka Rasulullah SAW mengatakan: “Ruqyahlah (jampilah lelaki Anshar itu), lalu ajarkanlah Ruqyah itu kepada Hafsah sebagaimana engkau telah mengajarkannya Al-Kitab (Al-Qur’an).”

     

    Diriwayatkan dari Amir bin Sa’ad dari bapaknya bahwasanya Rasulullah saw bersabda,

     

    Barangsiapa setiap pagi hari memakan kurma ‘Ajwah maka tidak akan membahayakan dirinya baik racun maupun sihir pada hari itu hingga malam hari”. (HR. Bukhari).

     

    Ulama Wahab bin Munabih menyarankan untuk menggunakan tujuh lembar bidara yang dihaluskan. Kemudian dilarutkan dalam air dan dibacakan ayat Kursi, surat al-Kafirun, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas. (Boleh juga dibacakan ayat-ayat al-Qur’an lainnya) Lalu dipergunakan untuk mandi atau diminum.

     

    (Mushannaf Ma’mar bin Rasyid 11/13)

     

     

     

     

     

         Daun bidara

     

     

     

     

     

    B.   Manfaat Ruqyah

     

     

     

    1.  Terapi untuk Gangguan Jin. (QS. An Naas: 6).

     

    2.  Untuk pengobatan dari pengaruh ‘ain (mata yang dengki).” (HR. Muslim).

     

    3.  Untuk pengobatan orang gila selama 3 hari berturut-turut di pagi dan sore. (HR. Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasaa’i).

     

    4.  Untuk pengobatan sengatan binatang berbisa seperti kalajengking. (HR.Muslim). Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya no. 5697 kitab As-Salam, bab Jawazu Akhdzil Ujrah ‘alar Ruqyah.

     

    5.  Untuk pengobatan sakit fisik lainnya. (Shahih Bukhari dan Muslim).

     

     

     

     

     

    C.   Media Ruqyah

     

     

     

    1.  Air biasa. (HR. Ibnu Abi Syuaibah. Musnad-nya).

     

    2.  Air Zam-zam.(Al-Imam Ibnu Qayyim. Ath-Thibbun Nabawi).

     

    3.  Kurma Ajwa. (HR. Bukhari).

     

    4.  Daun Bidara. (Mushannaf Ma’mar bin Rasyid).

     

     

     

     

     

    D.   Bacaan Ruqyah

     

     

     

    a.  Bacaan dari Al Qur’an

     

    1.  Surat Al Fatihah. (Al-Imam Al-Bukhari. Shahih-nya no. 5749, kitab Ath-Thibb, bab An-Nafats fir Ruqyah. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya no. 5697 kitab As-Salam, bab Jawazu Akhdzil Ujrah ‘alar Ruqyah).

     

     

     

     

     

     

     

     

    1.  Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

     

    2.  Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

     

    3.  Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

     

    4.  Yang menguasai di Hari Pembalasan.

     

    5.  Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

     

    6.  Tunjukilah kami jalan yang lurus,

     

    7.  (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

     

     

    2.  Surat Al Ikhlas.

     

    Dari Abdullah bin Khubaib dari bapaknya berkata, ”Kami keluar di suatu malam, kondisinya hujan dan sangat gelap, kami mencari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengimami kami, kemudian kami mendapatkannya.”Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Katakanlah”. “Saya tidak berkata sedikit pun”. Kemudian beliau berkata, “Katakanlah.” “Sayapun tidak berkata sepatahpun.” “Katakanlah, ”Saya berkata, ”Apa yang harus saya katakan?“ Rasul bersabda, ”Katakanlah, qulhuwallahu ahad dan al-mu’awidzatain ketika pagi dan sore tiga kali, niscaya cukup bagimu dari setiap gangguan.” (HR Abu Dawud, At-tirmidzi dan an-Nasa’i).

     

     

    1.  Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

     

    2.  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

     

    3.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan.

     

    4.  dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

     

     

     

    3.  Surat Al Falaq. (HR. Al-Bukhari).

     

     

     

     

    1.  Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh

     

    2.  dari kejahatan makhluk-Nya,

     

    3.  dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,

     

    4.  dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,

     

    5.  dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.”

     

     

     

    4.  Surat An-Naas.

     

     

     

     

     

     

    1.  Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

     

    2.  Raja manusia.

     

    3.  Sembahan manusia.

     

    4.  Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

     

    5.  yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

     

    6.  dari (golongan) jin dan manusia.

     

     

     

    5.  Al Baqarah ayat 1 – 5

     

     

     

     

     

    1.  Alif laam miin.

     

    2.  Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,

     

    3.  (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

     

    4.  dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

     

    5.  Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

     

     

     

    6.  Ayat Kursi (Mushannaf Ma’mar bin Rasyid).

     

     “Siapa yang membaca ayat Al-Kursi setelah shalat wajib, maka ia dalam perlindungan Allah sampai shalat berikutnya”. (HR At-Tabrani).

     

     

     

    “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. KursiAllah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. Al Baqarah: 255).

     

     

     

    7.  3 Ayat terakhir Surat Al-Baqarah

     

     

    مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

     

     

     

    “Siapa yang membaca dua ayat dari akhir surat Al-Baqarah setiap malam, maka cukuplah baginya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

     

     

     

     

     

     

     

     

    Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah: 284-286).

     

     

     

     

     

    8.  Surat Ali Imron ayat 173

     

     

     

    “(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”. (QS. Ali Imran : 173).

     

     

     

    9.     Surat Al An’am Ayat 17

     

     

     

     

    Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (Al-An’am : 17).

     

     

     

    10.   Surat Al- Isra Ayat 82.

     

     

    Dan kami turunkan dari Al Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. (TQS. Al Isra: 82).

     

     

     

    11.      Surat Thaha ayat 65 – 69.

     

    “(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?”. Berkata Musa: “Silakan kamu sekalian melemparkan”. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata: “Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang”. (QS Thaha: 65-69).

     

     

     

    12.  Surat Fushshilat ayat 44.

     

     

    Katakanlah: Al Qur’an itu adalah petunjuk dan obat bagi orang-orang beriman.” (QS Fushshilat: 44).

     

     

     

    13.      Surat Yunus ayat 57.

     

     

    “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada…”

     

     (QS. Yunus : 57).

     

     

     

    14.      Surat At-Taubah ayat 14.

     

     

    Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.”  (QS. At Taubah: 14).

     

     

     

    15.    Surat Al-Kafirun

     

     

     

     

     

     

     

     

    1.  Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,

     

    2.  Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

     

    3.  Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.

     

    4.  Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

     

    5.  dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.

     

    6.  Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

     

     

     

    16.   Surat-surat dan ayat-ayat lainnya.

     

     

     

    b.    Bacaan dari Hadits

     

     

     

    1.    Hadits sahih riwayat Ibnu Hibban dari Aisyah

     

     

     

    بسم الله أُرْقِيكَ ِمن كُل شيء يُؤذِيك، وَمِن شَر كل نفس أو عين حاسد ,الله يشفيك، بسم الله أرقيك

     

     

     

    “Dengan nama Allah aku meruqyahmu, dari segala hal yang menyakitimu, dan dari kejahatan segala jiwa manusia atau mata pendengki, semoga Allah menyembuhkan kamu, dengan nama Allah saya meruqyahmu”. (HR. Muslim).

     

     

     

    2.    Ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

     

    اخْرُجْ عَدُوَّ اللهِ

     

     

     

    “Keluarlah wahai musuh Allah”.

     

     

     

    3.    Dan lain-lain

     

     

     

     

     

    E.   Penelitian Ruqyah

     

     

     

    Selanjutnya hasil penelitian Snyderman (1996) menyatakan bahwa terapi medik saja tanpa disertai dengan agama (berdoa dan berzikir) tidaklah lengkap. (Hawari, 2002: 24). Suatu organisasi yang bernama Pastoral and Humanization Service telah memberikan pelayanan kesehatan jiwa agama ke rumah-rumah sakit dalam bentuk rawatan rohani pada penderita yang selama ini hanya menerima rawatan medik psikiatrik saja. Ternyata metode integrasi ini membawa hasil yang lebih baik, yaitu gejala-gejala gangguan jiwa lebih cepat teratasi dan lamanya perawatan di rumah sakit jiwa dapat diperpendek (Hawari, 2002: 50).

     

    Terapi ruqyah merupakan salah satu terapi yang digunakan Rasulullah SAW dari beberapa terapi yang lain dalam mengobati penyakit. Terapi ruqyah tidak hanya digunakan untuk mengusir jin, tetapi juga untuk terapi penyakit fisik dan psikis. Secara medis terapi ruqyah sudah diakui keefektifannya untuk mengobati penyakit fisik mau pun psikis. Terapi ruqyah yang digunakan untuk mengusir jin keefektifannya tergantung pada keadaan terapis, pasien, dan lingkungan dalam proses terapi.  (M. Darojat Ariyanto. Terapi Ruqyah Terhadap Penyakit Fisik, Jiwa, dan Gangguan Jin”. Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta).

     

    Dalam konferensi tahunan ke XVII Ikatan Dokter Amerika, di Sant Louis, wilayah Missuori AS, Dr Ahmad Al-Qadhi pernah melakukan presentasi tentang hasil penelitiannya (penelitian awal) dengan tema: pengaruh Al-quran pada manusia dalam prespektif fisiologi dan psikologi. Dia adalah seorang direktur utama Islamic Medicine Institute for Education and Research yang berpusat di Amerika Serikat, sekaligus sebagai konsultan ahli sebuah klinik di Panama City, Florida AS. Penelitian tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menentukan kemungkinan adanya pengaruh Al-qur’an pada fungsi organ tubuh manusia, sekaligus mengukur intensitas pengaruhnya jika memang ada. Tujuan kedua adalah efek relaksasi atau penurunan yang ditimbulkan oleh bacaan Al-qur’an pada ketegangan saraf refleksi beserta perubahan fisiologi. Penelitian ini melibatkan beberapa responden non muslim sebanyak 5 responden: 3 laki-laki dan 2 perempuan, usia mereka berkisar 18 tahun sampai 40 tahun. Para responden tersebut tidak mengerti bahasa arab, apalagi untuk membaca ayat suci Al-quran. Penelitian ini menggunakan: mesin pengukur yang berbasis komputer, Model MEDAQ 2002 (Medical Data Quotien) yang dilengkapi dengan Software, Komputer jenis Apple 2A dan sistem ditektor elektronik . Alat super canggih ini ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat kedokteran Universitas Boston dan perusahaan Davicom di Boston Amerika Serikat.

     

    Sebelum penelitian dimulai, setiap responden dipasang empat jarum elektrikal pada masing anggota tubuh, kemudian dikoneksitaskan ke mesin pengukur yang berbasis komputer. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi gelombang elektromagnetik dan mengukur reaksi urat saraf reflektif pada masing organ tubuh responden . Seperti diketahui: bahwa tubuh manusia diliputi medan elektromagnetik, berupa bias cahaya yang tidak terlihat. Medan cahaya ini sekarang dapat dipotret secara elektrik dengan Kirlian photography.

     

    Dalam penelitian dilakukan 210 kali eksperimen kepada lima responden. Para responden (dalam keadaan santai dan mata tertutup) diminta mendengarkan Al-quran sebanyak 85 kali eksperimen, bacaan teks berbahasa Arab sebanyak 85 kali eksperimen, dan pada 40 kali eksperimen berikutnya tidak mendengarkan bacaan apapun. Dalam mendengarkan bacaan Al-quran dan bacaan teks berbahasa arab responden dilantunkan dengan kesamaan instrumen dari aspek lafal, tatanan pengucapan dan melodi, sehingga responden tidak bisa membedakan keduanya, karena memang responden tidak bisa berbahasa arab.

     

    Hasil penelitian tersebut menunjukan hasil positif bahwa mendengarkan bacaan ayat suci Al-quran memiliki pengaruh yang signifikan dalam menurunkan ketegangan urat saraf reflektif, dan hasil ini tercatat dan terukur secara kuantitatif dan kualitatif oleh sebuah alat berbasis komputer.

     

    Adapun pengaruh yang terjadi berupa: Adanya perubahan-perubahan arus listrik di otot, perubahan daya tangkap kulit terhadap konduksi listrik, perubahan pada sirkulasi darah, perubahan detak jantung, dan kadar darah pada kulit. Perubahan tersebut menunjukan adanya relaksasi atau penurunan ketegangan urat saraf reflektif yang mengakibatkan terjadinya pelonggaran pembuluh nadi dan penambahan kadar darah dalam kulit, diiringi dengan peningkatan suhu kulit dan penurunan frekwensi detak jantung.

     

    (dikutip dari : http://matsyapati.blogspot.com/2010/09/pengaruh-alquran-pada-fisiologi-dan.html).

     

    Dr. Dossey, dokter lulusan Universitas di Texas, menjelaskan bahwa setelah ia mengumpulkan beberapa penelitian tentang terapi doa, dia menjelaskan bahwa ternyata doa dapat mengendalikan sel-sel kanker, sel-sel pemacu, sel-sel darah merah, enzim, bakteri, jamur, dan sebagainya (T. Hemaya, 1997: 171-172). Senada dengan Dr. Dossey, William G. Braud, direktur riset di Institute of Transpersonal Psychology di Palo Alto, melaporkan bahwa manusia mampu mempengaruhi secara mental dan dari jarak jauh, berbagai sasaran biologis misalnya bakteri, koloni ragi, motile algae (semacam tumbuhan), tanaman, protozoa, larva, woodlice (semacam kutu kayu), semut, anak ayam, tikus, kucing, anjing, juga preparat sel (sel darah, neuron, sel kanker) dan kegiatan enzim. Pada sasaran manusia, misalnya mempengaruhi gerakan mata, gerakan motorik, kegiatan elektrodermal, kegiatan pletismografik, pernafasan, dan irama otak (Saputra, 2003: 306). Hal ini menunjukkan bahwa doa atau kegiatan pikiran manusia dapat mempengaruhi makhluk, termasuk kesehatannya.

     

    Dr. Dadang Hawari menyatakan bahwa suatu studi terhadap 393 pasien jantung di San Fransisco menunjukkan bahwa kelompok pasien yang terapinya ditambah dengan terapi doa sedikit sekali yang mengalami komplikasi, sedang yang tidak menggunakan terapi doa banyak menimbulkan komplikasi dari penyakit jantungnya (Hawari, 1997: 8).

     

    Berikutnya dr. H. Tb. Erwin Kusuma Sp Kj, seorang spesialis kedokteran jiwa di klinik Prorevital, menyatakan bahwa air yang telah diberi doa akan berubah struktur molekulnya dan dapat digunakan sebagai obat (Intisari, 2002: 61-64).

     

    Senada dengan pendapat dr. H. Tb.Erwin di atas, sebuah penelitiandi Jepang yang dilakukan oleh Dr. Emoto menunjukkan bahwa struktur molekul air akan berubah bila diberi kata-kata atau suara. Ia kemudian menjelaskan bahwa tubuh manusia kurang-lebih 70 persennya adalah air, maka akan ada perubahan bila diberi kata-kata, suara, atau doa (Bambang, 2006: 14-19). Perubahan struktur air di dalam tubuh ini mempengaruhi tingkat kesehatannya.

     

    Beberapa penelitian tentang efek doa terhadap kesehatan di atas, secara tidak langsung, membuktikan bahwa terapi ruqyah, doa dari Al Quran dan As Sunnah, mempengaruhi terhadap penyembuhan sakit fisik.

     

     

     

     

     

    F.    SOP Ruqyah

     

     

     

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya meruqyah termasuk amalan yang utama. Meruqyah termasuk kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Para nabi dan orang shalih senantiasa menangkis setan-setan dari anak Adam dengan apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya”. (Risalatun Fi Ahkami Ar Ruqa Wa At Tamaim Wa Shifatu Ar Ruqyah Asy Syar’iyyah, karya Abu Mu’adz Muhammad bin Ibrahim).

     

    Sebetulnya tidak ada SOP baku untuk ruqyah, semuanya bisa dilakukan secara fleksibel tergantung kondisi. Salah satu tata cara meruqyah adalah sebagai berikut:

     

    1.      Bersihkan rumah dari hal-hal yang melanggar syariat seperti lukisan atau patung makhluk hidup.

     

    2.      Kalau ada ruangan yang agak tertutup.

     

    3.      Selama proses ruqyah diusahakan tidak ada yang keluar masuk ruangan ruqyah.

     

    4.      Siapkan 2 botol besar air mineral, seduh susu putih di campur madu buat 1 gelas, tuliskan nama lengkap dan bin/binti di kertas.

     

    5.      Kalau ada siapkan juga daun bidara 14 lembar, air zam-zam 1 gelas, dan kurma ajwa 7 butir.

     

    6.      Masukkan daun bidara masing-masing 7 lembar ke setiap botol air mineral.

     

    7.      Air mineral, seduhan susu dan madu, air zam-zam dan kurma ajwa simpan di dekat therapys agar terkena bacaan ruqyah.

     

    8.      Untuk pasien perempuan menutup aurat, ditemani mahramnya, dan therapysnya menggunakan sarung tangan.

     

    9.      Alat komunikasi disilent selama proses ruqyah.

     

    10.   Sebelum melakukannya harus berwudlu terlebih dahulu.

     

    11.   Pasien disuruh duduk selonjor menghadap kiblat.

     

    12.   Beri keyakinan bahwa kesembuhan datang hanya dari Allah.

     

    13.   Ruqyah harus dengan Al Qur’an, hadits atau dengan nama dan sifat Allah.

     

    14.   Orang yang meruqyah hendaknya mengeraskan bacaan ruqyahnya.

     

    15.   Pegang kepalanya dan awali dengan mengumandangkan adzan di kuping kanan dan iqamat di kuping kiri, lanjutkan dengan membacakan bacaan-bacaan ruqyah dari ayat-ayat al Qur’an.

     

    16.   Membaca Surat Al Fatihah dan meniup anggota tubuh yang sakit.

     

    17.   Baca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas lalu beliau tiupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian usapkan ke seluruh tubuh terjangkau oleh kedua tangannya. (HR. Al-Bukhari).

     

    18.   Membaca surat Al Kafirun dan ayat-ayat atau surat-surat Al Qur’an lainnya.

     

    19.   Meniup pada tubuh orang yang sakit di tengah-tengah pembacaan ruqyah. Masalah ini, menurut Syaikh Al Utsaimin mengandung kelonggaran. Caranya, dengan tiupan yang lembut tanpa keluar air ludah. ‘Aisyah pernah ditanya tentang tiupan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam meruqyah. Ia menjawab: “Seperti tiupan orang yang makan kismis, tidak ada air ludahnya (yang keluar)”. (HR Muslim, kitab As Salam, 14/182). Atau tiupan tersebut disertai keluarnya sedikit air ludah sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Alaqah bin Shahhar As Salithi, tatkala ia meruqyah seseorang yang gila, ia mengatakan: “Maka aku membacakan Al Fatihah padanya selama tiga hari, pagi dan sore. Setiap kali aku menyelesaikannya, aku kumpulkan air liurku dan aku ludahkan. Dia seolah-olah lepas dari sebuah ikatan”. [HR Abu Dawud, 4/3901 dan Al Fathu Ar Rabbani, 17/184].

     

    20.   Mengusap orang yang sakit dengan tangan kanan. Ini berdasarkan hadits ‘Aisyah, ia berkata: “Rasulullah, tatkala dihadapkan pada seseorang yang mengeluh kesakitan, Beliau mengusapnya dengan tangan kanan…”. [HR Muslim, Syarah An Nawawi (14/180].

     

    21.   Bila penyakit terdapat di salah satu bagian tubuh, kepala, kaki atau tangan misalnya, maka dibacakan pada tempat tersebut. (Al Fathu Ar Rabbani (17/182) dan Mawaridu Azh Zham-an, no. 1415-1416).

     

    22.   Apabila penyakit berada di sekujur badan, atau lokasinya tidak jelas, seperti gila, dada sempit atau keluhan pada mata, maka cara mengobatinya dengan membacakan ruqyah di hadapan penderita. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘laihi wa sallam meruqyah orang yang mengeluhkan rasa sakit. Disebutkan dalam riwayat Ibnu Majah, dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata: “Dia bergegas untuk membawanya dan mendudukkannya di hadapan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salla,m . Maka aku mendengar Beliau membentenginya (ta’widz) dengan surat Al Fatihah”. (Al Fathu Ar Rabbani (17/183).

     

    23.   Setelah selesai membacakan bacaan-bacaan ruqyah dari Al Qur’an, makankan kurma ajwa ke pasien dan minumkan air zam-zam.

     

    24.   Untuk gangguan non medis, apabila jin berbicara lewat mulut pasien maka islamkan dan angkat sumpah atas nama Allah untuk keluar dari tubuh pasien.

     

    25.   Jangan sekali-kali percaya terhadap pengakuan syaitan karena syaitan itu bersifat kadzab (pendusta berat) dan penyebar fitnah dikalangan umat manusia. Janganlah menerima tawaran syaitan untuk memberi jasa bantuan, atau pemberiannya sama sekali. Karena hal itu sama dengan penerimaan tipu daya syaitan yang sangat lembut.

     

    26.   Apabila jin mengaku tidak bisa keluar karena diikat, maka ajaklah masuk islam dengan baik-baik, dan katakan bahwa dengan masuk islam, maka kita bisa menghancurkan ikatan-ikatan tukang sihir itu dengan ayat-ayat Allah dan doa-doa yang diajarkan Rasulullah. Dengan demikian kita bisa melawan tukang-tukang sihir yang jahat dengan berlindung kepada Allah.

     

    27.   Lanjutkan ruqyah dengan membacakan bacaan-bacaan ruqyah dari hadits-hadits nabi.

     

    28.   Setelah selesai minumkan seduhan susu campur madu. Seduhan ini untuk memulihkan stamina pasien setelah diruqyah dan jika pasiennya ada gangguan jin, maka seduhan ini untuk membantu agar pasien setelah meminumnya kemudian memuntahkan lagi, sebagai salah satu sarana keluarnya jin dari tubuh pasien.

     

    29.   Janganlah kita memikirkan kemana larinya syaitan-syaitan itu, dan janganlah takut dalam menghadapi serangang sihir. Apabila kita selalu mengamalkan doa perlindungan, cukuplah Allah bagi kita sebagai sebaik-baik penolong dan pelindung kita.

     

    30.   Air yang di botol mineral, 1 botol untuk diminumkan setiap hari 1 gelas, 1 botol  lagi untuk dimandikan.

     

     

     

     

     

    G.   Penanganan Pasca Ruqyah

     

     

    Untuk ruqyah karena gangguan non medis, maka ada beberapa hal yang perlu dipehatikan sebagai bentuk penanganan pasca ruqyah.

     

    1.      Meningkatkan kualitas aqidah (keimanan) dan ibadahnya.

     

    2.      Bersihkan rumah dari lukisan dan patung makhluk hidup yang merupakan tempat tinggal jin.

     

    3.      Jika memiliki benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan tertentu, baik berupa senjata atau tulisan-tulisan di atas kertas atau lempengan-lempengan logam bahkan ada yang menuliskannya pada sepatu kuda. Benda-benda seperti itu harus dimusnahkan.  Jika yang akan dimusnahkan adalah benda2: Dekatkan benda tsb ke mulut, bacakan ayat kursi atau (Al Falaq & An Naas), ludahi beberapa kali (sebagai tadzlil/penghinaan) lalu dibakar.

     

    4.      Meninggalkan amalan-amalan yang dianggap pengasihan, dan lain-lain.

     

    5.      Pasang ayat kursi di setiap ruangan.

     

    6.      Kamar mandi selalu terang.

     

    7.      Tanam pohon bidara di sekitar rumah.

     

    8.      Kumandangkan adzan dan iqamah di ruang tengah.

     

    9.      Shalat taubat. Bertaubat dari berbagai dosa.

     

    10.   Shalat hajat, hajatnya meminta perlindungan.

     

    11.   Makan dan minum dengan tangan kanan dan membaca basmallah.

     

    12.   Bekam di titik gangguan sihir yaitu di kepala. (Garibul Hadits).

     

    13.   Makan minimal satu butir kurma ‘ajwah.

     

    14.   Ruqyah diri sendiri, dengan cara:

     

    a)    Tatkala mau tidur membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas lalu  tiupkan pada kedua telapak tangan, kemudian usapkan ke seluruh tubuh terjangkau oleh kedua tangan. (HR. Al-Bukhari).

     

    b)    Letakkan tangan pada tempat yang terasa sakit, kemudian bacalah; “Bismillahi” tiga kali, dan bacalah; “A’uzu billahi wa qudrotihi min syarri ma ajidu wa uhadziru tujuh kali.” (HR. Muslim).

     

    15.   Pada waktu pagi dan sore, membaca doa-doa perlindungan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits.

     

    16.   Berdo’a menjelang tidur/bangun tidur serta doa-doa harian lainnya (seperti : doa masuk-keluar rumah, kamar mandi/wc, naik kendaraan, pasar, dan ke tempat-tempat wisata)

     

    17.   Baca dan atau dengarkan bacaan Al-Quran sesering mungkin.

    Usahakan selalu mengikuti pengkajian tentang Islam secara rutin. Sebaik-baik ‘Ruqyah’ adalah mempelajari Islam dengan baik, meyakininya dan mengamalkannya.

    Ruqyah Massal Gelombang 1

    Ahad, 24 April 2011

     

     

     

    Ruqyah Massal Gelombang 2,

    Ahad, 26 Juni 2011

     

     

     

    Ruqyah Massal Gelombang 3

    Ahad, 6 Januari 2013

     

    Ruqyah Massal Gelombang 4

    Jum’at, 11 Januari 2013

     

    Daftar & Alamat:

     

    Sistem Daftar Jam Kedatangan. Ketik: Daftar, Nama Lengkap, Rencana Jam Kedatangan, & Keluhan. Kirim ke 087874514060. Kalau ada rekam medis (Hasil Lab, CT Scan, Rontgen, dll) bisa dibawa.

     

    Alamat Praktek: Jl. Ciomas Permai, Bojong Sari No 49 Ciomas Bogor 16610.

     

    Call Center: 02519775822.

     

    SMS Center/WhatsApp/WeChat/ChatOn/Line/KakaoTalk: 087874514060.

     

    PIN BB: 3114AFAE

     

    Email/Twitter/YM/Facebook: therapy_centerku@yahoo.com

    http://www.therapy-centerku.com/mau-ruqyah/

Leave a Reply