• Wanita itu Cantik dan Terhormat dengan Hijab

    Bismillahirrahmanirrahim..

    Semoga cinta dan kasih sayang Allah senantiasa tercurahkan kepada kita semua, makhluk-Nya yang telah dipercaya untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.Amiin..

    Saudaraku, tulisan ini dibuat karena rasa cinta dan sayangku pada kalian. Mari sejenak kita renungi firman Allah dalam ayat cinta-Nya

    “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An-Nur: 31)

    Pada ayat yang lain, Allah juga berfirman:

    “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

    Saudaraku yang dirahmati oleh Allah SWT, dua ayat di atas menggambarkan bagaimana urgensinya kita para muslimah untuk berhijab. Berhijab disini yang dapat dilakukan oleh para muslimah adalah dengan menutup aurat kita, salah satunya adalah dengan berjilbab. Perintah berjilbab inipun telah ada sejak zaman Rosulullah SAW. “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

    Ketika kita cermati, trend berjilbab masa kini tengah dipengaruhi oleh mode hingga akhirnya aturan berjilbab yang syar’i pun tak diindahkan. Berjilbab, tapi lekuk tubuhnya masih nampak. Berjilbab, tapi rambutnya masih kemana-mana. Berjilbab, tapi dibuat se-mini mungkin. Hal itu terjadi akibat ketidakpahaman akan urgensi atas perintah yang Allah turunkan. Maka dari itu, untuk meminimlisir terjadinya kesalahan dalam berhijab, dibutuhkan peran orang tua terutama seorang ibu yang merupakan madrasah pertama bagi putra-putrinya. Memanfaatkan momen-momen tertentu seperti halnya ramadhan, merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengajarkan islam kepada anak-anak. Selain itu, dapat pula dengan cara mendesain baju seragam keluarga yang islami dan mengenakannya secara bersama dalam momen-momen tertentu yang dianggap spesial. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan adalah orang tua bertindak sebagai seorang yang mengenalkan, bukan sosok yang justru memaksa hingga akhirnya anak-anak menjadi enggan berhijab. Selain itu lingkungan sekitar pun turut mendukung gaya hidup sesorang. Potensi Indonesia menjadi trendsetter busana muslim dunia sebagaimana yang dipaparkan dalam suatu acara TV swasta, perlu dimanfaatkan agar kita dapat tetap mengenalkan cara berbusana yang syar’i namun fleksibel dapat digunakan pada aktivitas sehari-hari. Jangan sampai westernisasi yang justru menguasai dan masuk ke dalam jati diri generasi muslim masa kini.

    Dalam buku Fiqh Wanita karangan Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah dijelaskan dalam bab Berhias sub bab Perintah berhijab, bahwa terdapat beberapa syarat yang tanpanya hijab itu tidak sah, yaitu:

    a. Hijab itu harus menutupi seluruh badan kecuali wajah dan dua telapak tangan, yang dikenakan ketika memberikan kesaksian maupun shalat

    b. Hijab itu bukn dimaksudkan sebagai hiasan bagi dirinya, sehingga tidak diperbolehkan memakai kain yang berwarna mencolok, atau kain yang penuh gambar dan hiasan

    c. Hijab itu harus lapang dan tidak sempit sehingga tidak menggambarkan postur tubuhnya

    d. Hijab itu tidak memperlihatkan sedikitpun bagian kaki wanita

    e. Hijab yang dikenakan itu tidak sobek sehingga tidak menampakkan bagian tubuh atau perhiaan wanita.Dan juga tidak boleh menyerupai pakaian laki-laki.

    Yakinlah, bahwa dengan berjilbab, aktivitas kita tidak akan terganggu dan bahkan dapat menjadi nilai plus dari diri kita. Karena hakikatnya hijab adalah identitas seorang muslim, yang membedakan kita dengan golongan lainnya.

Leave a Reply