• Pembangunan Masjid di Yunani Diprotes Ultra-Kanan

    TEMPO.CO, Athena – Sejumlah anggota Front Nasional, kelompok ultra-kanan, berunjuk rasa memprotes rencana pemerintahan Yunani membangun Masjid Agung di ibu kota Athena, Ahad, 26 Mei 2013.

    Dana pembangunan tempat ibadah umat Islam ini akan diambil dari anggaran negara sebesar kurang lebih satu juta euro atau sekitar Rp 12,7 miliar. Menurut pemrotes, rencana tersebut harus dibatalkan karena negara sedang dilanda krisis keuangan. Namun demikian, pembangunan tetap berjalan sesuai rencana yang akan dimulai tahun depan.

    Para pengunjuk rasa yang terserak di jalanan pada Ahad, 26 Mei 2013, termasuk seorang perempuan bertelanjang badan, mengibar-kibarkan bendera Yunani sembari berteriak-teriak. “Kami tidak ingin ada syariah (hukum Islam). Kami ingin Yunani dan Ortodoks.” Suara lantang lainnya, “Tidak boleh untuk masjid, berikan uang itu untuk (pembangunan) sekolah.”

    Emmanouil Konstas, Sekretaris Jenderal Front Nasional, mengatakan rencana pembangunan pusat kegiatan agama itu sesungguhnya tidak bisa diterima. Menurut dia, pemerintah seharusnya menahan diri untuk tidak melayani agama para kaum imigran sementara saat ini negara dalam keadaan krisis.

    “Bagaiamana pun juga, rencana tersebut tidak bisa diterima,” kata Konstas. Dia melanjutkan, “Agama yang dianut oleh ratusan ribu imigran gelap seharusnya tidak menjadi perhatian pemerintah. Mereka justru harus diusir sejak mereka datang ke sini secara ilegal. Dan, bagi mereka yang datang ke sini secara legal, pemerintah cukup menyediakan tempat salat bagi mereka.”

    Dalam kondisi krisis seperti ini, kata Konstas, keputusan pemerintah yang ngotot menghabiskan uang negara untuk pembangunan  masjid jelas tidak bisa diterima.

    Athena adalah satu-satunya ibu kota negara anggota Uni Eropa yang tidak memiliki masjid agung. Warga setempat (Athena) yang turut dalam unjuk rasa jalanan mengatakan mereka takut umat Islam dapat menambah angka pengangguran. Menurut mereka, kaum imigran yang memasuki Yunani berasal dari bangsa-bangsa di Laut Tengah secara ilegal. Kaum itu melakukan kejahatan di lingkungan warga.”

    AL JAZEERA | CHOIRUL

    sumber : tempo.com

Leave a Reply