• SEMARAK IDUL ADHA 1433 H

    (Arman / Staff Departemen Media Cetak LDK Al Hurriyyah IPB/087883358059)

     

    “Sungguh, Kami telah Memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhan-mu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah). (QS. Al Kautsar:1-3)”

     

                Kabar gembira bagi kita yang telah di bawakan Nabi Muhammad saw berupa kenikmatan yang besar yakni “al kautsar”, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya bahwa al-kautsar adalah nama telaga di surga.  yang mana, kehebatan sungai tersebut adalah, barang siapa yang meminum darinya maka tidak akan dahaga selama lamanya. Tentu hal ini menjadi kabar gembira bagi kita semua, karena ummat Muhammad pun bisa menikmati al-kautsar, dengan catatan mengikuti laku-lampah Rasulullah saw. Di antara yang disebut di dalam ayat diatas adalah fashalli dan wanhar, dengan shalat dan berqurban.

                Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Kabar bahagia itu telah datang kepada kita,bahkan bukan saja hanya kita tapi kaum muslimin dari berbagai belahan dunia yang dipertemukan dalam sebuah jamaah untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua mengenakan pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni melaksanakan haji.

    Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha yang di dalamnya terdapat anjuran, yakni melaksanakan solat sunnah dua rakaat serta anjuran utuk menyembelih hewan qurban. Lantunan takbir menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak bermuhasabah  bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.

                Mari sejenak kita telaah sejarah. Anjuran berqurban ini bermula dari kisah penyembelihan Putera terkasih Ibrahim as yakni Ismail as. Buah hati yang sebelumnya di iadam-idamkan Nabi ibrahim as ini akan diminta kembali oleh Allah. Nabi Ibrahim dihadapkan pada dua pilihan yang sulit  antara melaksanakan perintah Tuhan yaitu agar menyembelih putranya atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak melaksanakan perintahNya. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Allah pun dilaksanakan. pada akhirnya Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba.

                Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani. Di samping itu, ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari kisah ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.

                Penyembelihan hewan Qurban dianjurkan bagi kita yang mampu melaksanakannya.karena pada dasarnya penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat tradisi,sedangkan kesalehan sosial karena kurban juga mempunyai makna  kemanusiaan.

                Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan dianjurkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan  terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial.

    Selamat hari raya idul Adha ! Semarak IPB Berqurban!

Leave a Reply